JAKARTA, KOMPAS.com – Di tengah terik matahari dan deru kendaraan yang lalu lalang, seorang ibu dua anak bernama Fitriyani (30) terlihat sibuk mengatur lalu lintas di perempatan depan Stasiun Ancol, Jalan RE Martadinata, Jakarta Utara.
Dengan wajah bersolek, kaus hitam, dan celana jeans, Fitriyani tampak lihai mengatur kendaraan di jalan yang didominasi kendaraan berat seperti kontainer, truk trailer, dan mobil boks.
Tubuhnya yang mungil tak ragu menghadang kontainer yang melaju kencang dari arah Jakarta International Stadium (JIS) menuju Pademangan agar berhenti sejenak di perempatan depan Stasiun Ancol, memberi kesempatan pengendara sepeda motor untuk menyeberang lebih dulu.
Baca juga: DPRD DKI Minta Tarif Parkir Valet Dibatasi, Maksimal Rp 50.000
Tak jarang, tubuhnya bergetar kaget mendengar klakson keras dari truk trailer yang tak sabar jalannya dihalangi.
Meski begitu, Fitriyani tak pernah menyerah menjalani pekerjaannya sebagai juru parkir demi menyambung hidup.
Berpisah dengan suamiPerempuan berambut panjang lurus itu mengaku telah bekerja sebagai juru parkir di perempatan Ancol selama dua tahun terakhir.
Sebelumnya, ia adalah ibu rumah tangga (IRT) yang mengurus rumah, suami, dan kedua anaknya.
Baca juga: Pansus Perparkiran DKI Soroti Tarif Parkir Valet di Jakarta, Ada yang Capai Rp 250.000
Namun, kondisi berubah ketika rumah tangganya tak lagi bisa dipertahankan karena satu dan lain hal.
Ia terpaksa meninggalkan rumah yang selama ini menjadi tempat berlindung, sementara kedua anaknya diasuh oleh mantan suami.
Sejak itu, Fitriyani harus melanjutkan hidup seorang diri, termasuk mencari penghasilan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Untuk tempat tinggal, ia menumpang di rumah kakaknya yang juga merupakan single parent dan harus menghidupi anak-anaknya.
Baca juga: Pendapatan Parkir di Blok M Diduga Bocor, Potensi Kerugian Rp 45 Miliar
Kakak Fitriyani pun bekerja sebagai juru parkir di depan Stasiun Ancol demi mencari nafkah.
Tak memiliki pengalaman kerja lain, Fitriyani akhirnya ikut bekerja sebagai juru parkir hingga saat ini.
Pendapatan per hariMeski harus berpanas-panasan di bawah terik matahari dan berdiri di tengah jalan, Fitriyani bersyukur masih memiliki penghasilan, meski tidak menentu.
"Ya dibilang pendapatannya enggak tentu juga. Kadang kalau dihitung-hitung semua full kalau enggak dipakai beli es, beli apa gitu yang lain, ya sampai Rp 200.000 atau Rp 250.000," ungkap dia.





