Habis Gelap, Terang Tak Kunjung Datang

kumparan.com
8 jam lalu
Cover Berita

Tanggal 21 April selalu punya suasana yang sama. Rapi. Seragam. Penuh warna. Dan—anehnya—dangkal. Nama Raden Ajeng Kartini kembali disebut. Seperti nama jalan: sering dilewati, jarang dipahami.

Kebaya dipakai. Sanggul dipasang. Lalu foto. Selfi. Lalu unggah. Lalu selesai. Padahal Kartini tidak memperjuangkan kebaya. Ia melawan gelap—yang jauh lebih tebal dari sekadar kain. Kartini tidak memperjuangkan seremoni. Ia melawan cara berpikir yang membatasi.

Setiap tahun, kita merayakan hari Kartini dengan cara yang sama: simbol, seremoni, dan minim refleksi. Kita hafal kebayanya, tapi lupa pikirannya. Kita ingat tanggalnya, tapi mengabaikan pesannya. Kita lebih nyaman meniru penampilannya daripada melanjutkan perjuangannya.

Kartini dulu menulis dari ruang sempit, dari dunia yang membatasi geraknya. Ia tidak punya panggung, tidak punya mikrofon, tidak punya algoritma. Tapi ia punya sesuatu yang sekarang terasa langka: kegelisahan yang jujur, dan keberanian untuk melawan. Sekarang? Kita punya segalanya—kecuali keberanian itu.

Yang menarik, dulu pembatas itu sering dibungkus adat. Sekarang—kadang—dibungkus agama. Bukan agamanya yang salah. Tapi tafsirnya yang sering dipersempit. Masalahnya bukan pada agamanya. Tapi pada siapa yang memegang tafsirnya.

Dalam Islam, perempuan tidak pernah dilarang berpikir, belajar, atau berperan. Nabi Muhammad justru membuka ruang itu. Perempuan seperti Aisyah binti Abu Bakar menjadi rujukan ilmu. Ada juga Khadijah binti Khuwailid—pengusaha sukses, penopang dakwah. Dan Fatimah binti Muhammad—simbol keteguhan dan kecerdasan. Artinya: terang itu sudah ada sejak awal. Tapi entah kenapa, di tangan kita, ia berubah jadi redup.

Masih ada yang bilang: perempuan tak perlu sekolah tinggi, nanti mereka susah diatur. Masih ada yang khawatir perempuan terlalu mandiri. Masih ada yang lebih sibuk “mengatur” daripada “memberdayakan”. Semua terasa sah—karena dibungkus dalil. Padahal sering kali, itu lebih dekat ke budaya lama yang enggan mati.

Kita bilang Islam memuliakan perempuan. Itu benar. Tapi kemuliaan itu tidak akan terasa kalau aksesnya tetap ditutup, kalau pikirannya tetap dibatasi, kalau suaranya tetap dianggap ancaman.

Kartini dulu melawan gelap yang nyata. Hari ini, kita menghadapi gelap yang lebih halus: cara berpikir yang merasa sudah terang, padahal belum. Lebih berbahaya. Karena tidak terasa.

Selamat Hari Kartini. Kita masih menunggu terang itu benar-benar datang.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
KPK: 25 Persen Kasus Korupsi Berkaitan dengan Pengadaan Barang dan Jasa
• 9 jam lalukompas.com
thumb
MBG Bantu Stabilkan Harga Sayur di Boyolali
• 19 jam lalutvrinews.com
thumb
Profil Haneul KISS OF LIFE, Member Grup K-Pop yang Dijuluki Boss Baby dan Kuasai 3 Bahasa!
• 10 jam lalugrid.id
thumb
AS Batasi Intelijen Soal Korut Gegara Komentar Menteri Korsel
• 3 jam laludetik.com
thumb
Sistem Otonom Tesla Ambil Alih Kemudi, Pria Ini Nyaris Dilindas Kereta
• 16 jam lalucnbcindonesia.com
Berhasil disimpan.