Harga Emas dan Perak Terombang-Ambing Perang, Kepercayaan Sudah Runtuh

cnbcindonesia.com
7 jam lalu
Cover Berita
Foto: Zlaťáky.cz/Pexels

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga setelah konflik di Timur Tengah kembali memanas yang mendorong harga minyak melonjak tajam dan meningkatkan kekhawatiran inflasi.

Merujuk Refinitiv, harga emas pada penutupan perdagangan kemarin, Senin (20/4/2026) dibanderol di US$ 4819,64 atau turun 0, 18%.

Harga emas mulai membaik hari ini. Pada Selasa (21/4/2026) pukul 06.19 WIB, harga emas ada di posisi US$ 4825 per troy ons atau menguat 0,11%.

Dalam eskalasi terbaru, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan Angkatan Laut AS menembaki dan menyita kapal kargo berbendera Iran setelah kapal itu mengabaikan peringatan untuk berhenti saat meninggalkan Hormuz.

Teheran juga menargetkan kapal-kapal lain dan kembali menegaskan kendali atas selat tersebut, dengan alasan blokade AS terhadap kapal terkait Iran melanggar perjanjian gencatan senjata.

Sementara itu, Trump menyatakan masih ada peluang tercapai kesepakatan menjelang putaran baru perundingan di Pakistan, meski Iran menilai peluang itu sangat kecil.

Konflik berkepanjangan telah memicu guncangan pasokan energi bersejarah, meningkatkan risiko inflasi dan memperbesar kemungkinan bank sentral kembali menaikkan suku bunga, yang menekan harga emas. Sejak perang dimulai, logam mulia ini masih turun hampir 10%.

"Harga emas lebih rendah hari ini setelah gencatan senjata perang AS-Iran yang dirayakan pasar pekan lalu tampaknya mulai runtuh," kata Ilya Spivak, kepala makro global di Tastylive, dikutip dari Reuters.

"Hal itu menghidupkan kembali dinamika 'war trade' yang sudah akrab sejak awal konflik. Harga minyak mentah naik, yang mendorong ekspektasi inflasi dan menaikkan imbal hasil obligasi serta dolar AS." Imbuhnya.

Indeks dolar AS menguat lagi sehingga membuat emas yang dikonversi dalam dolar menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lain. Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun sehingga membuat emas yang tidak menawarkan imbal hasil kurang menarik.

Baca: Gang Rusia-China Borong Emas Gila-Gilaan, Misi Hancurkan AS Dimulai!

Harga emas telah turun sekitar 8% sejak AS dan Israel melancarkan serangan ke Iran pada akhir Februari, karena kekhawatiran harga energi yang lebih tinggi akan memicu inflasi dan membuat suku bunga global tetap tinggi lebih lama.

Meski emas dikenal sebagai lindung nilai terhadap inflasi, suku bunga yang lebih tinggi menekan permintaan terhadap aset yang tidak memberikan imbal hasil tersebut.

Sementara itu, permintaan emas selama salah satu festival belanja utama di India tetap lesu pada Minggu karena harga yang mencetak rekor menekan pembelian perhiasan, sehingga menutupi kenaikan tipis permintaan investasi.


(mae/mae) Add as a preferred
source on Google

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Balas Penyitaan Kargo, Iran Gempur Sejumlah Kapal AS dengan Serangan Drone
• 23 jam lalumetrotvnews.com
thumb
IBK Nitro Perkuat Sinergi Global, Siapkan Kolaborasi ICon-FiBank 2026 dan Pengabdian Masyarakat di Maros
• 17 jam laluharianfajar
thumb
Kemensos dukung percepatan pembangunan sekolah rakyat di Sulteng
• 9 jam laluantaranews.com
thumb
Menilik Taktik Bank Jago (ARTO) 5 Tahun Kembangkan Aplikasi Investasi - Menabung
• 7 jam lalukatadata.co.id
thumb
Kisah Kartini Perjuangkan Kesetaraan Hak Perempuan hingga Harus Rela Jadi Istri ke-4 Bupati
• 6 jam lalurctiplus.com
Berhasil disimpan.