Investasi Rp 1,3 Triliun, Toyota Perkuat Ekosistem Baterai EV

kompas.id
12 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, KOMPAS Produsen otomotif Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) bekerja sama dengan perusahaan baterai global asal China, Contemporary Amperex Technology Co. Limited (CATL) untuk mengembangkan produksi baterai kendaraan elektrik di Indonesia. Investasi untuk proyek itu sekitar Rp 1,3 triliun.

Kerja sama itu diumumkan dalam acara TMMIN Supplier Convention & Award Presentation di Nice Convention Exhibition, di Pantai Indah Kapuk 2, Tangerang, Banten, Senin (20/4/2026). Acara ini dihadiri Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto; jajaran pimpinan TMMIN; dan Ni Zheng, perwakilan CALT.

Kerja sama TMMIN dan CALT merupakan tindak lanjut dari pertemuan antara Presiden Prabowo Subianto dan jajaran Toyota di Tokyo pada Maret lalu.

Presiden Direktur Toyota TMMIN Nandi Julyanto mengatakan, kolaborasi dengan CALT menandai babak baru dalam pengembangan ekosistem kendaraan listrik nasional, khususnya pada segmen hybrid electric vehicle (HEV).

“Harapan kami kolaborasi ini akan memberikan dampak positif bagi bangsa Indonesia, dalam memperkuat daya saing rantai pasok nasional, mendorong industri hilirisasi, pertumbuhan ekonomi nasional, meningkatkan nilai kandungan lokal dan ketahanan energi. Seluruhnya itu sejalan dengan visi pembangunan nasional, Asta Cita,” kata Nandi.

Baca JugaOtomotif Bangkit, tetapi Masih Tertatih

CATL merupakan produsen baterai dan perusahaan teknologi asal China yang didirikan pada 2011. Perusahaan ini memproduksi baterai ion litium untuk kendaraan listrik dan sistem penyimpanan energi, serta sistem manajemen baterai.

Melalui kemitraan ini, komponen inti baterai seperti sel dan modul yang selama ini masih diimpor akan diproduksi secara lokal oleh tenaga kerja Indonesia. Rencananya, produksi akan dimulai pada paruh atau semester kedua 2026.

Inisiatif ini juga menjadi langkah awal bagi TMMIN sebagai anak perusahaan Toyota pertama di Asia Tenggara, yang akan mengekspor baterai ke pasar global.

Nandi menegaskan, pendekatan multipathway tetap menjadi strategi utama Toyota dalam mendorong transisi energi di sektor transportasi.

Multipathway yaitu pendekatan (Toyota) komprehensif untuk mencapai netralitas karbon melalui pilihan teknologi kendaraan yang disesuaikan dengan kebutuhan pelanggan, infrastruktur, dan sumber energi di berbagai wilayah

Melalui pendekatan ini, kata Nandi, perusahaan menghadirkan beragam teknologi, mulai dari kendaraan hibrida atau hybrid Electric Vehicle (HEV), kendaraan listrik berbasis baterai/Electric Vehicle (BEV), hingga pengembangan teknologi HEV flexy fuel vehicle berbasis bioetanol.

Dalam beberapa tahun terakhir, Toyota Indonesia telah memperkuat basis produksi kendaraan elektrifikasi di dalam negeri. Sejumlah model seperti Kijang Innova Zenix Hybrid, Yaris Cross Hybrid, dan Veloz Hybrid telah diproduksi secara lokal dengan dukungan fasilitas produksi baterai di Karawang. Selain itu, produksi lokal kendaraan listrik murni bZ4X juga telah dimulai sejak tahun lalu.

Hingga kini, Toyota telah memproduksi lebih dari 10 juta unit kendaraan di Indonesia, dengan sekitar 3 juta unit di antaranya diekspor ke lebih dari 100 negara. Kontribusi tersebut ditopang investasi kumulatif lebih dari Rp 100 triliun, penyerapan tenaga kerja mencapai 360.000 orang, serta tingkat kandungan lokal yang telah mencapai sekitar 80 persen.

Baca JugaIndonesia Pemain Penting Industri Otomotif Dunia
Jangka panjang

Wakil Presiden Direktur TMMIN Bob Azam mengatakan, kolaborasi yang terjalin merupakan bagian dari realisasi strategi investasi jangka panjang untuk memperkuat industri otomotif Indonesia, baik untuk pasar domestik maupun ekspor. Laporan terkait perkembangan investasi tersebut juga telah disampaikan kepada pemerintah melalui Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM).

Ia menjelaskan, penguatan daya saing industri melalui pengembang komponen baterai tidak dilakukan secara parsial, melainkan melalui kolaborasi lintas negara seperti China, Indonesia, dan Jepang. Hal ini demi meningkatkan daya saing industri otomotif dalam negeri.

Terkait harga kendaraan, Bob menilai faktor tersebut lebih ditentukan oleh mekanisme pasar dibandingkan proses produksi semata. Produsen berfokus pada aspek manufaktur, sementara harga jual akan mengikuti dinamika permintaan dan persaingan.

“Harga jual itu masalah market. Kalau kita kan manufacturing, kita bikin (produksi),” ujarnya.

Baca JugaBBM Kian Sering Gonjang-ganjing, Dekarbonisasi Otomotif Makin Urgen

Ni Zheng selaku Executive President of Japan Business Group CATL yang hadir sebagai perwakilan CALT global, menegaskan, pihaknya akan berkerja sama untuk mengatasi tantangan teknologi, memastikan proses produksi, hingga kontrol kualitas untuk mencapai kebutuhan dari Toyota.

“Kami akan membangun ekosistem baterai yang lebih lokal, berkelanjutan, dan berkontribusi kepada transisi energi baru,” ujarnya.

Perkuat daya saing

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan, komitmen investasi pembangunan baterai senilai sekitar Rp 1,3 triliun menjadi langkah strategis dalam mempercepat pengembangan industri baterai nasional.

“Program elektrifikasi kita dorong untuk meningkatkan penggunaan baterai di dalam negeri. Ini tentu kita apresiasi,” ujarnya.

Menurut dia, sejumlah pelaku industri otomotif yang telah lama beroperasi di Indonesia juga menunjukkan kemajuan dalam peningkatan kandungan lokal. Toyota, misalnya, disebut telah mencapai tingkat kandungan lokal hingga sekitar 80 persen pada beberapa produknya.

Penguatan tingkat komponen dalam negeri (TKDN), lanjut Airlangga, menjadi kunci untuk mengurangi ketergantungan impor sekaligus menciptakan ekosistem industri yang berkelanjutan.

Kebijakan TKDN yang selama ini diterapkan telah menunjukkan hasil positif dalam memperkuat industri domestik. Kebijakan tersebut akan terus dilanjutkan sebagai bagian dari strategi industrialisasi.

Baca JugaKendaraan Niaga Tunjukkan Daya Saing Tinggi

Seiring meningkatnya TKDN, pemerintah menegaskan berbagai insentif tetap diberikan guna menjaga iklim investasi dan daya tarik industri otomotif nasional.

Selain itu, pemerintah tengah menyiapkan kebijakan national card untuk menciptakan kesetaraan level playing field antara produk baru dan produk yang telah lebih dulu ada di pasar.

Airlangga menekankan, industri otomotif nasional memiliki kontribusi signifikan terhadap penciptaan lapangan kerja, terutama melalui rantai pasok berlapis dari tier 1 hingga tier 3.

“Ini menunjukkan industri otomotif dan komponennya memiliki daya saing global,” ujarnya.

Meski demikian, persaingan global dinilai semakin ketat. Dalam sejumlah pembahasan, Indonesia dihadapkan pada kompetitor utama seperti India dan Tiongkok. Oleh karena itu, pelaku industri di seluruh lapisan diminta terus berinovasi untuk menghasilkan produk yang kompetitif di pasar global.

“Tingkat daya saing Indonesia saat ini salah satunya dibandingkan dengan India. Ini harus menjadi perhatian,” kata Airlangga.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Sederet Tantangan Mengadang Akselerasi Proyek Gas Jumbo RI
• 11 jam lalubisnis.com
thumb
Pria di Brebes Digigit Ular Viper Saat Cari Rumput, Kaki Melepuh
• 14 jam laludetik.com
thumb
Kenapa Mengubur Ikan Sapu-Sapu Hidup Hidup Salah?
• 1 jam lalukatadata.co.id
thumb
Kronologi Uya Kuya Dituding Punya 750 Dapur MBG, Akhirnya Polisikan Penyebar Fitnah
• 5 jam lalugrid.id
thumb
Pelanggaran Pengelolaan Sampah Masuk Penyidikan, Pejabat Daerah Terancam Penjara
• 4 jam lalukatadata.co.id
Berhasil disimpan.