Ketika Eks Petinggi Google Bersaksi Demi Ringankan Nadiem Makarim...

kompas.com
11 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, KOMPAS.com - Sejumlah mantan petinggi Google Asia Pasifik buka suara untuk membantah dakwaan Jaksa Penuntut Umum (JPU) terhadap Eks Mendikbudristek Nadiem Makarim dalam kasus dugaan korupsi pengadaan laptop berbasis Chromebook.

Ada tiga eks petinggi Google yang dihadirkan menjadi saksi meringankan Nadiem. Mereka adalah Scott Beaumont selaku President of Google Asia Pacific, Caesar Sengupta selaku Mantan Wakil Presiden Google, dan William Florence selaku Kepala Divisi Pelatihan Developer.

Bantah rapat langsung teken pengadaan

Salah satu hal yang banyak dibahas dalam sidang Senin (20/4/2026) ini adalah terkait dengan rapat pada Februari 2020.

Saat itu Nadiem baru beberapa bulan dilantik sebagai Mendikbud dan dia mengadakan rapat dengan Google untuk berkenalan dan membahas beberapa hal.

Baca juga: Eks Petinggi Google Ungkap Pertemuan dengan Nadiem, Tidak Ada Kesepakatan Pakai Chromebook

Scott Beaumont menekankan, pertemuan itu awal perkenalan tim kementerian dengan pihak Google. Meski begitu, Scott memang sudah lebih dahulu mengenal Nadiem.

“Seingat saya, Februari adalah rapat awal untuk mendiskusikan dengan menteri dan timnya bersama dengan tim dari Google untuk membahas proyek terkait edukasi,” ujar Scott yang dihadirkan secara daring dalam sidang di Pengadilan Tipikor Jakarta, Senin.

Shela Octavia 3 Petinggi Google dihadirkan melalui Zoom Meeting untuk jadi saksi meringankan untuk Eks Mendikbudristek Nadiem Makarim dalam sidang kasus dugaan korupsi pengadaan laptop berbasis Chromebook di Pengadilan Tipikor Jakarta, Senin (20/4/2026)

Sebagai Presiden dari Google Asia Pasifik periode 2019-2024, Scott mengatakan, dia punya kepentingan untuk mewakili kepentingan Google pada kawasan Asia Pasifik.

Dia sering diundang untuk bertemu dengan pihak pemerintah untuk membahas beberapa hal. Jadi, bukan hanya Nadiem yang dia pernah temui.

“Saya sering diundang oleh tim lokal atau bahkan pihak kementerian sendiri untuk mewakili Google,” kata Scott.

Baca juga: Eks Petinggi Google Bantah Sudah Teken Kerja Sama dengan Kemendikbud Sebelum Pengadaan Chromebook

Berhubung dia baru menjabat pada tahun 2019, Nadiem merupakan salah satu menteri Indonesia pertama yang ditemuinya.

Scott membantah, rapat itu langsung ada perjanjian bakal ada kerja sama pengadaan Chromebook.

“Apakah dalam rapat di bulan Februari (2020), Nadiem memberikan penjelasan bahwa nanti kementerian akan membeli Chromebook dalam jumlah yang banyak?” tanya Penasehat Hukum Nadiem, Radhie Noviadi Yusuf.

“Sama sekali tidak,” jawab Scott.

KOMPAS.com/BILL CLINTEN President Google Asia Pacific, Scott Beaumont dalam acara virtual Google for Indonesia 2021, Kamis (2/12/2021).

Hal serupa disampaikan oleh Eks Petinggi Google sekaligus mantan Ketua Tim Pengembang Chromebook, Caesar Sengupta.

Caesar membantah, pada rapat Februari 2020 sudah ada kesepakatan antara Google dengan Nadiem kalau Kemendikbud akan membeli Chromebook dalam jumlah banyak.

“Tidak pernah ada kesepakatan seperti itu dan saya sama sekali tidak setuju dengan tuduhan tersebut,” kata Caesar.

Baca juga: Cerita Eks Pejabat Google Pesimistis Usai Rapat dengan Nadiem Bahas Chromebook

Caesar sempat memimpin tim pengembangan Chromebook pada periode 2012-2014. Setelah itu, dia pindah mengembangkan produk lain.

Dia diminta Scott untuk hadir dalam rapat Februari 2020 untuk menjelaskan Chromebook kepada tim Nadiem.

Waktu itu Caesar menjawab banyak pertanyaan dari Nadiem dan timnya.

“Tim kementerian banyak pertanyaan terkait Google for Education dan terkait Chromebook. Mereka juga menjelaskan visinya untuk digitalisasi dan peningkatan sistem edukasi di Indonesia,” jelas Caesar.

Yudha Pratomo/KompasTekno Caesar Sengupta, Vice President Next Billion Users Team Google

Dalam rapat itu, pihak Google diminta untuk memaparkan apa yang bisa dilakukan Google untuk membantu Kemendikbud mencapai visi mereka dalam memodernisasi sistem pendidikan di Indonesia.

Google sempat pesimis usai rapat

Scott menyampaikan, dia sempat merasa pesimis usai rapat Februari 2020 selesai diadakan.

.ads-partner-wrap > div { background: transparent; } #div-gpt-ad-Zone_OSM { position: sticky; position: -webkit-sticky; width:100%; height:100%; display:-webkit-box; display:-ms-flexbox; display:flex; -webkit-box-align:center; -ms-flex-align:center; align-items:center; -webkit-box-pack:center; -ms-flex-pack:center; justify-content:center; top: 100px; }

“Kami sebetulnya merasa cukup pesimis usai rapat itu,” kata Scott.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Industri Kripto Indonesia Makin Matang, Pintu Catat Pertumbuhan Pengguna
• 20 jam lalurepublika.co.id
thumb
Bukan Sekadar Melepas, Ini Adab dan Doa Mengantar Calon Jemaah Haji
• 19 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Pigai Minta Pelaku Penembakan 22 Warga di Puncak Menyerahkan Diri, Jangan Sembunyi
• 16 jam lalujpnn.com
thumb
Minyak Rusia Jadi Alat Tawar, Hungaria Tekan Ukraina dan Uni Eropa
• 18 jam lalurepublika.co.id
thumb
Plastik yang Menolak Mati
• 3 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.