Penulis: Lidya Thalia.S
TVRINews, Jakarta
Di tengah hiruk pikuk ibu kota, semangat emansipasi perempuan tak selalu hadir dalam bentuk panggung besar atau jabatan tinggi. Bagi Endang Guniase (44), seorang pedagang minuman kaki lima, perjuangan itu justru dijalani setiap hari di trotoar, dari pagi hingga malam.
Endang memulai harinya dengan pekerjaan rumah tangga, mulai dari mencuci hingga menyiapkan kebutuhan anak. Setelah itu, ia berangkat berjualan untuk memenuhi kebutuhan keluarga.
“Sehari-hari ya seperti ini, pagi urus rumah, lalu berangkat jualan. Kalau tidak jualan, tidak ada pemasukan,”ujar Endang dalam keterangan yang diterima tvrinews di Jakarta, Selasa, 21 April 2026.
Dalam sehari, Endang mengaku bisa memperoleh penghasilan sekitar Rp50 ribu hingga Rp70 ribu. Namun, saat ada acara tertentu, pendapatannya bisa meningkat. Dalam kondisi ramai, ia bisa membawa pulang hingga Rp200 ribu.
Ia biasa berjualan secara keliling di sejumlah titik, mulai dari kawasan perkantoran hingga pusat perbelanjaan. Pada malam hari, Endang kerap berpindah lokasi untuk mencari pembeli.
Menurutnya, tuntutan ekonomi semakin besar seiring anak-anak yang beranjak dewasa. Hal itu menjadi motivasi utama untuk terus bekerja keras.
“Anak-anak sudah besar, kebutuhan juga semakin banyak. Jadi harus tetap semangat cari nafkah,”jelasnya.
Bagi Endang, sosok Raden Ajeng Kartini bukan hanya identik dengan kebaya atau simbol perjuangan masa lalu. Ia memaknai Kartini sebagai semangat untuk terus bertahan dan berjuang demi keluarga.
“Buat saya, Kartini itu soal tetap berdiri di trotoar, dari pagi sampai malam, jualan demi keluarga. Yang penting dapur tetap mengepul dan anak-anak bisa sekolah setinggi mungkin,”tuturnya.
Ia berharap, kerja keras yang dijalani setiap hari dapat memberikan masa depan yang lebih baik bagi anak-anaknya. Bagi Endang, perjuangan sederhana itulah bentuk nyata emansipasi di masa kini.
Editor: Redaktur TVRINews




