Amerika Serikat (AS) telah membatasi sebagian pertukaran informasi intelijen satelit tentang Korea Utara (Korut) dengan Korea Selatan (Korsel). Pembatasan dilakukan menyusul komentar yang dilontarkan Menteri Unifikasi soal salah satu fasilitas nuklir Pyongyang, yang menuai protes Washington.
Komentar yang dipersoalkan AS itu, seperti dilansir AFP, Selasa (21/4/2026), dilontarkan oleh Menteri Unifikasi Korsel, Chung Dong Young, kepada parlemen Korsel bulan lalu.
Dalam komentarnya kepada para anggota parlemen Korsel, Chung mengatakan bahwa Korut diduga mengoperasikan situs untuk memperkaya uranium -- langkah kunci dalam pembuatan bom nuklir -- di wilayah Kusong, bagian barat laut Korsel.
AS, sekutu keamanan Korsel, menurut kantor berita Yonhap dan beberapa media lokal Korsel, melayangkan protes terhadap komentar Chung. Disebutkan bahwa komentar tersebut mengungkapkan informasi sensitif dari intelijen AS tanpa izin.
Laporan Yonhap menyebut Washington telah "membatasi" beberapa informasi satelit tentang Korut yang sebelumnya secara rutin dibagikan kepada Seoul.
Seorang pejabat militer Korsel yang enggan disebut namanya, seperti dikutip Yonhap, mengatakan bahwa pembatasan itu telah berlaku "sejak awal bulan ini" tetapi "tidak secara signifikan mempengaruhi kesiapan militer.
"Pengumpulan dan berbagi intelijen mengenai aktivitas militer Korea Utara berjalan normal antara otoritas Korea Selatan dan AS, seperti sebelumnya," sebut pejabat militer Seoul tersebut.
Kementerian Unifikasi dan Pertahanan Korsel menolak berkomentar tentang pembatasan yang dilaporkan tersebut. Pentagon belum menyampaikan konfirmasi.
(nvc/ita)





