Harga Minyak Naik, IHSG Masih Tertahan

tvrinews.com
6 jam lalu
Cover Berita

Penulis: Fityan

TVRINews – Jakarta

Ketegangan global bayangi gerak bursa saham dan sektor properti.

Pasar modal Indonesia diproyeksikan akan bergerak dalam rentang terbatas pada perdagangan Selasa 21 April 2026. 

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan masih berada dalam fase konsolidasi setelah pada penutupan sebelumnya terkoreksi 0,52% ke posisi 7.594,1.

Sentimen geopolitik kembali menjadi faktor utama yang membayangi gerak pasar. Laporan riset dari Phintraco Sekuritas menyoroti eskalasi ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran yang kembali memanas. 

Kondisi ini meredupkan optimisme pasar terkait pembukaan kembali akses strategis di Selat Hormuz dalam waktu dekat.

Dampaknya langsung terasa pada komoditas energi. Harga minyak mentah dunia merangkak naik, di mana jenis West Texas Intermediate (WTI) kini bertengger di level US$89 per barel, sementara varian Brent menyentuh US$95 per barel.

“Secara teknikal, kami memproyeksikan IHSG akan bergerak mendatar pada kisaran level 7.500 hingga 7.700 hari ini,” tulis tim analis Phintraco Sekuritas dalam catatan resminya.

Pada perdagangan awal pekan, seluruh sektor di bursa domestik mengalami kontraksi. Sektor properti mencatatkan performa terburuk dengan kejatuhan mencapai 2,04%.

Di sisi lain, nilai tukar Rupiah menunjukkan resiliensi yang menarik. Di tengah pelemahan mayoritas mata uang Asia, Rupiah di pasar spot justru ditutup menguat tipis 0,12% ke level Rp17.168 per dolar AS pada Senin 20 April. 

Penguatan ini dipicu oleh respon positif pelaku pasar terhadap kebijakan harga BBM nonsubsidi yang tetap stabil, sehingga dinilai mampu meredam tekanan fiskal pada APBN.

Sentimen Global dari Beijing dan London

Dari mancanegara, bank sentral China (PBoC) memilih jalan konservatif dengan mempertahankan suku bunga pinjaman utama (Loan Prime Rate) di level terendah selama 11 bulan berturut-turut. 

Suku bunga tenor satu tahun dipatok pada 3%, sementara tenor lima tahun tetap di angka 3,5%.

Langkah Beijing ini mencerminkan sikap waspada terhadap ketidakpastian global akibat konflik di Timur Tengah, meskipun data pertumbuhan ekonomi domestik China awal tahun ini menunjukkan performa yang solid dengan tekanan deflasi yang mulai melandai.

Kini, fokus investor global tertuju pada rilis data ketenagakerjaan Inggris yang diprediksi bertahan di level 5,2%. Selain itu, pasar juga menanti data penjualan ritel Amerika Serikat bulan Maret yang diperkirakan tumbuh signifikan sebesar 1,1% secara bulanan.

Editor: Redaktur TVRINews

Komentar
1000 Karakter tersisa
Kirim
Komentar

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Polri Buka Hotline, Masyarakat Bisa Adukan Penyelewengan BBM-Elpiji Subsidi
• 2 jam laludetik.com
thumb
Kalimat yang Sering Diucapkan Perempuan High Class Menurut Psikolog
• 5 jam lalubeautynesia.id
thumb
Pasukan UNIFIL Bergerak ke Lebanon Selatan Usai Insiden Tewasnya Prajurit Penjaga Perdamaian
• 7 jam lalukompas.tv
thumb
Bareskrim Panggil Tersangka Tambang Nikel Ilegal di Konawe 21 April
• 22 jam lalukumparan.com
thumb
PKB: UU PPRT tonggak perlindungan hukum pekerja rumah tangga
• 5 jam laluantaranews.com
Berhasil disimpan.