Sebelum nama Eko Nugroho dikenal di panggung seni internasional, ia masih seorang mahasiswa yang menghabiskan malam-malamnya membuat mural di dinding restoran ViaVia Jogja. Dengan tekun, ia bekerja dari jam 10.00 malam hingga subuh demi satu hal: kesempatan untuk memamerkan karyanya.
Kisah Eko dan seniman-seniman lainnya itulah yang kemudian mengemuka dalam Tricenarian 30th ViaVia Jogja, Artist Talk, Sabtu (11/4). Rangkaian perayaan 30 tahun ini menghadirkan sejumlah nama yang menjadi bagian dari perjalanan kreatif ViaVia Jogja, baik sebagai individu maupun. Di antaranya Eko Nugroho, Arahmaiani, Love Hate Love, Tamarra, Novi Kristinawati, Tina Wahyuningsih, serta Anagard.
Sejumlah kisah yang mengemuka dalam forum tersebut memperlihatkan bagaimana ViaVia menjadi titik awal bagi banyak praktik berkesenian. Di antaranya datang dari Eko Nugroho, Tamarra, dan Arahmaiani, yang sama-sama menapaki fase awal berkarya ketika ruang-ruang seperti ViaVia memberi kesempatan pertama untuk tampil.
Malam-malam di dinding Via Via
Eko masih ingat betul bagaimana rasanya diberi ruang itu. Bukan ruang pameran yang rapi, apalagi sebuah galeri lengkap dengan kuratornya. Ruang itu hanya berupa dinding di sebuah restoran.
"Dikasih ruangan bermain dan waktu itu saya mural ketika toko sudah tutup. Misalnya dari jam 10.00 malam sampai nanti jam 01.00, jam 02.00. Terus kalau nggak, nanti pagi-pagi banget," katanya saat ditemu tim Pandangan Jogja, Sabtu (11/4).
Tapi ia tidak mempersoalkan jam atau kelelahan. Yang ia ceritakan adalah makna di balik itu semua.
"Karena sebagai seniman, tujuan utamanya adalah presentasi dari eksplorasi karyanya. Dan itu bentuknya adalah pameran. Jadi ketika ViaVia kasih kesempatan itu, saya senang banget," ujar Eko.
Ia menyebut dirinya waktu itu masih berada di fase paling awal. "Fase pemula, saya masih mahasiswa, masih mencari ke sana ke sini. Jadi sebenarnya masih muda banget. Bagusnya waktu itu benar-benar ViaVia ini men-support seniman-seniman muda," kenangnya.
Ketika kostum ngamen ternyata bisa disebut karya seni
Tamarra datang ke ViaVia bukan sebagai seniman yang sudah tahu arahnya. Ia datang sebagai seseorang yang sedang bertahan hidup, dan ViaVia yang justru memperlihatkan padanya bahwa apa yang ia lakukan selama ini punya nama.
"Aku sendiri juga nggak ngerti karena setelah masuk Via Via justru punya pemahaman bahwa kostum-kostum yang aku pakai buat ngamen itu bisa disebut sebagai karya seni dan bisa dipamerkan," ceritanya.
Tapi ViaVia tidak menawarkan jalan pintas. Yang ia temukan justru adalah proses yang panjang dan serius.
"Ternyata nggak sesederhana itu. Lo butuh portofolio, lo butuh CV, lo butuh belajar, lu butuh riset, butuh mempertanggungjawabkan karya-karya yang lu buat, baik buat diri lu sendiri ataupun di publik," kata Tamara. "Proses penggojlokannya kebetulan di Via Via."
Yang tak kalah ia kenang adalah bagaimana ViaVia menyambut bukan hanya dirinya, tapi juga komunitas di sekitarnya tanpa syarat.
Karya yang dianggap aneh pun disambut
Arahmaiani punya cerita yang lain lagi. Karya-karyanya di masa itu bukan jenis yang mudah diterima: kritis, menyentuh isu budaya dan keyakinan, dan kerap dianggap terlalu tajam untuk ruang-ruang seni yang ada.
"Saya juga mencari orang-orang yang mendukung karena karya-karyaku di masa itu dianggap aneh dengan pendekatan kritis, menyinggung masalah budaya, keyakinan selain seni," tuturnya.
Di tengah pencarian itu, ia bertemu Mie, founder ViaVia Jogja. Pertemuan itu menjadi titik balik.
"Mi itu sangat terbuka dan mau mendukung ide-ide gilaku itu," katanya.
Bagi Arahmaiani, apa yang dilakukan ViaVia bukan soal kebaikan hati semata. Ia melihatnya sebagai sesuatu yang menentukan ke arah mana seorang seniman akan berlabuh.
"Kalau seniman tidak didukung oleh entah itu ruang pameran, lembaga, atau komunitas untuk mengeksplorasi kreativitasnya, nanti kayak mentok. Yang paling parah, akhirnya orientasinya pasar aja. Padahal seniman itu punya kemampuan kreatif yang kalau diberi ruang untuk mengolah kreativitasnya, bisa muncul hal-hal yang luar biasa," tegasnya.
Tiga puluh tahun, masih ruang yang sama
Berdiri sejak 1995, ViaVia Jogja sedari awal memang bukan sekadar bisnis restoran, bakery, dan jasa perjalanan semata. Ia tumbuh sebagai titik temu antara wisatawan, warga lokal, dan seniman yang belum punya nama tapi punya karya yang perlu diberi ruang.
Tiga puluh tahun kemudian, cara mereka merayakannya pun tidak berubah: mengundang seniman-seniman itu kembali, duduk bersama, dan bercerita.
Artist Talk ini terbuka untuk umum dan gratis, seperti ViaVia yang selalu membuka pintunya untuk siapa pun.





