Penyedia indeks saham global Morgan Stanley Capital International (MSCI) menyatakan akan menerapkan pemberlakuan khusus terhadap saham tertentu terutama yang terkonsentrasi kepemilikan tinggi atau High Shareholding Concentration (HSC).
Saat ini terdapat dua saham dalam indeks MSCI yang tergolong memiliki konsentrasi tinggi yaitu PT Barito Renewable Energi Tbk (BREN) dan PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA). Selain itu MSCI juga menutup pintu untuk memasukkan saham baru ke dalam daftar indeks apabila tergolong dalam HSC.
“Pendekatan ini dirancang untuk membatasi perputaran indeks dan risiko investabilitas sambil memberikan waktu untuk evaluasi lebih lanjut terhadap reformasi yang baru diumumkan,’ tulis MSCI dalam pengumuman resmi yang dikutip Selasa (21/4).
High shareholding concentration (HSC) merupakan daftar emiten di Bursa Efek Indonesia (BEI) yang sebagian besar sahamnya terkonsentrasi pada sedikit pihak atau kelompok afiliasi tertentu. Data ini dirilis oleh BEI untuk meningkatkan transparansi, meminimalkan risiko praktik spekulatif serta memenuhi standar investor global.
MSCI juga mempertahankan pembatasan terhadap saham-saham Indonesia pada review indeks Mei 2026.
Lalu bagaimana skenario terburuk bagi saham BREN dan DSSA?
Direktur Panin Asset Management, Rudiyanto, mengatakan saat ini kepemilikan investor global melalui ETF asing di saham DSSA dan BREN tercatat cukup signifikan.
DSSA menempati peringkat ke-10 dengan nilai kepemilikan sekitar Rp 2,5 triliun atau setara 38,2 juta lembar saham sebelum stock split, yang meningkat menjadi sekitar 956 juta lembar setelah stock split.
Sementara itu, Rudiyanto mengatakan emiten konglomerat Prajogo Pangestu BREN berada di peringkat ke-13 dengan kepemilikan ETF asing senilai Rp 1,8 triliun atau sekitar 348 juta lembar saham.
Rudiyanto mengatakan dengan asumsi lebih dari 94% kepemilikan tersebut berasal dari ETF global, masuknya kedua saham ke dalam kategori High Shareholding Concentration (HSC) berpotensi memicu arus dana keluar. Apabila dikalkulasikan potensi outflow dari DSSA dan BREN diperkirakan mencapai Rp 4,3 triliun.
“Dikalikan 94%, potensi outflow pada Mei dan Juni oleh MSCI dan FTSE lebih dari Rp 4 triliun,” tulis Rudiyanto dalam analisisnya, dikutip Selasa (21/4).
Sementara itu pengamat pasar modal Hendra Wardhana menilai dalam review indeks Mei 2026 oleh MSCI, tidak terdapat peningkatan bobot saham Indonesia, penambahan konstituen baru, maupun kenaikan klasifikasi pasar. Bahkan, saham-saham dengan tingkat konsentrasi kepemilikan tinggi dinilai berisiko dikeluarkan dari indeks.
Meskipun berbagai reformasi pasar telah dijalankan, MSCI masih menunggu bukti implementasi yang konsisten, kualitas data, sebelum memberikan penilaian lebih positif terhadap pasar modal Indonesia.
“Dengan kata lain, Indonesia masih berada dalam fase “improving market”, belum sepenuhnya masuk dalam kategori pasar yang tervalidasi secara global,” kata Hendra dalam analisisnya, Selasa (21/4).
Dari sisi pasar, Hendra menyebut aliran dana asing, khususnya dari investor pasif berbasis indeks global masih cenderung tertahan. Tak hanya itu, risiko pengurangan saham akibat faktor HSC membuka peluang terjadinya outflow secara selektif.
Dalam kondisi ini, Hendra melihat pergerakan pasar lebih banyak ditopang oleh sentimen domestik, stabilitas makroekonomi, dan dinamika global seperti arah suku bunga dan perkembangan geopolitik.
Secara teknikal, tekanan tersebut tercermin pada pergerakan IHSG. Indeks berpotensi turun untuk menutup area gap di level 7.527. Jika level ini tidak mampu bertahan, maka ruang koreksi masih terbuka menuju area gap berikutnya di kisaran 7.308.
“Apabila dalam evaluasi berikutnya MSCI melihat konsistensi implementasi dan peningkatan kredibilitas data, peluang masuknya dana asing dalam skala besar masih terbuka,” ucap Hendra.




