JAKARTA, KOMPAS.com – Layanan teman curhat berbayar kini menjadi fenomena baru di kalangan anak muda.
Di tengah interaksi media sosial yang semakin padat, sebagian orang justru merasa tidak memiliki ruang aman untuk berbagi cerita, sehingga memilih membayar seseorang untuk sekadar didengarkan tanpa dihakimi.
Kebutuhan untuk didengar tanpa tekanan sosial membuat layanan ini perlahan menemukan tempatnya.
Sejumlah penyedia jasa mengandalkan empati sebagai modal utama, sementara pengguna melihatnya sebagai ruang aman untuk melepas beban, meski tetap menyadari keterbatasannya dibandingkan konseling profesional.
Baca juga: Psikolog: Jasa Teman Jalan Dipicu Kebutuhan Validasi Sosial dan Ketakutan Komitmen
Fenomena tersebut dijalani Noah (28), yang mulai membuka jasa teman curhat sejak Mei 2023.
Ia melihat peluang dari tren layanan serupa yang ramai di media sosial, seperti pacar sewaan hingga teman jalan. Dari sana, ia menangkap kebutuhan orang untuk bercerita kepada pihak yang tidak mereka kenal. Noah kemudian membuka jasa melalui akun TikTok-nya dengan nama @HIMAWARI.
“Di situ saya pikir, kenapa enggak buka jasa curhat aja. Saya coba posting price list, ternyata lumayan yang DM (direct message) dan akhirnya berjalanlah," kata Noah dihubungi, Senin (20/4/2026).
Tanpa latar belakang, mengandalkan empatiNoah mengaku tidak memiliki latar belakang pendidikan khusus yang berkaitan dengan layanan yang ia jalankan. Ia hanya berusaha memposisikan diri sebagai pendengar yang baik bagi kliennya.
Menurut dia, tidak ada perbedaan signifikan antara jasanya dengan teman ngobrol biasa, selain adanya sistem berbayar. Ia mencoba memberi saran berdasarkan apa yang akan ia lakukan jika berada di posisi klien.
Klien terlebih dahulu menghubunginya melalui pesan langsung, kemudian mengisi formulir terkait identitas dan jadwal, melakukan pembayaran, hingga akhirnya sesi curhat berlangsung sesuai waktu yang disepakati.
Baca juga: Psikolog: Jasa Teman Jalan Tak Menyelesaikan Masalah Kesepian
"Setelah pembayaran berhasil saya akan mengirim pesan untuk menyapa dan setelahnya sesi curhat berlangsung sesuai jadwal yang sudah ditetapkan klien," kata dia.
Dari pengalamannya, mayoritas klien berasal dari kalangan usia 20 hingga 30 tahun dengan latar belakang pekerja. Masalah yang paling sering diangkat berkaitan dengan hubungan personal.
“Masalah asmara dan kehidupan rumah tangga. Untuk siapanya, lebih banyak usia 20-30 tahun. Pekerja lebih banyak," kata dia.
Dalam sesi curhat, Noah tidak hanya mendengarkan, tetapi juga memberikan tanggapan jika diminta. Ia menyebutkan, klien kerap meminta saran atau pendapat atas persoalan yang mereka hadapi.
Namun, ia juga menyadari keterbatasannya, terutama ketika menghadapi masalah yang terlalu berat. Dalam kondisi tertentu, ia memilih menyarankan klien untuk mencari bantuan profesional.
“Saya pernah melakukan sesi curhat melalui via telpon selama satu jam. Dari awal sesi-akhir, klien tidak berhenti menangis. Setelah mendengar masalahnya, saya rasa saya bukan orang yang tepat untuk memberi saran dan pendapat karna masalah yang terlalu berat dan berulang," ujarnya.
Privasi dan batas profesionalUntuk menjaga profesionalitas, Noah menerapkan batasan dalam interaksi dengan klien, termasuk tidak membuka komunikasi di luar sesi secara bebas. Ia biasanya mengarahkan klien untuk kembali melakukan pemesanan jika ingin melanjutkan sesi.
Ia juga menjaga kerahasiaan klien dengan menghapus riwayat percakapan serta tidak menyimpan data pribadi tanpa persetujuan. Langkah tersebut dinilai cukup untuk menjaga privasi klien, dan sejauh ini belum ada keluhan terkait hal tersebut.
Baca juga: Konselor: Minim Kasih Sayang Keluarga Dorong Fenomena Jasa Teman Jalan
“Dengan menghapus chat room dan nomor telepon atau WhatsApp, tidak menyebarkan ke mana dan siapa pun, menurut saya cukup menjamin kerahasiaan klien," katanya.
Meski begitu, ia mengakui ada pengecualian bagi beberapa klien yang sudah sering menggunakan jasanya, dengan tetap berdasarkan persetujuan bersama.
Energi emosional sebagai “harga”Dalam menentukan tarif, Noah mempertimbangkan besarnya energi emosional yang dikeluarkan selama sesi berlangsung. Ia mengaku harus memposisikan diri sebagai klien dan memahami masalah dari berbagai sudut pandang, yang tidak jarang terasa menguras tenaga.
“Ketika saya mendengarkan klien, memposisikan sebagai diri klien, melihat dari sudut pandang saya sebagai pendengar, energinya lumayan besar ya," kata Noah.
Ia juga menyebutkan, sesi melalui telepon menjadi yang paling menguras energi, sehingga tidak semua permintaan dapat ia terima.
“Terutama jika sesi melalui telpon, itu cukup menguras energi dan akhirnya saya banyak menolak sesi melalui telpon," ucapnya.
Baca juga: Di Balik Tren Jasa Teman Jalan, Antara Rasa Sepi dan Kedekatan Semu
Selain Noah, penyedia jasa teman curhat lain juga datang dari latar belakang yang tidak jauh berbeda. Raina (26), misalnya, memulai layanan ini dari kebiasaannya menjadi tempat bercerita bagi orang-orang di sekitarnya.

:strip_icc()/kly-media-production/medias/5561608/original/067736800_1776754336-94d34409-628a-418e-961c-e17ca93d3533.jpg)



