JAKARTA, KOMPAS.TV - Peneliti Senior Indo-Pacific Strategic Intelligence (ISI), Fauzia Cempaka, memandang tindakan Amerika Serikat (AS) yang menyita kapal berbendera Iran dapat menghambat negosiasi tahap kedua antara kedua negara.
Menurut Fauzia, penyitaan kapal tersebut oleh AS bukanlah insiden maritim biasa. Sebab, AS menyerang dan menyita kapal sipil milik Iran.
Fauzia juga memandang kejadian ini menjadi kasus uji identitas nasional bagi Iran. Ia menyebut garis keras Iran yang diwakili The Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) atau Korps Garda Revolusi Islam sudah memandang strategi Selat Hormuz sebagai keberhasilan sejak perang dengan AS pecah Februari 2026 lalu.
"Namun, dengan tentu saja jika nantinya Iran tetap turun ke meja negosiasi, maka ini seperti membiarkan interpretasi sebagai kelemahan struktural yang tentu saja akan menghancurkan kredibilitas Iran yang diwakili IRGC," katanya dalam program Sapa Indonesia Pagi KompasTV, Selasa (21/4/2026).
Sementara itu, menurutnya, pendekatan yang dimiliki Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi dan IRGC berbeda.
Fauzia menyebut Araghchi mewakili panggung diplomasi, yang mana menurutnya sikap tersebut menggunakan pendekatan yang sifatnya tidak sekeras pernyataan-pernyataan yang disampaikan juru bicara Markas Pusat Khatam al-Anbiya.
"Misalnya yang menyatakan bahwa mereka akan segera melakukan respons dan retaliasi, dan ini tentu akan memberikan kesulitan kepada Iran untuk menurunkan perwakilannya," ujarnya.
Baca Juga: Warga Teheran Berkumpul Tiap Malam, Tunjukkan Solidaritas di Tengah Perang Iran-AS | KOMPAS SIANG
AS menyerang sekaligus menyita sebuah kapal kargo berbendera Iran yang mencoba menghindari blokade angkatan lautnya di dekat Selat Hormuz pada Minggu (19/4/2026).
"Hari ini sebuah kapal kargo berbendera Iran bernama Touska, dengan panjang hampir 900 kaki dan berat hampir sama dengan kapal induk, mencoba melewati blokade Angkatan Laut kita dan upaya mereka gagal," ujar Presiden AS Donald Trump melalui Truth Social @realDonaldTrump, 20 April 2026.
Penulis : Tri Angga Kriswaningsih Editor : Tito-Dirhantoro
Sumber : Kompas TV, IRB/AP
- iran
- amerika serikat
- as
- selat hormuz
- blokade
- negosiasi





