Grid.ID - Dedi Mulyadi didesak untuk mengatasi banjir di Bandung. Pengamat desak sang gubernur untuk membenahi persoalan tersebut.
Bencana banjir masih melanda Kabupaten Bandung. Hal ini tentu menjadi satu tugas bagi pemerintah untuk mengatasinya agar tidak kembali berulang.
Terlebih, usia Kabupaten Bandung sudah mencapai 385 tahun. Namun persoalan banjir masih menjadi hal yang belum terselesaikan.
Persoalan Banjir dari Kacamata Pengamat
Direktur Jamparing Institut sebagai Pemerhati Kebijakan Pemerintah, Dadang Risdal Aziz menilai kondisi tersebut mencerminkan belum optimalnya tata kelola lingkungan dan koordinasi antarwilayah. Terdapat sejumlah faktor yang melatarbelakanginya.
Termasuk di antaranya, faktor kerusakan lingkungan hingga lemahnya perencanaan wilayah. Faktor-faktor ini disebut menjadi penyebab utama berulangnya banjir di kawasan Kabupaten Bandung.
"Sehingga, wilayah Kabupaten Bandung yang berada di zona tengah, hilir harus menanggung limpasan air yang begitu deras," ujar Dadang, dikutip dari Tribun Jabar.
"Ditambah kondisi drainase yang buruk mulai dari penyempitan saluran, sedimentasi, hingga tumpukan sampah membuat aliran air tersendat dan air mudah meluap ke permukiman warga," tambahnya.
Selain itu, Risdal juga menilai pendangkalan sungai merupakan masalah yang serius. Sungai-sungai seperti Citarum mengalami penurunan kapasitas akibat sedimentasi sehingga tak mampu menampung debit air.
"Masalah tata ruang pun menjadi sorotan. Pembangunan di kawasan rawan banjir, termasuk bantaran sungai dan dataran rendah, dinilai meningkatkan kerentanan masyarakat terhadap genangan," ujarnya.
"Ditambah lagi, keterbatasan infrastruktur pengendali banjir seperti kolam retensi dan tanggul membuat daya tahan wilayah semakin lemah saat hujan ekstrem terjadi," tambahnya.
Oleh karena itu, Risdal mendesak Pemerintah Kabupaten Bandung, terutama Dedi Mulyadi untuk mengambil peran lebih kuat dalam mengkoordinasikan penanganan lintas wilayah.
"Gubernur harus turun tangan, mengoordinasikan pembentukan lembaga formal dengan mandat yang jelas, target kinerja, dan tentu anggaran bersama. Tanpa kelembagaan formal, biasanya hasil pembahasan hanya berakhir di atas meja rapat tanpa aksi berkelanjutan," ujarnya.
Penanganan Banjir Menurut Dedi Mulyadi
Menyoroti banjir yang terus berulang di Kabupaten Bandung, Dedi menegaskan bahwa penanganannya masih bersifat sebagian dan belum menyeluruh. Alhasil dampaknua, banjir masih terus berulang.
"Pertama, tata ruang Kabupaten Bandung harus berubah," ujarnya, dikutip dari Kompas.com.
Selain pembenahan tata ruang, Dedi juga menekankan perlunya langkah teknis di lapangan. Salah satunya adalah normalisasi sungai yang saat ini kapasitasnya tidak lagi mampu menampung volume air saat hujanderas.
"Yang kedua, sungai-sungainya harus segera dinormalisasi."
"Yang ketiga, hulu sungainya harus direhabilitasi menjadi lahan hijau."
"Yang keempat, perubahan lahan jangan terus terjadi. Sawah terus dibikin bangunan, perumahan, segala macam," jelasnya.
Bencana banjir di Bandung yang terus berulang membuat pengamat mendesak Dedi Mulyadi untuk membenahi persoalan tersebut. Sang gubernur pun menjelaskan langkah-langkah penanganan saat ini yang sifatnya masih sementara. Sehingga masih belum bisa mengatasi banjir dalam jangka panjang.
"Kalau tidak dilakukan, itu tidak bersifat jangka panjang, tidak akan pernah beres. Rumah-rumah di bantaran sungai harus dialihkan. Tidak boleh lagi rumah di bantaran rungai," katanya. (*)
Artikel Asli




