JAKARTA, KOMPAS.com - Perayaan Hari Kartini setiap tanggal 21 April tidak selalu identik dengan riasan wajah atau balutan kebaya yang anggun.
Bagi Iin Kurniasih (43), perayaan Kartini justru dijalani dengan mengenakan seragam oranye-hijau, rompi pelampung, serta sepatu bot di bawah terik matahari.
Perempuan asal Cirebon, Jawa Barat, ini merupakan Petugas Penyedia Jasa Lainnya Perorangan (PJLP) di Unit Penanganan Sampah (UPS) Badan Air Suku Dinas Lingkungan Hidup Jakarta Barat.
Baca juga: Lengser dari Ketua DPRD DKI, Khoirudin Dapat Tugas Strategis di DPP PKS
Selama tujuh tahun terakhir, hari-harinya dihabiskan untuk menaklukkan tumpukan sampah dan pekatnya lumpur di aliran sungai Jakarta Barat. Ia juga tercatat sebagai pekerja perempuan pertama di UPS Badan Air Jakarta Barat.
Ia menilai, tidak ada lagi batasan gender dalam menjalankan tanggung jawabnya sebagai ibu tunggal untuk menafkahi kedua anaknya.
"Kita kan namanya kerja ya, enggak perlu lihat perempuan atau bukan, ya disamakan dengan laki-laki. Namanya kerja di air, kita harus berani dong di air, nyari sampah. Jangan takut sama air, jangan takut kotor juga, demi menghidupi dua anak," ujar Iin saat ditemui Kompas.com di aliran Kali PHB Taman Aries, Kembangan, Jakarta Barat, Selasa (21/4/2026).
Saat ditemui Kompas.com, Iin tengah sibuk mengambil sampah dari sekat-sekat yang dipasang di aliran Kali PHB Taman Aries.
Di antara deretan rumah mewah di sekitarnya, Iin mencari nafkah dengan turun langsung ke aliran kali untuk mengangkat sampah demi menjaga kebersihan.
Ia memulai pekerjaannya dengan menapaki bebatuan di sisi kali sambil berpegangan pada tali tambang untuk naik ke kubus apung yang digunakan sebagai pijakan.
Berbekal alat sederhana yang dirakit dari batang kayu dan penutup kipas, ia berulang kali menyerok tumpukan sampah yang tertahan di area sekat, lalu memasukkannya ke dalam bak penampungan sementara.
Beberapa kali, Iin bahkan harus menceburkan diri ke aliran kali dengan kedalaman sekitar 70 sentimeter, sehingga setengah tubuhnya terendam air.
"Di sini disamakan semua. Perempuan, laki-laki sama kerjanya, nyerok-nyerok, ngangkut-ngangkut. Kalau sampah di air nggak bisa diserok, ya kita harus turun pakai tangan ngambilnya," ucap Iin.
Baca juga: Cerita Rizki, Jemaah Haji Muda Asal Jaksel yang Tak Mau Sia-siakan Kesempatan
Warisan Tugas dari Mendiang AdikKetangguhan Iin sebagai seorang perempuan lahir dari proses pahit dan asamnya kehidupan yang panjang.
Jauh sebelum mengenakan seragam oranye khas petugas kebersihan, Iin hanyalah seorang ibu rumah tangga biasa.
Namun, kehidupannya berubah setelah mengalami kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) yang membuatnya bercerai pada 2016.
Saat itu, anak pertamanya masih bersekolah, sementara anak keduanya lahir dengan gangguan perkembangan otak.
“Iya anak saya yang kedua itu Wallahualam, punya keterbelakangan, dia perkembangan otaknya terganggu, IQ-nya rendah, jadi sekolahnya harus di SLB. Entah apa karena waktu saya hamil dia itu sering dipukul atau seperti apa, saya enggak tahu ya, tapi dia memang beda dari yang lain,” ujar Iin.





