VIVA – China mengkritik latihan gabungan militer yang melibatkan Filipina, Amerika Serikat, dan Jepang di kawasan Laut China Selatan (LCS), dan menganggapnya sebagai provokasi dengan melibatkan pihak eksternal yang berpotensi mengganggu stabilitas kawasan.
Latihan tersebut melibatkan belasan ribu personel militer, mencakup simulasi tembakan langsung di wilayah utara Filipina yang menghadap Selat Taiwan, serta di provinsi yang berbatasan dengan Laut China Selatan yang disengketakan.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Guo Jiakun dalam konferensi pers di Beijing, Senin, mengatakan kawasan Asia-Pasifik membutuhkan stabilitas dan perdamaian di tengah meningkatnya aktivitas militer, merespons latihan militer tahunan yang untuk pertama kalinya melibatkan kontingen Jepang bersama ribuan tentara Amerika Serikat dan Filipina.
"Dunia sudah cukup banyak menyaksikan kerusakan yang ditimbulkan oleh unilateralisme dan penyalahgunaan kekuatan militer. Hal yang paling dibutuhkan oleh kawasan Asia-Pasifik adalah perdamaian dan ketenteraman," kata Guo Jiakun
- ANTARA/Desca Lidya Natalia
"Hal terakhir yang tidak dibutuhkan kawasan ini adalah perpecahan dan konfrontasi akibat masuknya kekuatan-kekuatan eksternal. Tidak ada kerja sama militer dan keamanan yang boleh dilakukan dengan mengorbankan saling pengertian dan rasa saling percaya, serta perdamaian dan stabilitas di kawasan ini," sambungnya
Ia menegaskan bahwa kerja sama militer tidak boleh menargetkan maupun merugikan pihak ketiga. "Bagi negara-negara yang menggantungkan keamanan mereka pada pihak lain, penting untuk senantiasa mengingat bahwa langkah ini sangat mungkin justru akan menjadi bumerang," katanya.
Guo juga menyinggung peran Jepang di kawasan, dengan menyebut negara tersebut memiliki tanggung jawab sejarah terhadap negara-negara Asia Tenggara akibat agresi pada masa Perang Dunia II.
"Jepang perlu melakukan introspeksi mendalam dan serius terhadap sejarah agresinya, serta bertindak penuh kehati-hatian baik dalam ucapan maupun tindakan di bidang militer dan keamanan, bukan sebaliknya malah memamerkan kekuatan di Laut China Selatan dan merusak stabilitas di kawasan ini," tegasnya.
Lebih dari 17.000 personel dari angkatan darat, laut, dan udara terlibat dalam latihan gabungan Balikatan yang berlangsung selama 19 hari. Komandan Pasukan Ekspedisi Marinir AS Christian Wortman mengatakan sekitar 10.000 personel AS ambil bagian dalam latihan tersebut.





