Dugaan Kelalaian pada Bayi Alceo, RSUP M Djamil Padang Masih Lakukan Audit

kompas.id
1 jam lalu
Cover Berita

PADANG, KOMPAS — RSUP Dr M Djamil Padang tengah melakukan audit investigasi dan audit klinis atas kasus dugaan kelalaian yang berujung pada meninggalnya bayi Alceo Hanan Flantika. Proses audit diperkirakan selesai paling cepat sepekan ke depan dan hasilnya akan dilaporkan ke Kementerian Kesehatan.

Direktur Utama RSUP Dr M Djamil Padang, Dovy Djanas, di Padang, Selasa (21/4/2026), mengatakan, sudah membentuk tim audit investigasi dan audit klinis sebagai tanggapan atas somasi yang disampaikan keluarga almarhum Alceo. Proses investigasi pun sudah berlangsung sekitar dua pekan.

“Kami prediksi mungkin dalam waktu satu minggu paling cepat, ini akan kami sampaikan hasil dari tim yang bekerja,” kata Dovy dalam jumpa pers, Selasa sore. 

Dovy menjelaskan, membentuk tim yang lengkap untuk proses audit, antara lain dari komite medik, komite keperawatan, komite etik, dan komite tenaga kesehatan lainnya. Adapun yang diaudit adalah semua orang yang terlibat dalam pelayanan terhadap bayi Alceo. 

Dilanjutkan Dovy, dalam proses audit, tim bekerja secara hati-hati, independen, obyektif, dan transparan, serta dapat dipertanggungjawabkan. Tim menelaah bagaimana proses pelayanan terhadap Alceo, disesuaikan dengan kronologis yang didapatkan rumah sakit, serta disesuaikan pula dengan versi keluarga.

“Kami berkomitmen menindaklanjuti hasil yang dilaporkan tim. Kalau ada yang tidak sesuai SOP, tentu dengan tegas kami akan menindaklanjuti sesuai dengan temuan dari tim audit,” ujarnya.

Direktur Medik dan Keperawatan RSUP Dr M Djamil Padang Bestari Jaka Budiman menambahkan, tim audit yang dibentuk bertugas untuk mengetahui apakah ada pelanggaran etik, medik, dan komunikasi dalam kasus tersebut.

“Hasilnya akan dilaporkan ke atasan kami, yaitu Kementerian Kesehatan, tetapi tidak diumumkan,” katanya. 

Alceo Hanan Flantika dirujuk ke RSUP Dr M Djamil Padang pada 26 Maret 2026. Dari hasil pemeriksaan, bayi berusia 14 bulan itu mengalami luka bakar akibat tersiram air panas dengan tingkat luka 2A dan luas 23 persen. Menurut Bestari, diagnosis awalnya luka ini kategori ringan-sedang. 

“Untuk anak dan orangtua, apalagi bayi, sampai sekarang di literatur masih dikatakan unpredictable. Artinya, bisa terjadi apa saja. Nah, ini mudah-mudahan dari proses audit kami coba melihat dan mencocokkan dengan PPK (panduan praktik klinis) dan lain-lain. Tapi memang untuk kasus ini didiagnosis awal kategori ringan sedang atau 2A,” ujarnya.

Dugaan kelalaian

Kematian bayi Alceo jadi perhatian publik usai ibunya, Nuri Khairma (33), mengungkap kejadian di melalui akun Instagram @nuri_khairma, Kamis (16/4/2026).

Nuri menyebut, luka bakar tingkat 2A seluas 23 persen yang dialami putranya semestinya dapat sembuh tanpa bekas sebagaimana hasil konsultasinya dengan seorang dokter (Kompas.id, 18/4/2026).

Nahas, anaknya meninggal diduga akibat buruknya pelayanan rumah sakit dan kelalaian petugas. Sembari menahan rasa sakit, Alceo yang seharusnya hanya berpuasa empat jam sebelum operasi, katanya, mesti menahan lapar hingga 24,5 jam. Hal itu terjadi karena antrean operasi sang bayi beberapa kali tertunda akibat terpotong oleh pasien lain.

Selain itu, Nuri juga mengungkapkan kekecewaan terhadap penanganan saat perawatan pascaoperasi putranya yang karib disapa Ceo itu. Selain berulang kali mendapat respons kasar dari petugas, Nuri mengaku kondisi Ceo kerap disepelekan petugas, bahkan pernah dimandikan dengan air bekas BAB-nya, hingga kemudian terjadi infeksi pada lukanya.

”Tinggi harapan Mama untukmu sayang. Namun, Allah berkehendak lain. Mama minta maaf ya, Mama sudah setuju merujuk Ceo ke RS yang katanya terbesar dan terlengkap di Padang untuk menolong Ceo,” tulis Nuri dalam unggahannya di Instagram, Kamis 16/4/2026) lalu.

Ketika dihubungi Kompas, Nuri membenarkan unggahan tersebut. Ia kemudian menjelaskan kejadian melalui keterangan tertulis, Sabtu (18/4/2026) pagi, mulai dari proses Alceo masuk ke RSUP Dr M Djamil pada 26 Maret, menjalani operasi sehari kemudian, hingga kondisi menurun pada 1 April, dan meninggal pada 3 April 2026.

Baca JugaBayi Meninggal di RSUP M Djamil Padang, Sang Ibu Ungkap Dugaan Pelayanan Buruk dan Kelalaian Petugas

Intinya, Nuri sangat kecewa dengan pelayanan dari RSUP Dr M Djamil, apalagi sampai merenggut nyawa putra mereka. Seandainya kondisi Alceo dinilai secara benar, ditangani secara baik, tidak disepelekan, dan ditempatkan di ruang perawat steril, peristiwa pahit ini tidak akan terjadi.

”Saya sangat menyesal membawa putra saya ke RSUP Dr M Djamil karena ternyata di sana mereka tidak menghargai nyawa manusia. Pengalaman buruk dari korban lainnya juga sudah sangat banyak ternyata. ’Ke M Djamil cuma antar nyawa’, ’Pulang dari M Djamil harus siapkan kain kafan’. Ternyata banyak testimoni seperti itu,” tuturnya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
UI Bentuk Tim Ahli Satgas PPK untuk Tangani Kasus Grup Chat Mesum FHUI
• 4 jam laludetik.com
thumb
Bojan Hodak sayangkan kesalahan yang dilakukan Persib
• 16 jam laluantaranews.com
thumb
Dirut BNI Janjikan Pengembalian Dana Nasabah Paroki Aek Nabara Paling Cepat 22 April
• 8 menit lalusuarasurabaya.net
thumb
Malaysia-Singapura percepat kerja sama Jaringan Listrik ASEAN 
• 17 jam laluantaranews.com
thumb
Prabowo Unggah Foto Syukuran Ultah Titiek: Semoga Tambah Usia Bawa Keberkahan
• 13 jam laludetik.com
Berhasil disimpan.