Meski Dominan, Daya Beli Masih Bayangi Pembiayaan Mobil Baru

bisnis.com
2 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA — Pembiayaan mobil baru masih mendominasi portofolio industri multifinance. Kendati di balik dominasi tersebut, tekanan terhadap daya beli masyarakat belum sepenuhnya pulih. 

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyampaikan bahwa pembiayaan otomotif masih menjadi salah satu kontributor terbesar dalam pembiayaan industri multifinance.

Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, LKM dan LJK Lainnya OJK Agusman mengatakan termasuk pembiayaan mobil bekas yang memberikan skema pembiayaan yang relatif lebih terjangkau bagi masyarakat.

Meski begitu, Agusman berujar pada Februari 2026 bahwa penyaluran pembiayaan kendaraan roda empat atau mobil baru lebih besar dibandingkan dengan pembiayaan mobil bekas.

“Pada Februari 2026, penyaluran pembiayaan kendaraan roda empat baru mencapai Rp143,28 triliun dengan porsi 26,47% dari total penyaluran industri multifinance,” katanya dalam lembar jawaban RDK OJK Maret 2026, dikutip pada Selasa (21/4/2026).

Sementara itu, penyaluran pembiayaan kendaraan roda empat bekas mencapai Rp88,36 triliun dengan porsi 16,32% dari total penyaluran industri multifinance. 

Secara keseluruhan, Agusman mengemukakan bahwa di tengah dinamika perekonomian, perusahaan pembiayaan tetap menargetkan pertumbuhan dengan pendekatan yang lebih selektif dalam memilih debitur guna memitigasi risiko gagal bayar.

Baca Juga : Hyundai IONIQ 3 Resmi Mengaspal, Perkuat Penetrasi Pasar EV

“Sejalan dengan upaya menjaga kualitas pembiayaan dan keberlanjutan kinerja industri,” sebut dia.

Sebab itu, OJK menilai tantangan yang perlu diwaspadai industri multifinance antara lain dinamika perekonomian yang dapat memengaruhi permintaan dan kualitas pembiayaan.

“Untuk itu, perusahaan perlu terus memperkuat manajemen risiko, menjaga kualitas portofolio, mengedepankan prinsip kehati-hatian dalam penyaluran pembiayaan, serta menjaga pelindungan konsumen,” tegas Agusman.

Dinamika Daya Beli Masyarakat

PT Mandiri Utama Finance (MUF) mengungkapkan bahwa dinamika daya beli masyarakat menjadi tantangan dalam penyaluran pembiayaan mobil baru pada 2026. 

Direktur/Plt. Direktur Utama MUF Dapot Parasian S. Sinaga menyebut perubahan preferensi konsumen dan ketidakpastian ekonomi global yang turut memengaruhi sentimen pasar sebagai tantangan lainnya.

“Untuk menghadapinya, MUF terus menyesuaikan strategi pemasaran, memperkuat kualitas analisis kredit, dan menjaga fleksibilitas produk pembiayaan sesuai kebutuhan pasar,” katanya kepada Bisnis, Senin (20/4/2026).

Dapot menjelaskan, preferensi debitur saat ini cenderung mengarah pada kendaraan yang sesuai dengan kebutuhan mobilitas dan efisiensi penggunaan sehari-hari. Selain itu, minat terhadap kendaraan listrik juga mulai menunjukkan peningkatan. 

Baca Juga : Pembiayaan Investasi WOM Finance Capai 30% dari Total Portofolio Perusahaan

Adapun dari sisi tenor, mayoritas nasabah masih memilih jangka waktu pembiayaan menengah hingga panjang agar cicilan tetap sesuai dengan kemampuan keuangan masing-masing.

Dapot meneruskan, hingga Maret 2026, pembiayaan mobil baru MUF tumbuh 12,35% YoY. Segmen ini masih menjadi kontributor utama dengan porsi 59,4% terhadap total portofolio pembiayaan MUF.

“MUF terus memperkuat sinergi dengan dealer dan showroom rekanan, memperluas penetrasi pasar melalui ekosistem Mandiri Group, serta menghadirkan program pembiayaan yang kompetitif sesuai kebutuhan nasabah,” ucapnya.

Di sisi lain, imbuh dia, perusahaan tetap menjaga prinsip kehati-hatian agar pertumbuhan tetap sehat. Adapun, wilayah dengan kontribusi terbesar terhadap portofolio mobil baru MUF saat ini masih berasal dari Jabodetabek, diikuti oleh wilayah Sulawesi dan Papua.

“Ke depan, MUF akan terus mengembangkan potensi pasar di kawasan Indonesia Timur seiring dengan penguatan jaringan yang telah dilakukan, termasuk optimalisasi kantor cabang yang sudah beroperasi,” tegasnya.

Senada, PT Clipan Finance Indonesia Tbk (CFIN) atau Clipan Finance menilai daya beli masyarakat yang masih bervariasi menjadi tantangan dalam menyalurkan pembiayaan mobil baru pada awal 2026.

Baca Juga : Penjualan Mobil Listrik Bekas Laku Keras, Mobil Baru Justru Layu

Selain itu, persaingan yang semakin ketat di industri pembiayaan dan dinamika suku bunga turut menjadi tantangan tersendiri bagi perusahaan. Untuk mengantisipasinya, Clipan Finance menerapkan prinsip kehati-hatian dalam ekspansi pembiayaan.

“Menghadirkan produk kredit yang adaptif dan berdaya saing, serta mempererat sinergi dengan dealer dan mitra strategis untuk menjaga pertumbuhan yang berkelanjutan,” kata Direktur Utama Clipan Finance Indonesia Harjanto Tjitohardjojo kepada Bisnis, dikutip pada Selasa (21/4/2026)

Kendati begitu, Harjanto menekankan bahwa tren pembiayaan mobil baru di perusahaannya menunjukkan pertumbuhan yang stabil, didukung oleh permintaan sektor otomotif yang masih solid.

“Segmen ini tetap menjadi kontributor utama dalam total portofolio perusahaan dengan target pertumbuhan yang lebih tinggi dibandingkan realisasi tahun sebelumnya,” tegasnya.

Adapun, lanjutnya, untuk mendongkrak pembiayaan mobil baru pada awal 2026, Clipan Finance menguatkan kemitraan dengan dealer dan ATPM, mengembangkan skema kredit yang kompetitif dan fleksibel, hingga pemanfaatan berbagai kanal distribusi, termasuk pameran otomotif. 

“Digitalisasi proses pembiayaan juga terus difokuskan untuk meningkatkan pengalaman pelanggan, dengan tetap memperhatikan kualitas portofolio melalui penerapan manajemen risiko yang prudent,” kata Harjanto.

Sementara itu, Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia (APPI) berujar penjualan mobil pada Januari dan Februari 2026 masih cukup bagus. Berbeda dengan Maret 2026 yang mengalami penurunan.

“Jadi memang masih belum bisa [dikatakan terus bertumbuh] dan ya masih mirip-mirip lah dengan tahun lalu, tapi ya mungkin turunnya lebih kecil ya, seberapa saya belum dapat datanya. Namun yang pasti, sepengetahuan saya penjualannya mungkin tidak sebaik dengan event tahun lalu, tapi diharapkan bisa sama dengan tahun ini kan, secara total sampai akhir tahun,” kata Ketua Umum APPI Suwandi Wiratno kepada Bisnis, Jumat (17/4/2026).

Lebih lanjut, Suwandi melihat penurunan penjualan mobil yang terjadi pada Maret 2026 tidak lepas dari jumlah hari kerja yang hanya sekitar 15 hari karena ada liburan panjang.

“Tapi ya diusahakan pasti Gaikindo pada saat prediksinya kan masih memprediksi jika memungkinkan bisa jualan sama dengan tahun lalu, 2025,” ucapnya.

Dia turut menekankan bahwa pembiayaan otomotif masih tetap menjadi salah satu kontributor terbesar bagi industri multifinance. Kendati begitu, Suwandi juga tak menampik saat ini ada beberapa tantangan yang perlu dihadapi industri.

“Kan masih banyak gonjang-ganjing ya, terkait dengan geopolitik, terkait dengan daya beli, yang memang pemerintah sedang berusaha untuk menggiatkan perekonomian dalam negeri,” pungkas Suwandi.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
RUU Advokat Didukung Demi Pengawasan Profesi dan Perlindungan Masyarakat
• 23 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Terungkap! 3 Cara Bill Gates Bangun Kekayaan hingga Jadi Miliarder
• 20 jam laluviva.co.id
thumb
UI Bentuk Tim Ahli Tangani Kasus Dugaan Pelecehan di Grup Chat 16 Mahasiswa FH
• 5 jam lalukumparan.com
thumb
UU PPRT: Profesi Sopir, Caregiver-Babysitter Masuk Kategori Pekerja Rumah Tangga
• 6 jam lalukumparan.com
thumb
Indonesia akan Terapkan Dwi Kewarganegaraan Terbatas, Siapa Saja yang Bisa Mengaksesnya?
• 17 jam lalutvonenews.com
Berhasil disimpan.