Utut Adianto Tegaskan RI Tetap Bebas Aktif di Tengah Dinamika Global

detik.com
5 jam lalu
Cover Berita
Jakarta -

Anggota MPR RI Fraksi PDI Perjuangan (PDIP) Utut Adianto menegaskan Indonesia tetap berpegang pada prinsip politik luar negeri bebas aktif di tengah meningkatnya dinamika geopolitik global. Termasuk di antaranya pasca keterlibatan Indonesia dalam BRICS dan kerja sama pertahanan dengan Amerika Serikat (AS).

Utut menjelaskan langkah Indonesia bergabung dengan BRICS semata-mata bertujuan memperluas pasar ekonomi dan mendorong pertumbuhan nasional. Keanggotaan tersebut dinilai memberikan peluang besar mengingat negara-negara BRICS mencakup sebagian besar populasi dunia.

"Tujuan utama kita adalah memperluas pasar dan memperkuat ekonomi. Ini bukan soal berpihak, tetapi bagaimana Indonesia bisa mengambil manfaat di tengah percaturan global," ujar Utut, dalam keterangan tertulis, Rabu (22/4/2026).

Utut juga menepis kekhawatiran bahwa masuknya Indonesia ke BRICS maupun kerja sama pertahanan dengan AS akan menggeser posisi Indonesia menjadi bagian dari aliansi tertentu. Ia memastikan Indonesia tidak akan terjebak dalam blok kekuatan manapun.

"Kita tetap bebas aktif. Tidak masuk aliansi militer," kata Utut.

"Justru ini menjadi nilai tambah karena kita bisa bersahabat dengan semua pihak," sambungnya.

Baca juga: Ketua Komisi I DPR: Tak Ada Sifatnya Kedaulatan Kita Diberikan ke US

Terkait kesepakatan kerja sama pertahanan antara Indonesia dan AS yang ditandatangani di Pentagon pada Senin (13/4) lalu, Utut menegaskan tidak ada pemberian akses bebas (blanket overflight) terhadap wilayah udara Indonesia.

"Kedaulatan udara tetap mutlak. Tidak ada itu akses bebas," tegas Utut.

"Semua tetap harus melalui izin sesuai aturan yang berlaku," lanjutnya.

Utut menjelaskan kerja sama tersebut berfokus pada peningkatan kapasitas pertahanan melalui tiga pilar utama, yakni modernisasi alat utama sistem senjata (alutsista) dan transfer teknologi, pendidikan militer profesional, serta peningkatan interoperabilitas melalui latihan bersama seperti Super Garuda Shield.

Utut juga menanggapi kekhawatiran terkait keberadaan kapal militer AS di Selat Malaka. Menurut Utut, hal tersebut tidak perlu disikapi secara berlebihan selama tidak melanggar kedaulatan Indonesia.

"Indonesia tidak dalam posisi bermusuhan dengan negara manapun. Selama melintas sesuai aturan internasional dan menghormati wilayah kedaulatan, tidak perlu dikhawatirkan," ujar Utut.

Di sisi lain, Utut berencana memanggil Menteri Pertahanan RI Sjafrie Sjamsoeddin untuk mengklarifikasi sejumlah isu strategis, termasuk kerja sama pertahanan tersebut.

Rapat kerja dijadwalkan setelah masa reses yang dipercepat pada pertengahan Mei 2026.

Baca juga: Komisi I DPR Jadwalkan Rapat dengan Menhan, Ini yang Bakal Dibahas

Terkait misi perdamaian TNI di bawah naungan UNIFIL, Utut secara pribadi menyatakan Indonesia sebaiknya tetap melanjutkan komitmennya.

Utut menilai keikutsertaan Indonesia merupakan bagian dari amanat konstitusi untuk menjaga perdamaian dunia.

"Kita sudah berkomitmen. Sebaiknya tidak ditarik," kata Utut.

"Yang penting kita pastikan perlindungan maksimal bagi prajurit kita," sambungnya.

Selain itu, Utut juga menyoroti pentingnya penguatan kemandirian pertahanan nasional, termasuk pengembangan teknologi militer dalam negeri.

Utut menekankan Indonesia harus bertransformasi dari sekadar pembeli menjadi produsen alat pertahanan.

"Kalau kita ingin kuat, kita harus punya saintis dan teknologi sendiri. Tidak bisa terus bergantung sebagai pembeli," ujar Utut.

Dalam kesempatan yang sama, Utut mengungkapkan pembahasan revisi Undang-Undang Pengelolaan Sumber Daya Nasional (PSDN) masih ditunda. Hal ini menyusul adanya catatan dari Mahkamah Konstitusi yang meminta sejumlah perbaikan.

"Revisi belum menjadi prioritas karena pemerintah sebagai pengguna belum siap. Kita tunggu kesiapan dari pihak eksekutif," kata Utut.

Menutup pernyataannya, Utut mengajak seluruh pihak untuk menjaga persatuan nasional di tengah situasi global yang semakin kompleks.

"Kita harus tetap solid. Indonesia harus menjadi bangsa yang kuat, mandiri, dan tetap berorientasi pada perdamaian," pungkasnya.




(akd/ega)

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Sengketa Rumah Tanpa AJB, Penembokan Akses Warga di Pondok Aren Diduga Libatkan Ormas
• 5 jam lalukompas.com
thumb
UU PPRT Disahkan Usai 22 Tahun Mandek, Menkum: Bukti Pemerintah Berpihak ke PRT
• 23 jam lalukumparan.com
thumb
Kisah Pilu Leicester City, Degradasi ke Kasta 3 setelah 10 Tahun Juara Premier League
• 5 jam lalubisnis.com
thumb
Hukuman untuk Tentara Israel Rusak Patung Yesus: Ditahan 30 Hari
• 3 jam laludetik.com
thumb
Ahmad Doli Imbau Kader Golkar Kendalikan Diri usai Penikaman Nus Kei
• 13 jam lalukompas.tv
Berhasil disimpan.