TANGERANG SELATAN, KOMPAS.com — Penembokan akses rumah warga di Jalan Murjaya, Jurang Mangu Barat, Kecamatan Pondok Aren, Kota Tangerang Selatan, diduga dilakukan oleh sekelompok orang yang disebut sebagai bagian dari organisasi kemasyarakatan (ormas).
Aksi tersebut terjadi setelah sengketa jual beli rumah tanpa akta resmi memanas dan berujung pada pengeluaran barang secara paksa.
Penghuni rumah, Raffa Azman (21), mengatakan puluhan orang datang ke rumahnya pada Selasa (14/4/2026). Mereka disebut meminta pelunasan rumah dan mengancam menutup akses.
Baca juga: Sekeluarga di Pondok Aren Tangsel Terkurung Tembok Imbas Sengketa Lahan
“Ada sekitar 10 sampai 20 orang yang datang, mereka langsung marah-marah dan minta uang rumahnya untuk dilunasi," ujar Raffa Azman saat ditemui Kompas.com di lokasi, Senin (21/4/2026).
Di antara rombongan tersebut, Raffa melihat seorang pria mengenakan kemeja putih, celana hitam, berdasi merah, dan topi hitam yang tampak memimpin. Pria itu memperkenalkan diri sebagai pengacara dari pihak lawan.
Menurut Raffa, rombongan tersebut datang tiba-tiba, mematikan listrik, dan menggedor pintu rumah. Setelah pintu dibuka, mereka meminta pelunasan rumah sebesar Rp 3 miliar serta mengancam akan menutup akses.
Adu mulut terjadi hingga keluarga Raffa menghubungi Polsek Pondok Aren. Polisi yang datang kemudian memediasi kedua belah pihak.
"Kami sudah mediasi dengan mereka bersama Polsek dan keluarga saya, dengan saya sendiri. Itu sudah sepakat kalau tidak ada penembokan dan pengambilan barang," kata Raffa.
Usai mediasi, rombongan tersebut meninggalkan lokasi. Namun situasi berubah setelah polisi pergi. Raffa mengatakan, sekitar 10 hingga 15 menit setelah polisi meninggalkan lokasi, rombongan tersebut kembali datang.
"Sekitar 10 sampai 15 menitan dari polisi pergi, mereka datang lagi, gedor pintu. Ormasnya langsung bergerak," kata dia.
Baca juga: Cicil Rumah Rp 840 Juta Tanpa AJB, Warga Tangsel Kaget Uangnya Dianggap Biaya Sewa
Menurut Raffa, perabotan rumah seperti sofa, meja, hingga televisi diangkut keluar secara paksa sebelum akses masuk rumah ditutup dengan tembok.
"Langsung ramai, terus ukur-ukur dan akhirnya ditembok,” kata dia.
Ia menilai tindakan tersebut membuat keluarganya merasa terintimidasi karena jumlah orang yang datang cukup banyak. Akibat kejadian tersebut, akses keluar-masuk rumah tertutup dan tidak bisa dilalui kendaraan.
“Mobil dan motor tidak bisa keluar sama sekali. Aktivitas kami jadi terganggu,” ujar Raffa.
Sementara itu, kepolisian menyatakan tengah menyelidiki peristiwa tersebut, termasuk dugaan keterlibatan sejumlah pihak dalam aksi penembokan.





