Fitch Ratings Berikan Outlook Negatif Perbankan Raksasa BBNI, BBCA, BBRI, BMRI

katadata.co.id
2 jam lalu
Cover Berita

Lembaga pemeringkat kredit internasional, Fitch Ratings, memberikan outlook negatif terhadap perbankan raksasa RI. Di antaranya PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI), PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), dan PT Bank Mandiri Tbk (BMRI).

Fitch Ratings menilai lingkungan operasional perbankan Indonesia masih tergolong solid dan kondusif. Pertumbuhan ekonomi diperkirakan tetap kuat, dengan proyeksi produk domestik bruto (PDB) mencapai 5,1% pada 2026 dan 5,0% pada 2027, jauh di atas median negara berperingkat BBB yang berada di kisaran 2,4%.

Kondisi ini dinilai akan terus menopang stabilitas pertumbuhan sektor perbankan. Meski demikian, revisi prospek peringkat Indonesia menjadi negatif pada Maret 2026 sebab meningkatnya ketidakpastian kebijakan pemerintah RI yang berpotensi memengaruhi arah fiskal jangka menengah dan posisi cadangan eksternal. 

Di sisi lain, konflik Iran yang berkepanjangan juga menjadi risiko tambahan, terutama jika lonjakan harga energi global menekan kemampuan bayar debitur. Namun, secara umum Fitch Ratings menilai fundamental perbankan masih terjaga, ditopang oleh cadangan kerugian kredit yang memadai dan kuatnya permodalan sebagai bantalan terhadap potensi tekanan.

PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI)

Fitch Ratings kembali menegaskan peringkat kredit BNI di level investment grade. Lembaga pemeringkat global tersebut mengonfirmasi peringkat gagal bayar penerbit (IDR) jangka panjang mata uang asing dan lokal BNI di level ‘BBB’ dengan prospek negatif, sejalan dengan peringkat kedaulatan Indonesia.

Tak hanya itu, Fitch juga mempertahankan IDR jangka pendek BNI di ‘F2’, Peringkat Dukungan Pemerintah (GSR) di ‘bbb’, dan Peringkat Kelayakan (VR) di ‘bbb-’. Sementara di tingkat domestik, Fitch Ratings Indonesia menetapkan peringkat  jangka panjang BNI di ‘AAA(idn)’ dengan prospek stabil dan jangka pendek di ‘F1+(idn)’.

Fitch menilai, kuatnya posisi BNI tak lepas dari peran negara. Peringkat BNI ditopang oleh tingginya ekspektasi dukungan pemerintah, tercermin dari GSR di level ‘bbb’. Artinya, jika dibutuhkan, negara dinilai memiliki kapasitas untuk memberikan sokongan terhadap bank pelat merah tersebut.

“Hal ini memperhitungkan pentingnya BNI secara sistemik sebagai bank terbesar keempat di Indonesia dan kepemilikan strategis pemerintah,” tulis Fitch Ratings dalam analisisnya, dikutip Rabu (22/4).

Hingga akhir 2025, BNI tercatat sebagai bank terbesar keempat dengan pangsa sekitar 10,3% dari total simpanan. Besaran skala bisnis dan kedekatan dengan pemerintah memberikan keunggulan dalam mengakses dana murah sekaligus membuka peluang ekspansi kredit, terutama melalui hubungan dengan BUMN dan korporasi besar.

Dari sisi profil risiko, Fitch melihat adanya perbaikan dalam standar penyaluran kredit BNI dalam beberapa tahun terakhir, yang tercermin dari kualitas aset yang semakin membaik. Pertumbuhan kredit pun meningkat menjadi 15,9% pada 2025, dibandingkan 11,6% pada 2024, dan diperkirakan berada di kisaran 10% ke depan jika tidak memasukkan kredit berbasis kebijakan. Pertumbuhan ini terutama ditopang oleh segmen korporasi.

“Kami memperkirakan pertumbuhan pinjaman akan moderat selama 12-18 bulan ke depan, secara umum sejalan dengan sektor ini,” tambah Fitch Ratings. 

Di samping itu Fitch Ratings menilai eksposur kredit BNI ke program koperasi pemerintah yang mencapai 5,2% dari total portofolio masih dalam batas aman, didukung pemerintah pusat yang membantu meredam risiko. Namun demikian, Fitch mengingatkan akan mengevaluasi ulang profil risiko dan kualitas aset jika terjadi lonjakan kredit bermasalah tanpa mitigasi yang memadai.

Dari sisi kualitas aset, rasio kredit bermasalah BNI relatif stabil di level 1,9% pada 2025, sementara rasio pinjaman berisiko membaik menjadi 8,5%. Namun tekanan diperkirakan meningkat pada 2026 seiring tantangan makroekonomi. 

Fitch menilai kondisi tersebut masih dapat dikelola berkat pertumbuhan aset yang lebih moderat, standar penyaluran kredit yang semakin ketat, serta pencadangan yang cukup. Di tengah tekanan margin industri, profitabilitas BNI tetap terjaga dan diperkirakan bertahan solid, meskipun potensi kenaikan biaya pencadangan dapat menjadi penahan.

Sementara itu, permodalan BNI mulai tertekan, tercermin dari rasio Tier 1 yang turun menjadi 18,4% akibat pertumbuhan aset berisiko yang lebih tinggi. Rasio dividen yang masih tinggi di level 65% juga berpotensi menggerus cadangan modal ke depan. Kendati demikian, profil pendanaan dengan dukungan dana murah yang stabil serta peran BNI sebagai penyalur likuiditas pemerintah, tercermin dari rasio pinjaman terhadap simpanan yang turun menjadi 86,4%.

“Tetapi kami memperkirakan rasio tersebut akan meningkat secara bertahap seiring dengan upaya bank untuk menggunakan neraca keuangannya secara lebih efisien,” ungkap Fitch.

Fitch Ratings menegaskan sejumlah faktor yang dapat menekan peringkat BNI. Di antaranya, turunnya peringkat Indonesia akan langsung menurunkan GSR dan IDR BNI. Selain itu, jika pasar menilai dukungan pemerintah terhadap BNI melemah, maka Fitch juga berpotensi menurunkan peringkat. 

Tak hanya itu penurunan peringkat nasional bisa terjadi jika profil kredit BNI kalah kuat dibandingkan bank lain di dalam negeri. Fitch juga menyebut peringkat kelayakan (VR) dapat turun jika kondisi lingkungan operasional Indonesia memburuk atau kinerja keuangan BNI melemah secara signifikan. 

Namun, Fitch menilai kemungkinan skenario tersebut masih kecil dalam 12–18 bulan ke depan. Lalu penurunan IDR jangka panjang tidak otomatis menurunkan peringkat BNI, kecuali jika posisi kredit di pasar domestik ikut memburuk.

Di sisi lain, Fitch membuka peluang perbaikan terbatas. Fitch mengatakan prospek IDR BNI bisa kembali stabil apabila prospek peringkat kedaulatan Indonesia membaik. Namun, kenaikan peringkat masih sulit dalam waktu dekat karena outlook masih negatif. 

Dalam jangka menengah, Fitch hanya akan menaikkan VR jika BNI mampu meningkatkan profitabilitas dan permodalan secara signifikan hingga mendekati bank domestik dengan kinerja terbaik. 

“Tidak ada potensi peningkatan peringkat BNI karena sudah berada pada titik tertinggi dalam skala tersebut,” tulis Fitch.

PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI)

Fitch Ratings menetapkan peringkat gagal bayar penerbit (IDR) jangka panjang PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) di level ‘BBB’ dengan prospek negatif. Di sisi lain, peringkat nasional jangka panjang BRI tetap dikonfirmasi di ‘AAA(idn)’ dengan prospek stabil oleh Fitch Ratings Indonesia.

Peringkat itu terutama ditopang oleh ekspektasi dukungan kuat dari pemerintah, yang tercermin dalam Government Support Rating (GSR) di level ‘bbb’. Posisi strategis BRI sebagai salah satu bank terbesar di Indonesia, kepemilikan mayoritas oleh negara, dan perannya dalam mendorong inklusi keuangan, khususnya di wilayah pedesaan yang sulit tergantikan.

Sementara itu, profil kredit mandiri BRI yang tercermin dari Viability Rating (VR) di level ‘bbb-’ menunjukkan fundamental solid, ditopang oleh kekuatan bisnis mikro yang telah lama terbentuk, serta rekam jejak profitabilitas dan permodalan yang kuat.

“Hal ini diimbangi tingginya risiko terkait segmen peminjam intinya, yang menjadi beban pada penilaian kami terhadap profil risiko dan kualitas aset,” tulis Fitch Ratings. 

Fitch juga menilai BRI mempertahankan posisi sebagai pemimpin di pembiayaan mikro. Jaringan luas hingga ke pelosok daerah membuka akses ke basis dana murah yang belum tergarap optimal, sekaligus mendorong imbal hasil kredit yang lebih tinggi. Hal ini menjadikan BRI sebagai salah satu bank besar dengan tingkat profitabilitas terbaik di Indonesia.

“Peran BRI kemungkinan akan bertahan lama meskipun digitalisasi meningkat, karena BRI memiliki keunggulan kompetitif dari keahliannya,” tulis Fitch.

Kemudian, rasio kredit bermasalah (NPL) dan pinjaman berisiko BRI masih berada di atas rata-rata industri, seiring tantangan penyaluran kredit mikro, terutama ke segmen berpenghasilan rendah. Meski demikian, tingkat bunga di segmen ini umumnya sudah mencerminkan risiko sehingga bank masih mampu mengompensasi biaya kredit yang secara struktural lebih tinggi dibandingkan pesaing.

Namun, karakteristik nasabah dengan daya tahan keuangan terbatas membuat BRI lebih rentan terhadap lonjakan kerugian penurunan nilai yang cenderung lebih besar dan fluktuatif saat siklus kredit memburuk. Risiko tersebut sebagian tertahan oleh pencadangan BRI yang memadai.

Pinjaman terkait program koperasi pemerintah hanya sekitar 3% dari total portofolio kredit per akhir 2025. Risiko yang melekat pada fasilitas ini dinilai sebagian telah diredam oleh adanya dukungan dari pemerintah pusat.

“Namun, peningkatan material dalam proporsi pinjaman tersebut, tanpa mitigasi kredit yang sepadan, dapat menjadi beban lebih lanjut pada profil risiko atau kualitas aset BRI,” tulis Fitch.

Fitch juga menilai BRI diperkirakan mampu menjaga kinerja laba tetap solid, ditopang imbal hasil tinggi dari segmen mikro. Penurunan biaya kredit juga menjadi penopang, meski levelnya masih lebih tinggi dibandingkan bank lain. Seiring strategi pencadangan awal terhadap kredit bermasalah yang menjaga tingkat perlindungan kerugian tetap memadai.

Rasio CET1 BRI turun menjadi 22,4% pada akhir 2025 dari 25,5% pada 2024, namun masih lebih kuat dibandingkan bank BUMN lainnya. Ke depan, bank diperkirakan tetap membagikan dividen dalam jumlah besar sebagai bagian dari pengembalian modal kepada pemegang saham. 

“Meski demikian, rasio permodalan diproyeksikan menurun secara bertahap, seiring tetap kuatnya pembentukan modal dari kinerja internal,” kata Fitch.

PT Bank Mandiri Tbk (BMRI)

Fitch Ratings menegaskan peringkat BRI di level ‘BBB’ dengan prospek negatif, sejalan dengan outlook peringkat kedaulatan Indonesia. Sementara itu, peringkat nasional jangka panjang tetap di ‘AAA(idn)’ dengan prospek stabil, serta peringkat jangka pendek nasional di ‘F1+(idn)’.

Fitch menilai Mandiri mempertahankan posisi sebagai bank terbesar di Indonesia, dengan pangsa kredit sekitar 22% dan dana pihak ketiga 21% pada akhir 2025. Jaringan nasional dengan pemerintah untuk mendukung hubungan jangka panjang dengan korporasi besar dan BUMN, sekaligus memperkuat posisi di segmen wholesale banking.

Profil risiko dinilai stabil, ditopang portofolio kredit yang terdiversifikasi dengan kualitas debitur relatif baik. Pertumbuhan kredit melambat menjadi 13,4% pada 2025, namun masih di atas rata-rata industri. Sementara itu, kualitas aset tetap terjaga dengan rasio NPL stabil di 1,1% dan rasio pinjaman berisiko menurun menjadi 6,5%. 

Meski tekanan kredit diperkirakan meningkat pada 2026, Fitch menilai standar penyaluran kredit dan pencadangan yang kuat mampu menahan tekanan tersebut.

Tak hanya itu profitabilitas diperkirakan tetap solid, didukung keunggulan kompetitif dan kemampuan penetapan harga, meski margin bunga bersih berpotensi tertekan seiring siklus pelonggaran suku bunga. 

“Di sisi lain, biaya kredit cenderung meningkat sebagai bagian dari normalisasi dan penguatan pencadangan,” tulis Fitch.

Dari sisi permodalan, rasio CET1 turun menjadi 19,3% pada akhir 2025 akibat tingginya pembayaran dividen, meskipun pembentukan modal internal tetap kuat. Tingkat pembagian dividen yang tinggi diperkirakan berlanjut dalam dua tahun ke depan dan berpotensi menekan ruang permodalan jika terus berlanjut.

Fitch juga melihat likuiditas Mandiri tetap memadai, ditopang basis nasabah ritel yang besar dan dukungan pemerintah, termasuk penempatan dana oleh Kementerian Keuangan. Rasio pinjaman terhadap simpanan membaik menjadi 90% mencerminkan pertumbuhan dana yang lebih cepat dibandingkan kredit.

Namun Fitch menyebut penurunan peringkat kedaulatan Indonesia atau melemahnya dukungan pemerintah terhadap sektor perbankan dapat memicu penurunan peringkat Mandiri. Selain itu, pelemahan profil kredit relatif terhadap industri domestik juga berpotensi menekan peringkat nasional, meskipun penurunan IDR tidak otomatis berdampak pada peringkat nasional.

PT Bank Central Asia Tbk (BBCA)

Fitch Ratings menegaskan peringkat PT Bank Central Asia Tbk (BCA) dengan IDR jangka panjang di level ‘BBB’ dengan prospek negatif. Sedangkan peringkat nasional jangka panjang tetap di ‘AAA(idn)’ dengan prospek stabil.

Peringkat IDR jangka panjang BCA ditopang oleh Viability Rating (VR) ‘bbb’, yang mencerminkan kuatnya waralaba domestik. Apalagi, Fitch menilai basis pendanaan granular memberi akses besar ke dana murah dan menjaga margin bunga tetap solid. Keunggulan ini seiring kuatnya permodalan yang membuat kinerja keuangan BCA konsisten melampaui pesaing di berbagai siklus bisnis.

BCA mempertahankan posisi sebagai bank swasta terbesar dan ketiga terbesar secara keseluruhan di Indonesia, dengan sekitar 12% aset sistem per akhir 2025. Kekuatan di layanan perbankan transaksi menopang profil pendanaan yang solid serta porsi pendapatan berbasis komisi yang tinggi.

“Dan kami menganggap ini sebagai keunggulan kompetitif yang berkelanjutan dalam jangka menengah,” tulis Fitch.

Tak hanya itu Fitch melihat profil risiko BCA mencerminkan kuatnya standar penyaluran kredit dan mampu menjaga kualitas aset tetap konsisten sepanjang siklus. Target pertumbuhan kredit juga relatif lebih berhati-hati dibandingkan dengan pesaing, sehingga risiko pada neraca lebih rendah. Fitch menyebut pendekatan konservatif ini diperkirakan akan terus dipertahankan dalam beberapa tahun ke depan.

Rasio kredit bermasalah (NPL) membaik menjadi 1,7% pada akhir 2025 dari 1,8% pada 2024, sementara rasio pinjaman berisiko (LaR) turun ke 4,8% dari 5,3%, termasuk yang terendah di antara bank domestik. 

“Cadangan kredit yang mencakup 184% dari NPL pada akhir Desember 2025 juga seharusnya menjaga biaya kredit tetap rendah selama dua tahun ke depan,” tulis Fitch.

Kinerja laba BCA juga masih solid, dengan rasio laba operasional terhadap aset tertimbang menurut risiko (RWA) naik tipis menjadi 7,6% pada 2025 dari 7,5% pada 2024, meski diperkirakan telah mendekati puncak.

Di samping itu margin bunga bersih (NIM) diproyeksikan tetap terjaga, ditopang oleh dominasi dana murah, struktur kredit yang tidak cepat menyesuaikan suku bunga, serta porsi besar aset berbunga tetap dalam portofolio.

Rasio CET1 BCA mencapai 29,2%, meningkat dari 28,1% pada 2024, dan tetap menjadi salah satu yang tertinggi di antara bank besar di kawasan. Posisi ini terus menjadi salah satu faktor utama yang mendukung kekuatan peringkat bank.

“Kami percaya posisi modal solid memberikan penyangga yang cukup terhadap penurunan kualitas aset di luar apa yang ditutupi oleh pendapatan sebelum provisi dan cadangan kredit bank,” tulis Fitch.

Fitch juga melihat BCA memiliki basis dana pihak ketiga yang luas dan granular, dengan porsi dana murah (CASA) mencapai 84,6%, tertinggi di antara bank Indonesia yang diperingkat Fitch. Likuiditas juga sangat kuat, tercermin dari rasio LCR 311% dan NSFR 159%, jauh di atas rata-rata bank domestik maupun regional. 

Meski menjadi kekuatan utama, profil ini tetap dibatasi oleh peringkat Indonesia sehingga outlook masih negatif.

Fitch menegaskan Government Support Rating (GSR) BCA di level ‘bbb-’, satu tingkat di bawah peringkat Indonesia. Tingginya potensi dukungan negara mencerminkan peran penting BCA dalam sistem keuangan, termasuk menguasai sekitar 12% dana pihak ketiga nasional. BCA juga berperan dalam infrastruktur pembayaran domestik l dan sulit tergantikan dalam jangka pendek.

“Namun, kemampuan pemerintah untuk memberikan dukungan berada di bawah tekanan, seperti yang tercermin dalam prospek negatif pada peringkat Indonesia,” tulis Fitch.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Menkeu Purbaya Pede Ekonomi RI Lebih Kuat daripada Proyeksi Bank Dunia
• 8 jam lalukompas.tv
thumb
Semeru Masih Fluktuatif, Status Tetap Siaga
• 21 jam lalukompas.id
thumb
Duel Pelatih Persis Vs Bhayangkara FC: Konsistensi Milomir Seslija Diuji, Paul Munster Wajib Berhati-Hati
• 3 jam lalubola.com
thumb
Setahun Mengaspal, DENZA D9 Buktikan Kenyamanan Lewat Pengalaman Pengguna
• 5 jam lalukumparan.com
thumb
Kemenhub gandeng PSN perkuat konektivitas 3TP berbasis satelit
• 8 jam laluantaranews.com
Berhasil disimpan.