EtIndonesia. Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Senin (20 April) menyatakan bahwa kesepakatan baru antara Amerika Serikat dan Iran yang hampir tercapai akan menjamin perdamaian dan keamanan global. Ia juga menegaskan bahwa keputusannya untuk menghadapi Iran bukan dipengaruhi Israel, melainkan sikap yang telah ia pegang sejak lama. Ia mengungkapkan bahwa Wakil Presiden J. D. Vance kemungkinan akan memimpin delegasi ke Pakistan untuk berunding paling cepat pada Selasa (21 April), namun menegaskan tidak akan menerima kesepakatan yang buruk.
Dipengaruhi ketidakpastian perundingan, harga minyak melonjak tajam pada hari Senin.
Trump mengatakan bahwa kesepakatan baru dengan Iran akan membawa perdamaian, keamanan, dan stabilitas—tidak hanya bagi Israel dan Timur Tengah, tetapi juga bagi Eropa, Amerika Serikat, dan seluruh dunia.
Ia juga menegaskan bahwa alasan dirinya menghadapi Iran bukan karena Israel, melainkan serangan teroris “7 Oktober” oleh Hamas terhadap Israel, serta prinsip yang ia pegang sejak muda: Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir.
Pada hari yang sama, Trump mengatakan kepada Bloomberg bahwa perundingan AS-Iran kemungkinan akan berlangsung pada Selasa malam atau Rabu (22 April), dengan Vance memimpin delegasi.
Trump menyatakan optimisme terhadap hasil perundingan, namun menegaskan tidak akan tergesa-gesa mencapai kesepakatan yang buruk, serta kecil kemungkinan memperpanjang masa gencatan senjata yang akan berakhir pada Rabu malam.
Siaran militer AS: “Anda sedang memasuki wilayah blokade militer.”
Trump juga menegaskan bahwa Selat Hormuz tetap akan diblokade. Ia mengatakan Iran sangat ingin selat tersebut dibuka, tetapi AS tidak akan melakukannya sebelum kesepakatan tercapai.
Sementara itu, menurut laporan New York Post yang mengutip analis intelijen, komandan Garda Revolusi Iran Ahmad Vahidi dikabarkan telah secara efektif menguasai militer dan tim negosiasi Iran selama akhir pekan. Kelompok moderat yang diwakili Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi disebut semakin tersisih.
Lembaga think tank di Washington, Institute for the Study of War (ISW), juga menyebut bahwa Vahidi dan lingkaran intinya diduga telah mengendalikan Iran, serta menyatakan menolak berpartisipasi dalam perundingan damai dengan Amerika Serikat.
Meskipun Iran pada Senin membantah adanya rencana perundingan lanjutan, sumber internal menyebut bahwa meski terjadi perpecahan di tingkat atas antara kubu pro-perang dan pro-perdamaian, pada saat-saat terakhir Iran tetap setuju mengirim delegasi untuk berunding.
Akibat ketidakpastian situasi di Timur Tengah, harga minyak melonjak dan pasar saham melemah pada hari Senin. (Hui)
Reporter NTD Television, Yi Jing, melaporkan.





