Bisnis.com, PADANG — Komoditas gambir di Provinsi Sumatra Barat tengah disiapkan masuk tahap hilirisasi melalui pembangunan pabrik pengolahan guna mendorong kenaikan harga komoditas khas Ranah Minang yang belakangan tertekan. Tekanan harga terjadi seiring ketergantungan ekspor gambir yang masih bertumpu pada pasar India.
Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disperindag) Sumbar Novrial mengatakan harga rata-rata gambir tercatat terus melemah, dari US$2,20 per kilogram pada Januari, turun menjadi US$2,18 per kilogram pada Februari, dan kembali turun menjadi US$2,06 per kilogram pada Maret.
“Penurunan juga terjadi pada volume permintaan importir dari India,” katanya dikutip dari data resmi Disperindag, Selasa (21/4/2026).
Dia menyampaikan bahwa di Sumatra Barat terdapat sejumlah eksportir gambir, yang sebagian besar merupakan eksportir dari India, selain juga ada pelaku usaha lokal asal Payakumbuh. Menurutnya, kondisi harga gambir saat ini memang sedang mengalami penurunan.
Novrial menjelaskan bahwa dominasi India terjadi karena negara tersebut merupakan pasar ekspor terbesar bagi gambir. Selain ke India, sebagian kecil ekspor juga mengalir ke Nepal dan Bangladesh. Sempitnya pangsa pasar itu diduga menjadi salah satu penyebab sulitnya harga gambir di tingkat petani meningkat, sementara produksi terus bertambah.
Sejalan dengan itu, eksportir gambir Punit Kumar juga mengakui harga komoditas tersebut tengah mengalami penurunan. Dia menyebut harga gambir yang dibeli dari pengepul yang mengantarkan langsung ke gudang saat ini berada di kisaran Rp50.000 hingga Rp60.000 per kilogram, tergantung pada kualitasnya.
“Kami tentu lihat kualitas juga, kalau bagus, kami beli dengan harga bagus. Tapi kalau tidak bagus, kami juga menolaknya atau tidak bisa kami beli,” jelasnya.
Baca Juga
- Konflik Iran vs Israel-AS, Biaya Ekspor Komoditas Gambir Sumbar Naik 100%
- Tingkatkan Ekonomi Sumbar, Pemkab Lima Puluh Kota Genjot Hilirisasi Gambir
- Harga Gambir Anjlok, Petani di Sumbar Minta Intervensi Pasar
Dia juga menilai kualitas gambir di Sumatra Barat cenderung menurun dari tahun ke tahun. Menurutnya, dahulu harga gambir di tingkat petani bahkan bisa mencapai Rp100.000 per kilogram, kemudian turun menjadi sekitar Rp75.000 per kilogram, hingga kini terus melemah.
Sementara itu, petani gambir di Kabupaten Pesisir Selatan, Frenki, mengatakan harga gambir saat ini hanya sekitar Rp22.000 per kilogram di tingkat petani, bahkan kerap turun hingga Rp18.000 per kilogram.
“Kami malah bilang harga gambir sekarang tidak manusiawi lagi, susah loh untuk bertani gambir ini. Malah di hargai Rp18.000 per kg. Seharusnya paling rendah itu di harga Rp35.000 per kg, harga ini bisalah sedikit-sedikit untuk disisihkan menabung buat masa depan keluarga,” tegasnya.
Di sisi lain, Kepala Dinas Perkebunan Tanaman Pangan dan Hortikultura Sumbar Afniwirman menyebut produksi gambir di daerah tersebut justru terus meningkat.
“Jadi untuk lahan dan produksi gambir ini memang terus mengalami peningkatan. Tapi tidak dengan harganya, tren malah turun,” ujarnya
Afniwirman menyatakan peningkatan nilai gambir perlu didorong melalui pembangunan pabrik hilirisasi. Dalam hal ini, Kementerian Pertanian telah memberikan kepercayaan kepada PTPN IV yang kini bekerja sama dengan Universitas Andalas (Unand) untuk melakukan kajian dan riset lanjutan.
Dia menambahkan, sembari menunggu pembangunan pabrik tersebut, Pemprov Sumbar juga terus membantu petani melalui penyaluran alat produksi ekstrak daun.
“Bantuan berupa alat kami lakukan dari tahun ke tahun,” tegasnya.
Afniwirman mengatakan Pemprov Sumbar mendukung pembangunan pabrik hilirisasi gambir. Saat ini, pemerintah tengah memastikan lokasi pembangunan pabrik, apakah di Kabupaten Lima Puluh Kota atau Kabupaten Pesisir Selatan.
Dia berharap langkah tersebut dapat meningkatkan kesejahteraan petani gambir di Sumbar.
“Soal harga ini, liciknya pedagang saja. Soal kualitas itu hanya alasan. Makanya, pabrik hilirisasi ini akan membuktikan bahwa kualitas gambir Sumbar sangat bagus,” tutupnya.
Kolaborasi PTPN IV & UnandSebelumnya, PTPN IV PalmCo dan Universitas Andalas (Unand) telah menjalin kerja sama untuk memperkuat pengembangan gambir berbasis hilirisasi. Pada Januari 2026, keduanya mulai menyusun studi kelayakan pengembangan komoditas gambir nasional, sebagai langkah BUMN perkebunan masuk ke industri yang selama ini bertumpu pada petani rakyat.
Direktur Utama PTPN IV PalmCo, Jatmiko K. Santosa, mengatakan kerja sama tersebut difokuskan pada studi kelayakan bisnis gambir terintegrasi, mulai dari budidaya, pengolahan, hingga pasar.
Indonesia sendiri merupakan produsen gambir terbesar dunia dengan lebih dari 80% pasokan global berasal dari dalam negeri, terutama dari Sumatra Barat. Namun, sebagian besar gambir masih diekspor dalam bentuk bahan mentah sehingga nilai tambah bagi petani belum optimal.
“Pengembangan gambir ini sejalan dengan visi pemerintah untuk memperkuat daya saing komoditas perkebunan melalui hilirisasi dan kemitraan berkelanjutan. Kami ingin hadir bukan hanya sebagai pelaku bisnis, tetapi sebagai katalis peningkatan nilai tambah dan kesejahteraan petani,” katanya.
PalmCo menilai gambir sebagai komoditas strategis baru yang berpotensi dikembangkan dengan pendekatan korporasi modern tanpa meninggalkan basis petani rakyat. Karena itu, pengembangan dimulai dari fondasi ilmiah melalui studi kelayakan bersama perguruan tinggi.
“Melalui sinergi dengan Universitas Andalas, kami optimistis gambir dapat tumbuh menjadi komoditas strategis baru yang mendorong pertumbuhan ekonomi daerah dan kesejahteraan masyarakat,” kata Jatmiko.
Direktur Sistem dan Sustainability PalmCo Ugun Untaryo menambahkan studi kelayakan tersebut akan menjadi pijakan utama sebelum perusahaan mengambil keputusan investasi, dengan kajian yang mencakup aspek teknis, ekonomi, lingkungan, dan sosial.
“Kami ingin memastikan pengembangan gambir dilakukan secara terukur dan berkelanjutan, dari hulu hingga hilir. Ini penting agar investasi yang dilakukan benar-benar memberikan manfaat jangka panjang,” kata Ugun.
Transformasi Ekonomi Gambir SumbarSementara itu, Rektor Universitas Andalas Efa Yonnedi menyambut baik kolaborasi tersebut dan menilai keterlibatan perguruan tinggi penting agar gambir dapat dikelola secara modern dan berdaya saing.
“Universitas Andalas siap menghadirkan keahlian akademik dan riset terapan agar gambir tidak lagi diposisikan sebagai komoditas mentah, tetapi sebagai produk industri yang bernilai tinggi,” ujar Efa.
Pengamat Universitas Andalas Muhammad Makky menilai kebijakan pengembangan gambir sebagai langkah strategis yang dapat membuka pasar baru sekaligus memperbaiki rantai pasok dan meningkatkan kesejahteraan petani.
Dia menyebut arah kebijakan tersebut telah disusun dalam empat tahapan strategis yang dinilai terukur dan berorientasi bisnis.
“Ini bukan sekadar wacana. Desainnya jelas, dimulai dari pembukaan pasar, penguatan bahan baku, hingga pengembangan industri dan produk turunan. Kami melihat ini sebagai langkah yang sangat progresif dan realistis,” ujarnya.
Makky menjelaskan tahap awal difokuskan pada pembukaan akses ekspor langsung melalui kolaborasi BUMN dan eksportir lokal, yang diharapkan memangkas rantai distribusi dan memperbaiki harga di tingkat petani.
“Dengan rantai pasok yang lebih pendek, disparitas harga bisa ditekan. Ini penting agar petani mendapatkan harga yang lebih adil dan layak,” jelasnya.
Dia menambahkan, penguatan koperasi desa juga menjadi bagian penting agar petani bisa terhubung langsung dengan sistem pasok nasional.
Menurutnya, skema ini berpotensi memperkuat posisi tawar petani dalam rantai industri gambir.
Sementara itu, Mentan Amran menekankan bahwa hilirisasi gambir akan memberikan nilai tambah yang tinggi bagi perekonomian Sumbar.
Dia melihat Sumbar punya potensi besar untuk komoditas gambir, menghadirkan hilirisasi adalah langkah yang tepat, sehingga dapat memberikan dampak ekonomi yang besar bagi daerah, maupun nasional.
“Kami mohon dukungan bupati dan gubernur. Sawit sudah ada hilirisasinya, sudah jalan dan ekspor. Tapi gambir belum ada hilirisasinya. Nah, ini bisa menambah kesejahteraan petani kita di Sumbar,” tutupnya.





