Peringatan Hari Kartini di KB-TK Islamic Center Surabaya berlangsung meriah pada Rabu (22/4/2026).
Kegiatan ini tak sekadar perayaan, melainkan juga sarana edukasi untuk menanamkan nilai nasionalisme serta mengenalkan sosok RA Kartini kepada anak-anak.
Dwi Istiawati Kepala TK Islamic Center Surabaya menjelaskan bahwa kegiatan ini dirancang untuk membangun karakter kebangsaan sekaligus memperkenalkan perjuangan Kartini dalam memperjuangkan hak pendidikan bagi perempuan.
“Dengan mengenal Ibu Kartini, anak-anak bisa memahami bahwa perempuan juga memiliki kesempatan yang sama untuk belajar dan meraih cita-cita, seperti menjadi dokter atau profesi lainnya,” ujarnya.
Dwi Istiawati menambahkan bahwa pemahaman tersebut penting karena pada masa lalu akses pendidikan lebih banyak diberikan kepada laki-laki. Melalui perjuangan Kartini, perempuan kini memiliki kesempatan yang setara untuk mengenyam pendidikan.
Dalam rangkaian kegiatan, para murid tampil mengenakan beragam pakaian adat dari berbagai daerah di Indonesia. Langkah ini bertujuan untuk mengenalkan keberagaman budaya sekaligus menanamkan semangat persatuan sejak dini.
“Anak-anak kami arahkan memakai baju adat agar mereka mengenal bahwa Indonesia memiliki berbagai suku bangsa dengan adat istiadat dan pakaian yang berbeda-beda, tetapi tetap satu dalam Indonesia,” katanya.
Selain itu, sekolah juga menggelar lomba ibu dan anak yang merupakan bagian dari program Ikatan Guru Taman Kanak-kanak Indonesia (IGTKI). Para pemenang di tingkat sekolah kemudian melanjutkan ke kompetisi tingkat Kota Surabaya yang digelar di Kebun Binatang Surabaya pada 18 April lalu.
Antusiasme tinggi terlihat dari partisipasi murid maupun dukungan orang tua. Para wali murid turut berperan aktif dalam menyukseskan kegiatan, termasuk menyiapkan kostum pakaian adat untuk anak-anak.
“Alhamdulillah wali murid sangat mendukung dan bekerja sama dengan baik dalam setiap program kegiatan sekolah, termasuk peringatan Hari Kartini ini,” ungkapnya.
Melalui kegiatan ini, pihak sekolah berharap para siswa semakin termotivasi untuk belajar, sekaligus menumbuhkan sikap toleransi dan persaudaraan di tengah keberagaman latar belakang.
“Anak-anak di sini berasal dari berbagai suku, seperti Madura dan Jawa. Harapannya mereka bisa saling menghormati, hidup rukun, dan saling menyayangi,” tuturnya. (rzl/saf/ipg)




