Bisnis.com, JAKARTA- Produsen komponen otomotif mulai didera kenaikan ongkos produksi seiring melesatnya harga bahan baku, terutama resin.
Memasuki kuartal II/2026, situasi industri otomotif belum cukup menggembirakan. Di tengah kelesuan pasar, justru efek perang di Timur-Tengah mulai merambat.
Selain harga energi, dampak perang ikut mengerek bahan baku turunan dari minyak mentah, sekaligus menghambat pengiriman ekspor maupun impor. Salah satu komoditas yang langsung melonjak adalah Nafta, sebagai material hulu petrokimia.
Dampak lanjutannya, produk turunan petrokimia seperti resin untuk plastik, mulai melambung. Material ini merupakan satu dari sekian banyak bahan untuk produksi komponen otomotif.
Hal tersebut sangat dirasakan PT Ragam Purna Sejahtera, produsen komponen otomotif seperti kabel transmisi dan sejenisnya. “Saat ini kenaikan paling berasa untuk komponen plastik, sebab resinnya aja naik hingga 30-40%,” ungkap Ahmad Mulyana, Division Head Marketing & Production PT Ragam Purna Sejahtera kepada Bisnis, beberapa waktu lalu.
Dia menjelaskan bagi produsen komponen otomotif berskala Industri Kecil Menengah (IKM), kenaikan material ini sangat memukul roda bisnis. Terlebih lagi, kata Ahmad, untuk harga jual produk sudah terikat kontrak.
Baca Juga
- Mengenal 7 Komponen Kunci Penggerak Mobil Listrik
- Baterai EV Jadi Komponen Termahal, Segini Estimasi Biaya Penggantiannya
- Hyundai Hentikan Penjualan SUV Palisade 2026 di AS, Komponen Kursi Bermasalah
“Kami tidak bisa seenaknya menaikan harga, karena ada kontrak. Makanya, kami tahan saja dulu kenaikan harga material ini,” ungkap Ahmad.
Di sisi lain, dia menilai kondisi ini memaksa produsen untuk melakukan berbagai efisiensi. “Beruntung manufaktur seperti Toyota ikut mendampingi kami, mengajari bagaimana efisiensi bisa dilakukan, sehingga bisa meredam gejolak harga,” jelasnya.
Namun bagi produsen komponen otomotif skala besar, situasi saat ini tidak jauh berbeda. Hanya saja, para produsen besar masih dapat membidik pasar purnajual ataupun ekspor.
Hal ini diungkapkan Sekretaris Jenderal Gabungan Industri Alat Mobil dan Motor (GIAMM) Rachmat Basuki. Menurutnya, para produsen otomotif tengah menghadapi dua petarungan sekaligus, pasar yang lesu dan kenaikan ongkos produksi.
“Terlebih lagi ditambah, kini pasar ekspor pun tidak bagus karena terimbas perang juga,” kata Rachmat.
Dia membenarkan beberapa bahan baku produksi mulai merangkak naik. Beruntungnya, produsen besar masih mempunyai celah untuk segmen perdagangan purnajual.
Lebih jauh, Rachmat menyayangkan di tengah situasi ini, produk impor justru membanjir. “Hingga saat ini aliran deras justru mobil listrik, yang kesemuanya masih diimpor, tidak berefek terhadap industri komponen,” simpulnya.





