Situbondo, tvOnenews.com — Pemerintah Kabupaten Situbondo memulai langkah serius melawan bencana banjir yang berulang dengan pendekatan paling mendasar: memulihkan alam.
Sebanyak 20 ribu bibit pohon disiapkan untuk ditanam di wilayah rawan, menyasar lahan kritis seluas sekitar 20 hektare.
Program ini bukan sekadar seremoni penanaman, melainkan bagian dari strategi ekologis jangka panjang untuk memperbaiki kerusakan lingkungan yang selama ini menjadi pemicu utama banjir dan longsor di daerah tersebut.
Bupati Situbondo, Yusuf Rio Wahyu Prayogo, menegaskan bahwa gerakan ini lahir dari kesadaran bahwa persoalan banjir tidak bisa diselesaikan hanya dengan penanganan darurat, tetapi harus menyentuh akar masalah.
“Situbondo berulang kali dilanda banjir. Salah satu penyebab utamanya adalah hutan yang gundul. Maka solusi dasarnya bukan tambal sulam, tapi menanam pohon dan memulihkan ekosistem,” kata Mas Rio saat penanaman pohon di Desa Semambung, Kecamatan Jatibanteng, Rabu (22/4).
Dalam waktu kurang dari satu bulan, pemerintah daerah berhasil menghimpun puluhan ribu bibit melalui kolaborasi lintas sector, mulai dari program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR), organisasi perangkat daerah (OPD), hingga partisipasi berbagai elemen masyarakat.
“Ini bukti bahwa kalau dikerjakan bersama, pemulihan lingkungan bisa dipercepat,” ujarnya.
Penanaman difokuskan pada kawasan yang selama ini menjadi titik rawan bencana, seperti lereng gundul dan daerah aliran sungai yang kehilangan daya serap air. Wilayah sasaran mencakup Tambak Ukir, Mlandingan, Bungatan, hingga Jatibanteng yang berbatasan dengan Banyuglugur.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Situbondo, Sandy Hendrayono, menjelaskan bahwa pendekatan teknis dilakukan secara spesifik sesuai karakteristik wilayah.
Untuk kawasan bantaran sungai, ditanam pohon berakar kuat seperti trembesi, bambu, dan ketapang guna menahan erosi dan memperkuat struktur tanah. Sementara di wilayah permukiman, masyarakat dilibatkan dalam menentukan jenis tanaman, termasuk tanaman buah dan kayu produktif seperti sengon dan gamalina.
“Pendekatannya partisipatif. Kalau masyarakat dilibatkan sejak awal, mereka akan merasa memiliki dan ikut merawat,” kata Sandy.
Lebih jauh, pemerintah memastikan program ini tidak berhenti sebagai kegiatan simbolik. DLH telah menyiapkan mekanisme evaluasi dan penyulaman untuk mengganti tanaman yang tidak tumbuh.
“Kami masih menyimpan stok bibit. Kalau ada yang mati, langsung diganti. Ini program berkelanjutan, bukan seremonial,” tegasnya.




