Dunia Yang Tak Lagi Percaya Amerika Serikat

suarasurabaya.net
1 jam lalu
Cover Berita

Konflik terbuka Amerika Serikat-Israel dan Iran ini pelan tapi pasti, bergerak menuju keretakan tata dunia yang sudah terbangun puluhan tahun sejak Perang Dunia II : kepercayaan kepada Amerika Serikat.

Saat fondasi itu goyah, getarannya tidak berhenti di Washington, Teheran, atau Tel Aviv. Ia menjalar ke bandara-bandara Asia, ke pabrik-pabrik yang kehilangan pasokan, ke sopir-sopir angkutan yang tercekik harga bahan bakar, hingga ke rumah tangga yang harus membayar lebih mahal untuk hidup yang sama.

Saya kira di sinilah letak soal yang paling penting. Dunia modern memang dibangun oleh teknologi, pasar, dan persenjataan. Tapi ia hanya bisa bekerja relatif stabil jika ada trust. Francis Fukuyama akademisi dari Stanford University mengingatkan bahwa trust adalah basis kerja sama manusia, semacam pelumas sosial yang memungkinkan institusi, transaksi, dan relasi politik berjalan. Dalam konteks internasional, trust itu bahkan lebih menentukan, karena tidak ada “polisi dunia” yang sungguh-sungguh bisa memaksa semua negara tunduk. Yang bekerja adalah reputasi, konsistensi, dan keyakinan bahwa satu negara masih bisa dipegang kata-katanya. Ketika itu hilang, kekuatan sebesar apa pun menjadi jauh kurang meyakinkan.

Dulu, dengan segala dosa sejarahnya, Amerika masih bisa dilihat sebagai jangkar. Tidak selalu dicintai. Tidak juga selalu disukai. Tapi setidaknya masih dianggap bisa diprediksi.

Sekarang, di era Trump jilid kedua, yang muncul justru kesan sebaliknya. Jonathan Rauch dan Peter Wehner, keduanya sahabat yang sama-sama menjadi kolumnis di The New York Times. Mereka menggambarkan pemerintahan ini sebagai sesuatu yang kehilangan keterikatan yang konsisten pada realitas.

Mereka memakai istilah yang sengaja tajam, “psychotic state”, bukan sebagai diagnosis klinis, melainkan sebagai metafora bagi negara yang berpikir meloncat-loncat, impulsif, dan tanpa proses yang waras. Dalam perang Iran, tujuan perang berubah-ubah, ancaman berubah-ubah, tenggat berubah-ubah, bahkan penjelasan resmi bisa berganti dalam satu tarikan napas politik. Negara adidaya itu tampak tidak sedang memimpin krisis, melainkan ikut menjadi sumber krisis.

Di sini saya ingin menaruh gagasan yang menurut saya, penting. Masalah terbesar Amerika hari ini bukan hanya perang yang ia mulai, tetapi kepercayaan yang ia habiskan. Ini bukan kalimat retoris. Ini gejala geopolitik. Sebab dalam dunia yang sangat terhubung, trust adalah infrastruktur yang tak terlihat. Ia tidak sekeras baja, tidak serumit kapal induk. Tapi tanpa trust, aliansi menjadi tanpa jiwa, pasar menjadi gugup, sekutu mulai berhitung sendiri, dan lawan membaca celah dengan cepat. Kekuatan militer AS memang tetap menakutkan, tetapi legitimasi strategisnya menipis. Dan ketika legitimasi menipis, kemenangan militer pun belum tentu menghasilkan kemenangan politik.

Bob Bowker profesor dari Centre for Arab and Islamic Studies di Australian National University (ANU) menunjukkan ironi itu dengan gamblang. Menurutnya, perang ini justru menempatkan Amerika dalam posisi strategis yang lebih buruk daripada saat ia masuk ke konflik. Iran tidak tumbang. Rezimnya tetap utuh. Sebagian stok misilnya masih ada. Uranium yang diperkaya masih tersisa. Bahkan Selat Hormuz, yang tadinya sekadar jalur ekspor energi, berubah menjadi aset tekan strategis bagi Iran. Dengan kata lain, perang yang dijalankan untuk menekan Iran justru memberi Iran leverage baru. Di titik ini, superioritas militer Amerika terlihat seperti palu besar yang dipukulkan ke meja, tetapi meja itu tidak pecah, justru ruang di sekitarnya yang berantakan.

Yang lebih menyedihkan, biaya dari kekacauan itu tidak dibayar terutama oleh para perancangnya. Asia yang menanggung pukulan paling nyata di luar Timur Tengah.

Damien Cave jurnalis senior The New York Times yang sekarang memimpin biro media itu di Ho Chi Minh, Vietnam menulis bahwa kawasan Asia-Pasifik menjadi zona dampak eksternal pertama dan terburuk. Alasannya jelas. Asia sangat bergantung pada energi Timur Tengah, dan ekonominya bertumpu pada rantai pasok yang rapat, panjang, dan saling mengunci. Ketika perang menahan aliran minyak, gas, dan produk samping vital seperti pupuk serta helium, maka yang terganggu bukan hanya grafik ekonomi, tapi kehidupan sehari-hari. Penerbangan dibatalkan. Harga avtur melonjak. Maskapai memangkas rute. Garmen Bangladesh terganggu. Harga kemasan plastik membengkak menyulitkan UMKM di Indonesia. Produksi chip Taiwan juga ikut cemas. Bahkan ancaman kemiskinan baru membayangi jutaan orang. Rudal memang bersliweran di Timur Tengah, tetapi gemanya memukul dapur Asia.

Di situlah saya melihat wajah baru krisis global. Satu negara bertindak sembrono, kawasan lain ikut sesak napas. Ini pelajaran pahit tentang globalisasi. Kita saling terhubung, tetapi tidak saling dilindungi secara adil. Negara yang jauh bisa membuat keputusan yang kacau, sementara masyarakat di belahan lain harus menanggung inflasi, kelangkaan, dan ketidakpastian. Karena itu saya kira terlalu dangkal jika perang Iran hanya dibaca sebagai duel antara Washington dan Teheran. Ia sesungguhnya adalah cermin dari rusaknya tata kelola kekuasaan global, ketika pusat kekuatan terbesar justru tampak paling tidak stabil secara politik dan institusional.

Fukuyama menulis bahwa dunia tidak lagi mempercayai Amerika, “in much the same way that Americans no longer trust themselves.” Kalimat ini keras, tetapi sangat layak direnungkan. Sebab retaknya trust eksternal ternyata berkelindan dengan pecahnya trust internal. Polarisasi domestik di Amerika membuat warga mereka sendiri tak lagi berbagi landasan fakta yang sama. Ketika masyarakat terbelah sedalam itu, negara akan sulit menghadirkan kebijakan luar negeri yang stabil. Dunia pun melihatnya. Sekutu melihatnya. Lawan melihatnya. Dan di era Trump, dunia melihat presiden Amerika bukan sebagai pemimpin dari sistem yang tertata, melainkan sebagai pusat impuls dari sistem yang bisa berubah sesuka hati.

Di sinilah NATO, negara-negara Teluk, bahkan mitra-mitra lama Amerika berada dalam posisi yang aneh. Mereka mungkin belum sepenuhnya memutus ikatan. Mereka masih berdiri di podium yang sama. Masih menyebut pentingnya kerja sama. Masih mengeluarkan pernyataan formal. Tetapi trust bukan diukur dari bunyi komunike. Trust diukur dari seberapa jauh satu pihak berani menaruh masa depan strategisnya pada pihak lain. Dan hari ini, tampaknya, banyak negara tidak lagi mau menaruh seluruh nasib mereka di tangan Amerika yang bermanuver zig-zag. Mereka bukan sedang berkhianat. Mereka sedang belajar realistis.

Saya pikir juga sebuah kekeliruan besar jika semua ini dibaca hanya sebagai soal karakter Trump. Ya, karakter memang penting. Mental stabilitas penting. Disiplin institusional penting. Tapi bila kita berhenti pada moralitas personal, kita bisa kehilangan gambaran yang lebih luas. Trump memang akselerator yang brutal. Namun ia juga gejala. Ia muncul dari Amerika yang sudah lama mengalami polarisasi, kelelahan imperial, kemerosotan konsensus elit, dan krisis common sense demokratis. Jadi yang kita saksikan hari ini bukan sekadar seorang presiden yang impulsif. Kita sedang menyaksikan negara besar yang kesulitan mengelola dirinya sendiri, tapi masih memegang kapasitas untuk mengacaukan dunia. Dan itu kombinasi yang jauh lebih berbahaya.

Kalau begitu, apa inti pelajarannya? Menurut saya begini. Dalam geopolitik modern, trust bukan aksesori moral. Ia adalah alat produksi stabilitas. Ia bekerja diam-diam, seperti akar pohon yang tidak terlihat tetapi menahan batang tetap tegak saat angin datang. Amerika mungkin masih punya militer yang besar. Masih punya dolar. Yang menopang ekonomi global. Masih punya pengaruh budaya. Tetapi ketika trust terhadapnya menipis, semua instrumen keras itu kehilangan sebagian daya magisnya. Sekutu akan datang setengah hati. Pasar akan merespons dengan kecemasan. Lawan akan menguji batas. Dan kawasan lain, seperti Asia, akan dipaksa membayar ongkos dari ketidakpastian yang tidak mereka ciptakan.

Pada akhirnya, dunia mungkin bisa pulih dari satu perang. Dunia juga mungkin bisa bertahan dari satu presiden yang buruk. Tetapi pemulihan dari runtuhnya trust ini jauh lebih lama. Energi bisa dicari alternatifnya. Jalur logistik bisa dialihkan. Aliansi bisa ditambal. Tapi sekali kepercayaan pecah, tidak mudah kembali hanya lewat pidato. Ia hanya pulih lewat konsistensi yang panjang, disiplin yang rendah hati, dan kemampuan sebuah negara untuk kembali waras dalam menggunakan kekuatannya. Amerika hari ini belum sampai di sana. Dan selama belum sampai di sana, dunia akan terus hidup dalam satu pertanyaan yang melelahkan: bukan lagi apakah Amerika kuat, tetapi apakah Amerika masih bisa dipercaya?

Eddy Prastyo | Editor in Chief Suara Surabaya Media | Alumni Unites States International Visitor Leadership Program (IVLP) 2023


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Dua Kapal Pertamina Masih Tertahan di Selat Hormuz, Menlu Pastikan Stok BBM Indonesia Aman
• 1 jam laluidxchannel.com
thumb
Dikelabui Jurnalis Menyamar, Pejabat Nuklir AS Bocorkan Informasi Rahasia hingga Pembunuhan Pemimpin Iran
• 32 menit laluokezone.com
thumb
Bantuan Tak Merata, Korban Banjir Demo di Kantor Bupati Langkat
• 17 jam lalurctiplus.com
thumb
Pemkab Berau Lakukan Perlindungan Pertanian dari Kemarau 2026
• 14 jam lalurepublika.co.id
thumb
Kak Kev Debut di Monster Pabrik Rambut, Sutradara: Saya Tidak Menyesalinya
• 23 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.