Ketika Plastik Naik, Siapa yang Paling Menanggung?

kumparan.com
1 jam lalu
Cover Berita

Di warung gorengan pojok gang, Mbok Ijah sudah dua minggu terakhir mengemas dagangan dengan kertas bekas koran. Bukan karena ia tiba-tiba peduli lingkungan. Tapi karena kantong kresek yang biasa ia beli kini naik dari Rp10.000 menjadi Rp15.000 per pak, sementara plastik ukuran jumbo melonjak dari Rp25.000 hingga Rp50.000, hampir dua kali lipat dalam waktu singkat (LBS Urun Dana, 2026). Margin gorengannya sudah tipis sejak dulu. Sekarang, makin tipis lagi.

Inilah wajah nyata dari krisis plastik yang sedang berlangsung, tetapi jarang dilihat dari sudut pandang yang benar.

Publik cenderung memandang kenaikan harga plastik sebagai isu industri besar soal pabrik kemasan, perusahaan minuman dalam kemasan, atau kebijakan ekspor-impor. Padahal tekanan terbesar justru mendarat di kelompok yang paling tidak punya ruang untuk menyerap kejutan: pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) serta konsumen menengah ke bawah.

Pakar Ekonomi Koperasi dan UMKM dari Universitas Airlangga, Atik Purmiyati, mengungkapkan bahwa kenaikan harga plastik di Indonesia berkisar antara 30 hingga 80 persen hingga April 2026 (Purmiyati sebagaimana dikutip dalam Universitas Muhammadiyah Malang [UMM], 2026). Angka ini bukan abstrak. Artinya, biaya kemasan yang sebelumnya bisa ditekan kini memaksa pedagang kecil memilih: naikkan harga jual, kurangi porsi, atau ganti bahan. Ketiga pilihan itu sama-sama menyakitkan, baik bagi pedagang maupun pembelinya.

Kerentanan Struktural yang Dibiarkan

Akar masalahnya bukan di dalam negeri. Anggota Komisi VII DPR RI, Yoyok Riyo Sudibyo, menjelaskan bahwa kenaikan harga plastik dipicu terganggunya pasokan bahan baku nafta akibat konflik di Timur Tengah, sementara Indonesia masih mengimpor sekitar 60 persen bahan baku plastik (DPR RI, 2026). Ketergantungan ini bukan berita baru. Sekretaris Jenderal Asosiasi Industri Olefin, Aromatik, dan Plastik Indonesia (Inaplas), Fajar Budiono, bahkan menyebut sekitar 70 persen bahan baku industri plastik nasional masih berasal dari kawasan Timur Tengah (Bisnis.com, 2026a).

Artinya, kita bicara tentang kerentanan struktural yang sudah lama dibiarkan. Setiap kali geopolitik global bergejolak, rantai produksi domestik yang paling rentan selalu ikut terseret, dan yang paling cepat merasakannya bukan korporasi besar, melainkan warung-warung kecil yang tidak punya cadangan modal. Seperti yang diungkapkan Yoyok, "Tekanan global kini tidak lagi berhenti di sektor energi atau industri besar, tetapi sudah masuk ke biaya dasar produksi usaha kecil" (DPR RI, 2026, para. 3).

Korban Ganda: Pedagang dan Konsumen

Bagi produsen skala menengah pun, situasinya tidak lebih baik. Karyanto Wibowo dari Asosiasi Pengusaha Air Minum Dalam Kemasan mencatat bahwa harga PET resin dan bahan plastik pendukung melonjak antara 25 hingga 70 persen, bahkan mencapai 100 persen untuk beberapa jenis material, sehingga biaya produksi secara keseluruhan meningkat 35 hingga 45 persen (CNBC Indonesia, 2026). Produsen besar masih bisa bernegosiasi dengan pemasok atau menunda penyesuaian harga beberapa bulan. Pedagang kecil tidak punya kemewahan itu.

Yang lebih mengkhawatirkan adalah efek berantainya. Yoyok memperingatkan bahwa dampak lanjutan dari kenaikan biaya produksi sudah mulai dirasakan masyarakat, seperti naiknya harga makanan dan menyusutnya ukuran produk konsumsi (DPR RI, 2026). Fenomena terakhir ini yang dalam bahasa ekonomi disebut shrinkflation adalah cara paling senyap untuk memindahkan beban ke konsumen tanpa mereka sadari. Bungkus mie instannya masih sama, tapi isinya berkurang. Minuman sachetnya masih seribu rupiah, tapi lebih encer.

Konsumen menengah ke bawah adalah korban ganda dalam situasi ini: mereka membeli produk yang harganya naik atau isinya susut, sementara pendapatan mereka tidak ikut menyesuaikan diri.

Kemasan Guna Ulang Bukan Jawaban Hari Ini

Solusi jangka pendek seperti kemasan guna ulang atau kemasan berbasis bahan alami memang mulai dilirik sebagai alternatif (Kompas.com, 2026). Dorongan ini patut diapresiasi dari sudut pandang keberlanjutan lingkungan. Namun jujur saja, itu bukan jawaban untuk Mbok Ijah yang butuh kantong plastik murah besok pagi. Peralihan ke kemasan alternatif membutuhkan investasi awal, perubahan rantai distribusi, dan adaptasi perilaku konsumen semuanya memerlukan waktu dan modal yang tidak dimiliki pedagang kelas kecil.

Solusi struktural yang lebih mendesak adalah mengurangi ketergantungan pada impor bahan baku petrokimia. Ini bukan agenda baru; sudah lama dibicarakan dalam berbagai forum kebijakan industri. Tapi realisasinya lamban. Selama infrastruktur industri petrokimia dalam negeri tidak diperkuat, kita akan terus mengalami skenario serupa setiap kali ada gangguan rantai pasok global.

Apa yang Seharusnya Dilakukan?

Pemerintah perlu hadir lebih dari sekadar mengimbau pelaku usaha untuk "berinovasi" atau "beradaptasi." Kata-kata itu terdengar bagus di press release, tetapi kosong bagi pedagang yang modalnya pas-pasan. Beberapa langkah konkret yang mendesak: pertama, stabilisasi rantai pasok melalui diversifikasi sumber impor bahan baku agar tidak hanya bergantung pada kawasan Timur Tengah; kedua, skema subsidi atau kredit bahan baku yang tepat sasaran bagi UMKM yang terdampak langsung; dan ketiga, percepatan investasi industri petrokimia dalam negeri sebagai solusi jangka panjang.

Data BPS mencatat nilai impor plastik dan produk turunannya mencapai US$873,2 juta hanya dalam satu bulan (Detik.com, 2026). Angka ini menggambarkan betapa besar ketergantungan kita dan betapa besarnya potensi yang bisa dihemat jika sebagian produksi dilokalkan.

Isu Kesejahteraan, Bukan Sekadar Isu Industri

Plastik memang bukan produk yang ramah lingkungan. Tapi selama ia masih menjadi tulang punggung kemasan produk kebutuhan pokok di Indonesia dari tempe sampai air minum, maka lonjakan harganya adalah isu kesejahteraan, bukan sekadar isu industri. Kompas.id (2026) sendiri telah mengidentifikasi bahwa pendekatan siklus hidup (life cycle thinking) perlu dipadukan dengan kebijakan yang menjaga daya beli kelompok rentan, bukan hanya mendorong substitusi bahan.

Dan seperti biasa, yang paling tidak bersuara adalah yang paling menanggung. Mbok Ijah tidak akan menulis opini. Ia hanya akan terus melipat koran bekas menjadi kantong, sambil berharap esok harga kresek turun.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
BI Catat Kredit Perbankan Tumbuh 9,49 Persen di Maret 2026
• 3 jam laluidxchannel.com
thumb
Ricky Kambuaya Diserang Rasisme, Respons Tegasnya Viral di Media Sosial
• 2 jam lalumedcom.id
thumb
Jalur Sepeda Manggarai Jaksel Jadi Tempat Sampah, Bukti Gagalnya Tata Kota
• 9 jam lalukompas.com
thumb
PT Adaro Andalan (AADI) Mau Buyback Saham Rp 5 Triliun
• 8 jam lalukumparan.com
thumb
Jadwal Thomas dan Uber Cup 2026: Ini Lawan Tim Indonesia
• 8 jam lalubisnis.com
Berhasil disimpan.