Universitas Negeri Surabaya (Unesa) menduga pria inisial H joki Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT) 2026 merupakan jaringan nasional.
Martadi Wakil Rektor I Bidang Pendidikan, Kemahasiswaan, dan Alumni Unesa menyebut, hasil penelurusan dan interogasi joki inisial H yang tertangkap saat tes kemarin Selasa (21/4/2026) punya dua lapis atasan.
“Ada dua layer di atasnya dan layer itu selalu missing link. Sudah enggak bisa disebut lagi,” bebernya ke awak media, Rabu (22/4/2026).
Pengakuan H, yang mengklaim asal Surabaya itu, direkrut atasannya di kafe, dengan disiapkan semua dokumen administrasi atas nama pemesan joki.
“Dia juga ternyata dilatih menghafalkan nama anaknya, orang tuanya siapa dan seterusnya. Nah, kemarin ketika yang bersangkutan kita tanya, katanya dia orang Madura. Begitu kita tanya, Bahasa Madura, dia enggak bisa,” bebernya.
Sesama joki diduga tidak saling mengenal dan tidak pernah bertemu. H hanya bisa menyebutkan satu orang yang merekrutnya berasal dari Jawa Barat.
“Jadi, mereka (joki) direkrut di sebuah kafe. Konon dua kali dia (joki inisial H yang tertangkap di Unesa) pertemuan untuk mendapat order itu. Lalu setelah itu apakah kamu kenal dengan joki yang lain? mereka tidak pernah dipertemukan. Hanya ketemu dengan satu pihak, satu layer di atasnya,” ungkapnya.
Namun, selama satu jam diinterogasi, H tidak membuka identitas yang bisa dibuktikan dengan dokumen asli sama sekali.
“Dugaan saya ada dua kemungkinan. Karena dia tidak dibekali KTP, tidak dibekali kartu mahasiswa. Kalau dia membekali diri dengan kartu mahasiswa, ketangkap dia habis. Perguruan tingginya habis. Jadi sampai kemarin kita hampir 1 jam dalami, mereka tidak mengaku sebagai mahasiswa. Karena juga tidak logis orang pintar bisa jadi joki kalau statusnya hanya lulusan SMA,” paparnya lagi.
Pascatemuan itu, Unesa menjalankan antisipasi dengan memperketat Standar Operasional Prosedur (SOP).
“Kalau ada tas kresek warna merah yang kami kunci, itu adalah salah satu bentuk antisipasi. SOP-nya kan hanya dikumpulkan, tapi kami masukkan di tas kresek. Lalu kami kunci dengan plastik itu, kemudian kami letakkan di luar tidak di ruangan. Kenapa? Karena kami menghindari jangan sampai ada radius pemancaran sinyal HP,” bebernya.
Salah satunya mengumpulkan ponsel di luar ruangan agar tidak ada kecurangan peserta yang dipandu dalam menjawab soal.
“Karena pengalaman selama ini kan begitu. Dimasukkan ke chip,” ungkapnya.
Sebelum peserta masuk ruangan, wajib diperiksa, agar tidak menggunakan alat apapun yang melekat di tubuh.
“Untuk yang pakai hijab pun kami menyiapkan petugas perempuan untuk menggeledah sampai di telinga. Karena ada yang kemarin pakai dimasukkan ke telinga, ada yang kemudian pakai seolah-olah dia sedang gangguan telinga sehingga pakai pendengar seterusnya,” tuturnya. (lta/rid)




