Penulis: Nirmala Hanifah
TVRINews, Jakarta
Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) telah memulai ribuan program riset nasional tahun 2026 setelah penandatanganan kontrak pendanaan penelitian, pengabdian kepada masyarakat, dan hilirisasi riset. Di mana, ada sebanyak 18.215 kegiatan riset resmi masuk tahap implementasi.
Tak hanya itu, pada penandatanganan kontrak tersebut menjadi penanda bahwa program yang telah lolos seleksi kini mulai dijalankan secara konkret dengan target memberikan dampak langsung bagi masyarakat. Hal tersebut, diungkapkan oleh Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Fauzan.
Pada kesempatan tersebut, ia menegaskan jika peran penting para penerima pendanaan sebagai garda terdepan dalam menyelesaikan berbagai persoalan bangsa melalui riset.
“Bapak-Ibu penerima kontrak pendanaan adalah duta institusi perguruan tinggi. Bapak-Ibu menjadi ujung tombak penyelesaian isu sosial yang beragam dan kompleks di Indonesia,” ujar Wamen Fauzan kutip Rabu, 22 April 2026.
Lebih lanjut, ia menuturkan jika sepanjang bulan Januari hingga April 2026, pemerintah telah menggelontorkan dana sebesar Rp1,7 triliun untuk mendukung program tersebut.
“Anggaran ini disalurkan melalui sembilan skema utama, dengan program penelitian menjadi yang paling dominan, baik dari sisi jumlah proposal maupun nilai pendanaan,” terangnya
Dikesempatan yang sama,!Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan Fauzan Adziman menekankan bahwa riset harus menghasilkan dampak nyata, bukan sekadar memenuhi laporan administratif.
“Riset tidak boleh berhenti pada output administratif. Kita dorong agar riset menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat dan industri,” ujar Dirjen Fauzan Adziman.
Selain penelitian, program lain seperti pengabdian masyarakat, hilirisasi riset, hingga pengujian prototipe juga mendapat porsi pendanaan. Pemerintah juga mendorong kolaborasi lintas perguruan tinggi melalui konsorsium riset serta memperkuat pusat unggulan iptek.
Di sisi lain, keterlibatan mahasiswa dalam program berdampak turut diperluas, termasuk penguatan riset berbasis seni dan budaya melalui inovasi karya nusantara serta kerja sama internasional dengan mitra luar negeri.
Pendanaan riset ini tidak hanya bersumber dari APBN, tetapi juga didukung dana abadi pendidikan dan kerja sama dengan berbagai pihak, termasuk industri dan pemerintah daerah. Pemerintah juga memberi ruang pemberian honorarium peneliti hingga 25 persen dari total anggaran penelitian.
Secara nasional, penerima pendanaan tersebar di berbagai perguruan tinggi dengan dominasi pada bidang sosial humaniora, kesehatan, dan pangan. Fokus riset diarahkan pada delapan sektor strategis, mulai dari kesehatan, energi, hingga pertahanan.
Editor: Redaktur TVRINews





