Bank Indonesia (BI) memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap berada dalam kisaran 4,9-5,7 persen pada 2026.
Gubernur BI, Perry Warjiyo, mengatakan berbagai respons kebijakan terus diperkuat untuk memitigasi dampak perlambatan ekonomi global sekaligus mendorong sumber pertumbuhan dari sisi permintaan domestik.
“Bank Indonesia memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2026 dalam kisaran 4,9-5,7 persen,” ucap Perry dalam Konferensi Pers Hasil RDGB April 2026 dengan Cakupan Triwulanan, Rabu (22/4).
Sementara itu, inflasi diperkirakan terjaga dalam target 2,5 persen plus minus 1 persen. Defisit pun diproyeksikan berada di kisaran 0,5 persen hingga 1,3 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
“Pertumbuhan kredit juga akan mencapai 8 sampai 12 persen dan (soal) nilai tukar kami akan jaga stabil dan akan cenderung menguat,” lanjut Perry.
Secara fundamental, penguatan rupiah didukung oleh sejumlah faktor, antara lain pertumbuhan ekonomi yang tetap solid, inflasi yang rendah, imbal hasil yang menarik, serta komitmen kuat dalam menjaga stabilitas nilai tukar di tengah ketidakpastian geopolitik.
“Jadi secara keseluruhan kami tadi sampaikan bahwa kondisi fundamental dan ketahanan ekonomi eksternal Indonesia kuat dalam menghadapi geopolitik ini,” sebut Perry.
Selain itu, Perry menyoroti pentingnya sinergi yang erat antara pemerintah dan bank sentral, khususnya dalam koordinasi kebijakan moneter dan fiskal, guna menjaga stabilitas sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi.
“Sinergi kami sangat erat termasuk sinergi moneter dan fiskal untuk menjaga stabilitas dan mendorong pertumbuhan ekonomi sehingga kita harus perkuat dan bangun optimisme ini,” tuturnya.





