REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA — Di tengah pesatnya perkembangan teknologi analitik dan kecerdasan buatan, banyak organisasi masih menghadapi tantangan mendasar: bagaimana menerjemahkan insight berbasis data menjadi keputusan yang tepat dan berdampak.
Ketika kemampuan prediksi semakin canggih, proses pengambilan keputusan justru tidak selalu menjadi lebih pasti. Menjawab tantangan ini, BINUS University kembali menegaskan komitmennya dalam pengembangan keilmuan melalui pengukuhan Guru Besar.
Baca Juga
Menteri Haji Lepas Keberangkatan Jamaah Haji Kloter Pertama Banten
Ipemi Rekomendasikan Enam Kebijakan Perkuat UMKM Perempuan
Di Sekadau, Muhammadiyah Perluas Jangkauan Pendampingan Mualaf Nasional
Pihak kampus mengukuhkan Prof Tuga Mauritsius, MSi., PhD. sebagai Guru Besar Tetap di bidang Decision Support System (DSS), yang berfokus pada pengembangan sistem pendukung keputusan berbasis data dan model analitik.
Dalam orasi ilmiahnya yang berjudul “A New Generation of Decision Support System: Integrating Machine Learning, Scenario Analysis, and System Dynamics”, Prof. Tuga menyoroti bahwa sistem pengambilan keputusan saat ini masih menghadapi kesenjangan antara insight dan aksi.
.rec-desc {padding: 7px !important;}
Ia menjelaskan, meskipun teknologi seperti machine learning telah mampu menghasilkan prediksi dengan tingkat akurasi yang tinggi, banyak organisasi masih kesulitan menerjemahkan hasil tersebut menjadi keputusan strategis yang nyata.
Dalam konteks ini, pendekatan DSS konvensional dinilai masih bersifat reaktif dan terbatas pada analisis deskriptif, tanpa mampu secara sistematis mengarahkan keputusan yang optimal dan berdampak.
Sebagai solusi, Tuga memperkenalkan konsep DSS Generasi Baru yang mengintegrasikan tiga pendekatan utama: predictive analytics melalui machine learning, scenario analysis untuk mengantisipasi berbagai kemungkinan masa depan, serta system dynamics untuk mensimulasikan dampak kebijakan dalam sistem yang kompleks.
Pendekatan ini dirancang untuk membentuk alur pengambilan keputusan yang lebih komprehensif, mulai dari prediksi hingga rekomendasi kebijakan yang preskriptif. Lebih lanjut, ia menekankan bahwa integrasi ketiga elemen tersebut tidak hanya meningkatkan kualitas analisis, tetapi juga memperkuat kemampuan pengambil keputusan dalam memahami konsekuensi jangka panjang dari setiap kebijakan.
Dengan demikian, sistem tidak lagi berhenti pada “apa yang akan terjadi”, tetapi berkembang menjadi “apa yang sebaiknya dilakukan” dalam berbagai skenario yang mungkin terjadi.