PT Asuransi Jiwa Sequis Life membukukan kinerja keuangan positif hingga Februari 2026 dengan pertumbuhan premi, laba, aset, serta kemampuan memenuhi klaim. Capaian tersebut menjadi indikator kepercayaan nasabah terhadap industri asuransi jiwa di tengah tantangan ekonomi.
Berdasarkan data per 28 Februari 2026 yang belum diaudit, Sequis Life mencatat pendapatan premi bruto sebesar Rp523,8 miliar dan laba bersih Rp86,3 miliar. Total aset perseroan mencapai Rp23,2 triliun.
Perusahaan juga mencatat rasio tingkat solvabilitas atau risk-based capital (RBC) sebesar 566%, jauh di atas ketentuan minimum regulator. Rasio tersebut mencerminkan kecukupan modal perusahaan dalam memenuhi kewajiban kepada pemegang polis sekaligus menjaga kesinambungan usaha.
Sepanjang dua bulan pertama 2026, Sequis Life telah merealisasikan pembayaran klaim dan manfaat sebesar Rp221,8 miliar.
President Director & CEO Sequis Life Ted Margono mengatakan prinsip kehati-hatian menjadi fondasi utama perusahaan dalam menjaga kinerja dan kepercayaan nasabah.
“Kami ingin membangun persepsi bahwa asuransi merupakan bagian penting dari perencanaan masa depan. Untuk membangun hari esok yang lebih baik (Better Tomorrow), masyarakat perlu menyesuaikan strategi keuangan, termasuk memitigasi risiko finansial dari biaya tidak terduga,” ujar Ted dalam keterangan tertulis, Rabu (22/4/2026).
Menurut perseroan, kondisi ekonomi yang dipengaruhi fluktuasi global dan tekanan daya beli mendorong masyarakat semakin memperhatikan perlindungan keuangan. Dalam situasi tersebut, kemampuan perusahaan membayar klaim menjadi salah satu faktor utama dalam menjaga kepercayaan publik terhadap industri asuransi.
Baca Juga: Premi Unit Link Tumbuh 5,17%, OJK Sebut Masih Jadi Penopang Industri Asuransi Jiwa
Baca Juga: OJK Ungkap Aset Asuransi Tumbuh 7%, Tapi Premi Masih Seret
Baca Juga: OJK Ungkap Dampak Pelemahan Rupiah ke Industri Asuransi
Sequis Life menilai literasi keuangan juga berperan penting dalam memperkuat hubungan antara kinerja industri dan kepercayaan nasabah. Pemahaman yang lebih baik mengenai fungsi proteksi dinilai dapat mendorong masyarakat menjadikan asuransi sebagai bagian dari strategi keuangan jangka panjang.
“Kami ingin membangun persepsi bahwa asuransi merupakan bagian penting dari perencanaan masa depan,” kata Ted.





