Fitri dan Panggilan Kemanusiaan: Menjadi Kartini di Tengah Bencana

harianfajar
20 jam lalu
Cover Berita

FAJAR, MAKASSAR — Di tengah latihan fisik yang dijalaninya sebagai peserta Komponen Cadangan (Komcad), Fitri masih menyempatkan waktu menjawab pertanyaan demi pertanyaan.

Suaranya tenang, tetapi tegas–menggambarkan ia sudah terbiasa bekerja di bawah tekanan.

Bagi staf di Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sulawesi Selatan itu, panggilan untuk turun ke lokasi bencana bukan sekadar tugas melainkan bagian dari kemanusiaan.

Sebagai anggota Tim Reaksi Cepat (TRC), Fitri terbiasa berada di garis depan setiap kali bencana terjadi. Ia dan timnya bergerak cepat membantu korban, berkoordinasi dengan berbagai pihak, hingga memastikan bantuan logistik tersalurkan.

“Memang tugas kami turun langsung membantu korban bencana, melakukan koordinasi lintas sektor, dan menyalurkan logistik. Tapi lebih dari itu, ini soal kemanusiaan. Kalau bukan kita yang saling tolong-menolong, siapa lagi?” ujarnya, Selasa, 21 April 2026.

Di balik rutinitas yang tampak sistematis, medan yang dihadapi kerap jauh dari kata mudah.

Bencana tidak pernah datang dengan kondisi ideal. Medan terjal, cuaca ekstrem, hingga tekanan emosional menjadi bagian dari keseharian.

Salah satu pengalaman yang paling membekas bagi Fitri terjadi pada Januari 2026, saat pesawat ATR 42-500 jatuh di kawasan Gunung Bulusaraung, Kecamatan Balocci, Kabupaten Pangkep.

Peristiwa itu menjadi titik balik dalam perjalanan pengabdiannya. Bukan hanya karena skala tragedinya, tetapi juga karena tantangan yang harus ia hadapi secara langsung.

Untuk pertama kalinya dalam hidup, Fitri harus mendaki gunung dalam misi evakuasi. Bersama tim gabungan dari Basarnas, TNI, dan berbagai unsur lainnya, ia menembus medan berat demi mengevakuasi korban di sektor puncak.

“Sebagai perempuan, saya ikut terlibat langsung di evakuasi puncak Gunung Bulusaraung. Itu pengalaman pertama saya mendaki gunung. Tapi di lapangan, semua saling membantu. Tidak ada perbedaan, tidak ada yang melihat gender,” tuturnya.

Pengalaman itu meninggalkan kesan mendalam. Di tengah keterbatasan fisik dan kondisi alam yang tidak bersahabat, Fitri justru menemukan kekuatan baik dari dalam dirinya sendiri maupun dari solidaritas tim.

Ia mengaku bangga bisa menjadi bagian dari operasi tersebut. Bukan hanya karena berhasil melewati tantangan, tetapi juga karena dapat membuktikan bahwa perempuan mampu mengambil peran penting dalam situasi paling krisis sekalipun.

“Sebagai perempuan, saya merasa bangga bisa ikut berkontribusi bersama tim SAR, TNI AD, AL, AU, dan semua pihak yang terlibat. Itu pengalaman yang tidak akan saya lupakan,” katanya.

Tak hanya dalam operasi besar seperti evakuasi kecelakaan pesawat, Fitri juga kerap terlibat dalam penanganan bencana yang lebih sering terjadi, seperti banjir.

Di sana, perannya tak kalah penting. Mengangkat logistik, mendistribusikan bantuan, hingga mengevakuasi warga terdampak.

Baginya, pekerjaan ini bukan tentang siapa yang paling kuat, melainkan tentang siapa yang mau bergerak.

Di momentum Hari Kartini, kisah Fitri menjadi potret bagaimana semangat emansipasi hidup dalam bentuk yang nyata.

Jika dulu perjuangan perempuan banyak berlangsung di ruang-ruang sosial dan pendidikan, hari ini semangat itu menjelma dalam keberanian turun ke medan bencana, tempat di mana nyawa, harapan, dan kemanusiaan dipertaruhkan.

Fitri tidak berbicara tentang kesetaraan dengan istilah besar. Ia menunjukkannya lewat tindakan.

Di tengah banjir atau di lereng gunung yang terjal, ia berdiri sejajar dengan siapa pun.

Di akhir percakapan, ia menyampaikan pesan sederhana, tetapi bermakna.

Ia mengajak perempuan untuk tidak ragu mengambil peran, sekecil apa pun itu. Menurutnya, kontribusi tidak selalu harus dimulai dari hal besar.

Justru dari langkah sederhana, perubahan bisa dimulai.

“Perempuan bisa jadi agen perubahan. Bisa mulai dari hal sederhana, seperti menyiapkan tas siaga bencana, memahami jalur evakuasi, dan merencanakan keamanan keluarga,” ujarnya.

Lebih dari itu, ia percaya bahwa keberanian dan kesiapsiagaan perempuan dapat membawa dampak besar, bahkan dalam situasi terburuk sekalipun.

“Perempuan yang berani dan sigap bisa membantu memperbaiki situasi, bahkan saat bencana paling buruk terjadi,” tambahnya.

Di balik seragam lapangan dan tugas yang penuh risiko, Fitri adalah wajah lain dari Kartini masa kini. Ia tidak hanya memperjuangkan kesetaraan, tetapi juga hadir di garis depan kemanusiaan.(uca)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
UGM, Bio Farma, dan Sinovac Resmikan Kerja Sama Pengembangan Vaksin
• 20 jam lalubisnis.com
thumb
Harga Energi Naik, Pemerintah Diingatkan Risiko Penyelewengan BBM dan Elpiji Subsidi
• 6 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
Sempat Gagal Haji, Ashanty Sempat Down: Apa Aku Kurang Solehah?
• 20 jam lalugrid.id
thumb
Pastikan Suplai Energi Aman, Pertamina dan Gubernur Jatim Bagikan BBM Gratis di Malang
• 1 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
Harga BBM Setara Pertalite di Tetangga RI Tembus Rp33.000/Liter
• 21 jam lalucnbcindonesia.com
Berhasil disimpan.