Bank Indonesia mencatat, plafon kredit yang belum digunakan atau kredit menganggur di perbankan mencapai Rp 2.527,46 triliun hingga Maret 2026. Adapun penyaluran kredit tercatat masih tumbuh satu digit atau sebesar 9,49% secara tahunan.
Gubernur Perry Warjiyo menjelaskan, kinerja kredit perbankan meningkat pada Maret 2026 dibandingkan bulan sebelumnnya yang mencapai 9,37%. Pertumbuhannya ditopang segmen kredit investasi yang naik 20,85%, diikuti kredit modal kerja sebesar 4,38%, serta kredit konsumsi yang tumbuh 5,88%.
"BI memprakirakan pertumbuhan kredit 2026 tetap terjaga pada kisaran 8-12% dipengaruhi oleh sisi permintaan dan penawaran," ujar Perry dalam konferensi pers Hasil Rapat Dewan Gubernur di Jakarta, Rabu (22/9).
Menurut Perry, peluang ekspansi kredit masih terbuka lebar seiring optimalisasi fasilitas pinjaman yang belum dimanfaatkan.
Dia menjelaskan, dari sisi permintaan, peluang ekspansi kredit masih terbuka lebar, terutama melalui optimalisasi fasilitas pinjaman yang belum dimanfaatkan.
Dari sisi penawaran, industri perbankan dinilai memiliki kapasitas pembiayaan yang memadai. Hal ini tercermin dari rasio alat likuid terhadap dana pihak ketiga (AL/DPK) yang tinggi, yakni sebesar 27,85%, serta pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) yang tetap kuat di level 13,55%.
Selain itu, penyaluran kredit masih didukung oleh kebijakan perbankan yang relatif longgar dalam pemberian pinjaman (lending requirement). Meski demikian, terdapat kehati-hatian pada segmen kredit konsumsi dan UMKM, seiring masih tingginya risiko kredit di kedua sektor tersebut.
“Ke depan, Bank Indonesia akan terus memperkuat kapasitas pendanaan perbankan, termasuk pengembangan instrumen non-traditional funding, non-DPK, guna mendukung pencaruran kredit perbankan,” katanya.
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5564426/original/093240500_1776940785-62896ac2-805f-43b5-99e7-2391d3dc60ef.jpeg)



