tvOnenews.com - Semangat Raden Ajeng Kartini tak pernah benar-benar padam. Lebih dari satu abad sejak gagasannya tentang emansipasi perempuan menggema, nilai-nilai yang ia perjuangkan justru menemukan bentuk baru di era modern.
Perempuan Indonesia hari ini tidak hanya berbicara soal kesetaraan, tetapi juga membuktikannya lewat aksi nyata, di rumah, di tempat kerja, hingga di komunitas.
Jika pada masa lalu Kartini memperjuangkan akses pendidikan dan kebebasan berpikir bagi perempuan, kini perjuangan itu menjelma dalam berbagai bentuk.
Mulai dari perempuan yang membangun usaha mandiri, memimpin komunitas, hingga mereka yang menggerakkan ekonomi lokal dari desa-desa.
Contohnya bisa dilihat dari para pelaku UMKM perempuan yang tidak hanya berjuang untuk keluarganya, tetapi juga membuka peluang bagi orang lain.
Fenomena ini menunjukkan bahwa semangat Kartini telah berevolusi. Tidak lagi terbatas pada simbol peringatan tahunan, tetapi hadir dalam kehidupan sehari-hari perempuan Indonesia.
Dari kota hingga pesisir, dari sektor formal hingga informal, semangat itu terus diwariskan, termasuk oleh sosok seperti Eko Purwanti di Rembang, Jawa Tengah.
Dari Rengginang Laut, Perempuan Pesisir Bangkit Mandiri
Di wilayah pesisir Rembang, Eko Purwanti menjadi salah satu contoh nyata bagaimana nilai Kartini hidup dalam keseharian.
Perempuan yang merupakan nasabah PNM Cabang Pati ini mengembangkan usaha rengginang berbahan olahan laut, sekaligus menjalankan usaha katering.
Usaha yang berawal dari skala kecil tersebut kini tidak hanya menjadi penopang ekonomi keluarga, tetapi juga memberikan dampak sosial bagi lingkungan sekitarnya. Eko melibatkan ibu-ibu di wilayah pesisir untuk ikut memproduksi rengginang, menciptakan peluang penghasilan tambahan bagi mereka.
Ia berharap usahanya dapat terus berkembang, bukan semata untuk kebutuhan pribadi, tetapi juga agar perempuan lain di sekitarnya bisa ikut merasakan manfaat ekonomi. Ia menekankan pentingnya saling menguatkan antar sesama perempuan, terutama dalam mengembangkan usaha berbasis potensi lokal seperti olahan hasil laut.
Langkah ini menjadi contoh konkret bagaimana perempuan tidak hanya berdaya secara individu, tetapi juga mendorong pemberdayaan kolektif di lingkungannya.




