VIVA – Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi meninjau langsung pelaksanaan sanksi terhadap sembilan siswa di SMAN 1 Purwakarta setelah kasus penghinaan terhadap guru mereka viral di media sosial.
Sanksi tersebut diberikan sebagai bentuk pembinaan agar para siswa tidak mengulangi perbuatannya.
Dilihat melalui YouTube KDM, Dedi memastikan bahwa sanksi yang dijalankan berjalan sesuai tujuan pembinaan. Para siswa diketahui menjalani kegiatan seperti membersihkan lingkungan sekolah, menyambut siswa di pagi hari, hingga mengikuti pembinaan religi sesuai keyakinan masing-masing.
Salah satu guru di SMAN 1 Purwakarta menjelaskan bahwa aktivitas harian siswa dimulai dari kerja bakti, dilanjutkan dengan kegiatan keagamaan seperti mengaji dan tadarus bagi siswa muslim. Sementara siswa nonmuslim mengikuti pembinaan sesuai ajaran agamanya.
Dedi Mulyadi juga menanyakan respons orang tua terhadap sanksi tersebut. Berdasarkan keterangan pihak sekolah, orang tua siswa menerima keputusan tersebut dan tidak mengajukan keberatan. Para siswa pun disebut menjalani sanksi dengan kesadaran dan menunjukkan penyesalan atas tindakan mereka.
"Tapi intinya orang tuanya tidak komplain?" tanya Dedi.
"Sama sekali tidak Pak, (orangtua murid) menerima," ungkap guru SMAN 1 Purwakarta.
Menurut pihak sekolah, para siswa bahkan merasa terbantu dengan pola pembinaan yang diterapkan. Mereka disebut menjalani kegiatan dengan sukarela, termasuk tugas membersihkan fasilitas sekolah seperti toilet, tanpa adanya tekanan.
Dedi menegaskan bahwa tujuan utama sanksi bukan untuk menghukum secara keras, melainkan membentuk karakter siswa agar menjadi lebih baik. Ia memastikan bahwa seluruh proses pembinaan berlangsung dalam kondisi yang tidak menimbulkan tekanan psikologis bagi siswa.
Selain itu, Dedi mengungkapkan bahwa kesembilan siswa tersebut direncanakan akan mengikuti program pembinaan lanjutan di barak militer pada Juni 2026 bersama sejumlah siswa lainnya, termasuk pengurus OSIS.
Di sisi lain, guru yang menjadi korban penghinaan sebelumnya telah menyatakan memaafkan para siswa. Meski demikian, proses pembinaan tetap dijalankan sebagai bagian dari pendidikan karakter di lingkungan sekolah.





