REPUBLIKA.CO.ID, BEIRUT – Serangan Israel telah menewaskan lima orang di Lebanon selatan, termasuk seorang jurnalis, lapor Kantor Berita Nasional Lebanon (NNA). Serangan-serangan ini semakin mengancam gencatan senjata yang rapuh.
Serangan awal Israel menghantam sebuah mobil di at-Tiri, sebuah desa di Lebanon selatan, menewaskan dua orang di dalamnya, NNA melaporkan pada Rabu.
- Foto Tentara Israel Hancurkan Patung Yesus Dikonfirmasi Desa di Lebanon Selatan
- Negara Jamin Hak dan Masa Depan Keluarga Prajurit TNI yang Gugur di Lebanon
- Tentara Prancis Anggota UNIFIL Tewas Diserang di Lebanon, RI Sampaikan Belasungkawa
Militer Israel mengatakan pihaknya menyerang dua kendaraan di Lebanon selatan yang berangkat dari bangunan militer yang digunakan oleh kelompok Hizbullah. NNA melaporkan bahwa serangan udara selanjutnya terhadap sebuah bangunan di desa yang sama melukai seorang jurnalis, yang terjebak di bawah reruntuhan.
Amal Khalil, yang bekerja untuk media lokal Al Akhbar, kemudian ditemukan syahid di tempat kejadian, kantornya membenarkan.
.rec-desc {padding: 7px !important;}Aljazirah juga melaporkan dua jurnalis dari media lokal Al Akhbar awalnya melakukan perjalanan ke lokasi serangan pertama di at-Tiri. “Amal Khalil dan Zeinab Faraj pergi ke lokasi serangan drone Israel sebelumnya terhadap sebuah mobil, yang dilaporkan menewaskan dua warga sipil di kota at-Tiri,” lapor koresponden Aljazirah.
"Selama beberapa jam... Palang Merah dan petugas penyelamat [mencoba] menghubungi kedua jurnalis tersebut. Mereka tidak dapat melakukannya dalam waktu lama karena serangan Israel yang terus berlanjut di daerah tersebut." Faraj dibawa ke rumah sakit setempat dan dilaporkan dalam kondisi yang sangat serius dan memerlukan pembedahan.
Kementerian Kesehatan Lebanon sebelumnya mengatakan Israel “mengejar” para jurnalis tersebut dengan “menargetkan” gedung tempat mereka berlindung. NNA melaporkan bahwa serangan Israel menargetkan jalan utama yang menghubungkan kota tersebut dengan Haddatha “untuk mencegah tim ambulans menjangkau kedua jurnalis tersebut”.
Bulan lalu, serangan Israel terhadap kendaraan pers yang ditandai dengan jelas menewaskan tiga jurnalis di Lebanon selatan.
Secara terpisah pada Rabu, dua orang tewas dan beberapa lainnya terluka dalam serangan Israel di kota Yohmor al-Shaqif, juga di Lebanon selatan, NNA melaporkan.
Sementara Kelompok Hizbullah mengatakan pihaknya menyerang posisi artileri Israel di Lebanon selatan dengan pesawat tak berawak, sebagai tanggapan atas apa yang dikatakannya sebagai pelanggaran Israel terhadap gencatan senjata. Militer Israel mengatakan mereka telah mencegat “sebuah pesawat musuh” yang diluncurkan oleh Hizbullah terhadap tentara Israel di Lebanon selatan.
Saling serang antara Hizbullah dan Israel kembali terjadi pada 2 Maret setelah Israel membunuh Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei. Hingga saat itu, kelompok yang didukung Iran belum menyerang Israel sejak gencatan senjata pada November 2024, meskipun Israel hampir setiap hari melanggar perjanjian tersebut.
Lebih dari 2.400 orang telah terbunuh di Lebanon sejak Israel melancarkan serangan dan invasi berikutnya ke Lebanon selatan. Israel telah merebut sebagian wilayah di perbatasan tempat pasukannya tetap berada. Serangan terbaru ini terjadi menjelang perundingan yang direncanakan di Washington antara duta besar Lebanon dan Israel ketika Presiden Lebanon Joseph Aoun mengatakan Beirut akan mengupayakan perpanjangan gencatan senjata 10 hari yang dimediasi Amerika Serikat, yang akan berakhir pada Ahad nanti.




