Jakarta, VIVA – Kasus dugaan pelecehan seksual sesama jenis yang menyeret nama Syekh Ahmad Al Misry terus berkembang dan memicu perhatian luas publik. Fakta-fakta baru mulai terkuak setelah pelapor utama, Habib Mahdi Alatas, membeberkan kronologi serta dugaan modus operandi dalam konferensi pers di Menteng, Jakarta Pusat, Rabu 22 April 2026.
Dalam keterangannya, Mahdi mengungkap bahwa dugaan tindakan tersebut tidak hanya menyangkut asusila, tetapi juga menyerempet isu serius lain seperti dugaan penistaan agama, intimidasi, hingga indikasi pelarian ke luar negeri. Scroll untuk informasi selengkapnya!
Menurutnya, pelaku diduga memanfaatkan kedok agama untuk mendekati korban yang sebagian besar merupakan santri laki-laki di bawah umur. Salah satu modus yang disebut adalah dengan menjanjikan beasiswa hafiz Alquran ke Mesir, namun disertai syarat yang tidak wajar.
"Dibilang 'yakin kamu mau? Ya udah saya cek fisik'. Buka baju, lihat ada tatonya enggak, ada cacat enggak," kata Habib Mahdi merujuk salah satu kejadian di Purbalingga, mengutip tayangan Youtube.
"Akhirnya disuruh buka celana, tadinya enggak mau. Termasuk mohon maaf, alat kelaminnya tuh dipegang," ujar Habib Mahdi menyambung.
Lebih lanjut, Mahdi juga mengungkap adanya dugaan penggunaan dalil agama secara menyimpang untuk membenarkan tindakan tersebut. Hal ini, menurutnya, bahkan terekam dalam sebuah video singkat yang kini dijadikan barang bukti.
"Si Syekh itu mengatakan 'enggak apa-apa kok, Nabi Muhammad dengan Sayyidina Ali pun melakukan hal yang seperti ini'," ucap Habib Mahdi dengan nada geram.
Tak hanya itu, korban juga disebut dipaksa menonton konten pornografi dengan narasi yang mencatut nama tokoh-tokoh besar dalam Islam.
"Disuruh nonton video porno, dibilang 'enggak apa-apa kok, kalau Imam Syafi'i dan Imam Maliki serta imam mazhab yang lain masih hidup, dia juga akan nonton!'" imbuhnya.
Kasus ini juga diwarnai dengan dugaan intimidasi terhadap pihak-pihak yang berusaha mengungkap kebenaran. Mahdi mengaku dirinya sempat mendapat tekanan dari sejumlah oknum, termasuk yang memiliki jabatan tinggi.
"Ke saya aja tuh ada Jenderal intimidasi saya. Ada yang eks purnawirawan, ada yang masih menjabat. Saya bilang 'Bang kita ketemu aja Bang. Ini lho buktinya, ini lho faktanya. Abang mau belain dia silakan, tapi Abang enggak usah ikut campur'," tutur pengasuh pondok pesantren tersebut.





