Pelaksanaan Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT) 2026 diwarnai sejumlah dugaan kecurangan di berbagai kampus. Modus yang ditemukan beragam, mulai dari penggunaan perangkat komunikasi, manipulasi identitas, hingga dugaan penggunaan joki.
Di saat yang sama, ribuan peserta lain datang sejak pagi, membawa harapan dan rasa gugup untuk bersaing secara jujur. Kontras yang cukup telanjang: ada yang belajar berbulan-bulan, ada yang sibuk mencari celah.
Kasus di Undip: Peserta Kedokteran Gigi Pakai Perangkat KomunikasiKasus pertama mencuat di Universitas Diponegoro (Undip) Semarang. Seorang peserta perempuan terpergok membawa perangkat komunikasi saat hendak mengikuti ujian. Peserta itu disebut mendaftar ke jurusan kedokteran gigi.
"Warga luar Semarang, kemarin infonya mau masuk ke Kedokteran Gigi," ujar Kapolsek Tembalang Kompol Kristiyastuti kepada kumparan, Rabu (22/4).
Polisi kemudian memanggil orang tua peserta dan meminta surat pernyataan agar perbuatan serupa tidak diulangi. Peserta tidak ditahan.
"Kita datangkan orang tuanya, kita minta surat pernyataan tidak akan mengulangi perbuatannya. Tidak (ditahan), karena belum ujian, belum pengumuman," jelas dia.
Kristiyastuti menegaskan peserta tersebut bukan joki, melainkan tetap mengikuti ujian sendiri.
"Kalau headset itu harus ditancapkan ke alat, misalnya ponsel, tapi ini tidak ada. Jadi bukan alat komunikasi, tapi perangkat komunikasi. Bukan joki, tetap dia yang ujian," kata dia.
Sebelumnya, panitia Undip mendeteksi peserta tersebut saat pemeriksaan metal detector.
"Kecurangan kami deteksi pagi ini. Terdapat salah satu peserta terdeteksi oleh metal detector dan setelah diperiksa ternyata terdapat logam di dalam bajunya," ujar Wakil Rektor I Undip Prof. Heru Susanto.
"Hasilnya, di kedua telinga kanan dan kiri ditemukan material logam yang kami duga untuk membantu pengerjaan UTBK oleh pihak luar," jelasnya.
Tiga Kampus Surabaya Bongkar Dugaan PerjokianDi Surabaya, dugaan praktik perjokian ditemukan di tiga kampus negeri, yakni Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jawa Timur (UPNVJT), Universitas Airlangga (Unair), dan Universitas Negeri Surabaya (Unesa).
UPNVJTSeorang peserta diduga menggunakan identitas tidak sesuai saat mengikuti ujian sesi pertama. Peserta itu memilih program studi kedokteran di Universitas Brawijaya dan Universitas Jember.
"Kami sudah mencatat dalam berita acara dan melaporkannya ke pusat. Saat ini masih kami proses secara internal," kata Staf Humas UPNVJT, Nizwan Amin.
UnairPanitia menemukan foto peserta yang diduga sama dengan data peserta tahun 2025. Namun, peserta yang dicurigai tidak hadir saat ujian.
"Fotonya terindikasi sama dengan peserta tahun 2025 sehingga sudah kami waspadai. Namun, yang bersangkutan tidak hadir di Unair," ujar Ketua Pusat Hubungan Masyarakat dan Protokol Unair, Pulung Siswantara.
UnesaDi Unesa, modus yang ditemukan adalah mengganti foto pada dokumen resmi, sementara nama peserta asli tetap digunakan. Peserta tersebut mendaftar program studi kedokteran di Universitas Negeri Malang.
"Modusnya menggunakan identitas yang dijoki. Namanya tetap nama peserta asli, tetapi fotonya diganti dengan orang yang mengerjakan ujian," ucap Wakil Rektor Bidang Pendidikan, Kemahasiswaan, dan Alumni Unesa, Martadi.
"Data ini kami bandingkan dengan tahun lalu, fotonya sama, tetapi namanya berbeda. Dari situ kami mulai curiga," ujarnya.
Universitas Negeri Malang Temukan Dugaan Identitas PalsuKasus serupa juga ditemukan di Universitas Negeri Malang (UM). Kampus menduga ada peserta menggunakan joki dengan identitas lengkap yang telah dipalsukan, mulai dari kartu pelajar, KTP, hingga kartu peserta.
"Kita tahunya (ada joki) jam 12 kayaknya ya, ketika yang sesi pertama itu udah selesai. Tapi bukan berarti kita engga ngelakuin apa-apa gitu ya, jadi kita melakukan investigasi setelah itu," kata Direktur Pendidikan UM Prof. Evi Eliyanah.
"Sehingga begitu kami mendapatkan laporan, kemudian akhirnya ini sudah langsung confirm, bahwa ini adalah kecurangan yang bertukar identitas," tegas Kepala Subdirektorat Seleksi UM Rizky Firmansyah.
Cerita Peserta di UNJ: Deg-degan, Pasrah, Sampai Takut MatematikaDi tengah kabar kecurangan, ribuan peserta lain tetap berjuang normal. Di Universitas Negeri Jakarta (UNJ), peserta sudah datang sejak pagi untuk mengikuti ujian sesi pertama maupun kedua.
Nailah Maharani dan Naila Nirwana, peserta sesi kedua, mengaku gugup menjelang masuk ruang ujian.
“Jujur lumayan deg-degan sih,” kata Naila Nirwana.
Sementara Nailah memilih lebih tenang. “Iya, cuma kayak pasrah aja,” katanya.
Keduanya mengaku sudah mempersiapkan diri sejak semester dua kelas 12. Menjelang ujian, mereka memilih tidak belajar lagi dan lebih banyak berdoa.
“Kalau tadi pagi sih nggak ada belajar ya, cuma banyak doa aja,” ujar Nailah.
Peserta sesi pertama, Septiliyna Nurhaliza, mengaku kesulitan saat mengerjakan bagian penalaran matematika.
“Yang paling susah menurut aku PK sama PM, karena sejujurnya aku itu lemah banget di hitung-hitungan,” katanya.
Meski begitu, ia merasa fasilitas ujian di UNJ berjalan baik.
“Untuk sarana dan fasilitas sendiri udah bagus banget sih, kayak dari panitianya juga suportif banget, terus komputernya nggak ada masalah sama sekali, internetnya lancar juga,” ujarnya.
Orang Tua Menunggu Sejak SubuhTak hanya peserta, para orang tua juga ikut berjuang dengan cara berbeda: menunggu sambil cemas.
Ari dan Dwi, orang tua peserta di UNJ, mengaku tiba sejak subuh demi mengantar anak mengikuti ujian.
“Kita tadi jam 5 lewat 15 sampai di sini,” kata Ari.
“Sekarang sih perasaan bercampur aduk. Deg-degan juga ya, tapi yaudah kita sebagai orang tua kasih terbaik aja,” ungkap Dwi.
Orang tua lain, Hartini, bahkan sempat panik karena KTP anaknya tertinggal. Drama khas hari ujian nasional versi modern: soal belum dibuka, stres sudah dimulai dari parkiran.
“Ya namanya anak mau berjuang ya, tapi ya bismillah aja lah mudah-mudahan. Namanya rezeki anak kita nggak tahu,” ujarnya.





