Ikan sapu-sapu di Indonesia telah menjadi hama air tawar, penanda sungai yang rusak dan ekosistem yang tak lagi seimbang. Namun di balik citra itu, tersimpan pertanyaan, bisakah biomassa invasif ini diubah menjadi sesuatu yang berguna? Tanpa pemanfataan secara ekonomi, upaya untuk menangkapnya akan berbiaya mahal dan pada akhirnya sulit berkelanjutan.
Di negara asalnya wilayah Amerika Latin, ikan sapu-sapu telah lama dikonsumsi. Namun di luar habitat aslinya, seperti Indonesia, ikan ini justru menjadi tanda bahaya, bukan hanya karena sulit dikendalikan sebagai spesies invasif yang memiliki kemampuan reproduksi dan adaptasi tinggi, juga mengakumulasi racun dari sungai yang tercemar.
kan yang kini kita kenal sebagai “sapu-sapu” (Pterygoplichthys sp) tidak punya satu nama tunggal. Ia hadir dengan banyak sebutan lokal, dan menariknya, setiap nama mencerminkan cara masyarakat memandangnya.
Di Brasil, yang menjadi habitat aslinya, ikan ini diberi nama netral berdasarkan deskripsi fisik, yaitu “acari” atau “cascudo”. Kata cascudo merujuk pada tubuhnya yang berlapis seperti perisai, dari kata casco yang berarti “tempurung” atau “helm”.
Sedangkan acari adalah istilah untuk menyebut ikan dari keluarga Loricariidae, yang biasa hidup di dasar sungai, seperti ikan lele. Sebagaimana ikan lele, masyarakat di Amazon Basin ini telah mengonsumsi acari.
Di Kolombia dan Venezuela, ikan serupa juga telah lama dikonsumsi. Di sana sering disebut “corroncho”, yang merujuk pada sesuatu yang bertekstur kasar. Namun, di kampung asalnya ini, sapu-sapu bukanlah ikan favorit.
Warga lokal punya banyak pilihan ikan lain yang lebih besar dan dianggap lebih lezat. Daripada mengonsumsi sapu-sapu, masyarakat di kawasan ini lebih memilih piracuru atau Arapaima gigas, salah satu ikan predator yang memangsa sapu-sapu. Selain arapaima, sapu-sapu terutama menjadi mangsa bagi caiman, sejenis buaya di sana, sehingga populasinya terkendali.
Cerita berbeda terjadi di Meksiko, yang bukan habitat asli ikan sapu-sapu. Ikan ini mulai muncul di perairan selatan Meksiko, terutama di wilayah Tabasco, sejak tahun 1990-an. Di sana, ikan sapu-sapu juga merupakan spesies invasif, merusak jaring nelayan, dan karenanya diberi nama “pez diablo” atau ikan iblis. Nama ini bukan lagi deskriptif, melainkan emosional, karena ikan ini dianggap merusak.
Dulu, orang Meksiko juga enggan mengonsumsi ikan ini dan menganggapnya beracun. Namun, sejak satu dekade terakhir, muncul gerakan untuk mengonsumsi ikan ini. Beberapa akademisi, bekerja sama dengan koki setempat, menunjukkan bahwa ikan tersebut aman dan bisa dikonsumsi, sekalipun dalam kondisi tertentu.
Perlahan, mulai muncul perubahan persepsi masyarakat di Tabasco. Namun, gerakan ini masih terbatas, belum menjadi konsumsi massal. Selain masih menghadapi stigma tinggi, keamanan konsumsinya juga dipertanyakan, terutama jika ikan itu diambil dari ekosistem yang tercemar.
Penelitian dari Arturo Torres Dosal dan tim, dari lembaga akademik di Meksiko ECOSUR, yang dipublikasikan di jurnal Hidrobiológica pada 2024 misalnya, melaporkan bahwa kandungan logam berat (Cd, Hg, Pb) pada ikan di kawasan Pantanos de Centla, Tabasco masih berada di bawah batas maksimum. Disimpulkan, konsumsi ikan ini dapat dianggap aman dalam kondisi tertentu.
Ikan ini, dinilai Dosal dan tim terutama bisa jadi sumber protein alternatif untuk masyarakat, jika diambil dari sungai yang tidak tercemar seperti di Cagar Alam Tabasco. Namun, ikan yang berasal dari sungai tercemar di perkotaan tidak direkomendasikan untuk dikonsumsi.
Ikan sapu-sapu di Sungai Ciliwung mengakumulasi berbagai logam berat, dari merkuri hingga timbal, karena hidup di perairan tercemar.
Sebagai catatan, ikan sapu-sapu sangat adaptif, bahkan di lingkungan yang sangat tercemar ketika ikan lain tidak bisa bertahan. Ikan ini juga bisa mengakumulasi logam berat berbahaya dan karenanya keamanan konsumsi tergantung pada lokasi, musim, misalnya musim hujan atau kemarau, dan kondisi lingkungan.
Di sungai yang relatif bersih, seperti beberapa wilayah pedalaman Amazon, tubuh ikan ini hanya berisi protein dan lemak, cukup untuk dimakan, bahkan bergizi. Penelitian menunjukkan dagingnya kaya asam amino dan bisa menjadi sumber pangan alternatif.
Namun di sungai-sungai perkotaan tropis yang tercemar seperti Filipina dan Indonesia, ceritanya berbeda. Sungai-sungai ini juga membawa limbah rumah tangga, sisa deterjen, logam berat dari industri, dan endapan racun yang telah menumpuk selama puluhan tahun. Dalam kondisi seperti ini, ikan sapu-sapu menjadi semacam “arsip hidup”, yang menyimpan timbal, merkuri, kadmium, dan arsen dalam jaringan tubuhnya.
Penelitian Laksmi Nurul Ismi dari Universitas Al Azhar Indonesia dan Irawan Sugoro dari Badan Tenaga Nuklir Indonesia (BATAN) serta tim di jurnal Al-Azhar Indonesia Seri Sains dan Teknologi (2019) juga menunjukkan bahwa ikan sapu-sapu di Sungai Ciliwung mengakumulasi berbagai logam berat, dari merkuri hingga timbal, karena hidup di perairan tercemar.
Penelitian Etty Riani, Guru Besar Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB University, kandungan logam berat pada daging sapu-sapu di Sungai Ciliwung melebihi ambang aman. Kandungan kadmium rata-rata 0,2 ppm (batas 0,1 ppm), merkuri 0,7 ppm (batas 0,5 ppm), dan timbal 1,4 ppm (batas 0,3 ppm).
“Boleh dimakan, tapi harus dibatasi,” kata Etty. Untuk orang dewasa 60 kilogram, batas aman dari sisi merkuri bahkan hanya sekitar 8,5 gram, jumlah ini sangat kecil.
Bahkan, menurut Gema Wahyu Dewantoro, peneliti Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi Badan Riset Inovasi Nasional (BRIN), pemanfaatan sapu-sapu dari sungai-sungai tercemar di Jakarta untuk pakan ternak pun harus dikaji ulang. Kalaupun untuk pakan, disarankan untuk ternak yang bukan untuk konsumsi manusia.
Jika opsi konsumsi manusia maupun pakan ternak menjadi terbatas, ada dua gagasan yang sering muncul untuk memanfaatkan ikan sapu-sapu, yaitu menjadikannya pupuk atau bahan bakar.
Sebagai pupuk, sapu-sapu sebenarnya tidak menawarkan sesuatu yang benar-benar baru. Dalam tradisi pertanian lama, ikan sudah lama digunakan sebagai sumber nitrogen, fosfor, dan kalium. Prinsipnya sederhana, apa yang hidup akan kembali menyuburkan kehidupan. Pendekatan ini kini kembali mendapat perhatian dalam riset pertanian organik modern, yang melihat limbah perikanan sebagai sumber nutrisi tanah yang efektif dan mampu meningkatkan pertumbuhan tanaman secara signifikan.
Di Indonesia sendiri, meski riset spesifik tentang sapu-sapu sebagai pupuk masih terbatas, sejumlah eksperimen menunjukkan arah yang jelas. Penelitian tentang pemanfaatan ikan sapu-sapu sebagai bahan baku tepung dan pakan menegaskan bahwa ikan ini memiliki kandungan protein yang cukup tinggi dan tersedia melimpah, dua syarat penting bagi bahan pupuk organik berbasis biomassa.
Pendekatan ini secara teknis mudah diperluas: biomassa yang sama dapat difermentasi atau dikomposkan untuk menghasilkan pupuk organik, sebagaimana praktik umum pada limbah ikan di berbagai negara.
Eksperimen berbasis komunitas dan pengabdian masyarakat di Indonesia juga mulai bergerak ke arah ini. Di beberapa daerah seperti Jawa Timur, inovasi pengolahan sapu-sapu menjadi produk turunan, terutama pakan ternak, dikembangkan sebagai solusi atas ledakan populasi ikan invasif.
Meskipun fokusnya bukan langsung pada pupuk, pendekatan ini penting karea membuktikan bahwa sapu-sapu dapat diolah secara teknis, diproses massal, dan masuk ke rantai ekonomi. Dalam praktik agroekologi, jalur seperti ini sering menjadi batu loncatan menuju pemanfaatan sebagai pupuk organik.
Namun, semua potensi ini dibayangi satu kenyataan yang tak bisa diabaikan. Penelitian di Sungai Ciliwung menunjukkan bahwa ikan sapu-sapu mampu mengakumulasi berbagai logam berat. Artinya, ketika dijadikan pupuk, ada risiko kontaminasi tanah jika tidak melalui kontrol yang memadai. Di sinilah paradoks muncul, ikan ini bisa menyuburkan tanah, tetapi juga tetap berpotensi membawa racun ke dalamnya.
Berbeda dengan pupuk, gagasan menjadikan sapu-sapu sebagai bahan bakar terdengar lebih futuristik. Para peneliti di Filipina, yang juga mengalami masalah dengan ekspansi sapu-sapu mencoba melihat peluang dari masalah ini. Ide ini diajukan Jaymilly L. Magpusao dari Quezon City University dan tim dalam laporannya di jurnal Technologique tahun 2024.
Magpusao melakukan eksperimen ikan sapu-sapu dengan proses pirolisis, dengan dukungan sistem otomatis berbasis mikrokontroler ESP32 yang mengintegrasikan modul perebusan, penggilingan, pemisahan, dan sensor. Hasilnya, dari 12 kg ikan sapu-sapu dihasilkan sekitar 450–500 ml biofuel dengan akurasi sistem 97 persen. Biofuel dari sapu-sapu terbukti fungsional, mampu menyalakan lampu hingga 20 jam untuk 500 ml.
Namun demikian, eksperimen masih berada di level laboratorium. Sampai saat ini, Filipina juga masih pusing mengatasi invasi ikan ini.
Secara teori, semua biomassa bisa diubah menjadi energi. Namun dalam praktik, riset bioenergi global lebih banyak berfokus pada sumber yang lebih efisien, seperti limbah pertanian, alga, atau minyak nabati. Sapu-sapu tidak memiliki keunggulan komparatif seperti kandungan lemaknya rendah, proses ekstraksi mahal, dan tidak ada preseden kuat yang menunjukkan keberhasilan skala besar.
Dari sini terlihat jelas, jika tujuan utamanya adalah solusi praktis, maka pupuk adalah jalur yang paling masuk akal. Alternatif ini dekat dengan praktik yang sudah ada, didukung oleh prinsip ilmiah yang mapan, dan mulai memiliki embrio eksperimen di tingkat lokal. Sementara bahan bakar masih terlalu jauh, lebih cocok sebagai riset daripada kebijakan.
Namun ada satu hal yang sering luput dari perdebatan ini. Persoalan utama bukan pada apa yang bisa dibuat dari sapu-sapu, melainkan bagaimana mengelolanya sebagai bagian dari sistem. Siapa yang menangkap? Siapa yang mengolah? Dan siapa yang membeli hasilnya? Tanpa menjawab pertanyaan ini, bahkan solusi paling sederhana pun akan berhenti di wacana.
Pada akhirnya, sapu-sapu bukan sekadar bahan baku alternatif. Ia adalah gejala. Mengolahnya menjadi pupuk mungkin membantu, tetapi tidak menyelesaikan akar masalah, yaitu sungai yang rusak, tata kelola yang lemah, dan respons yang selalu datang terlambat.
Dalam konteks itu, pemanfaatan hanyalah satu langkah kecil, bukan jawaban utama. Tugas terbesar saat ini adalah bagaimana membersihkan sungai-sungai kita yang tercemar. Bahkan, jika cemaran di sungai ini bisa dibersihkan, ikan sapu-sapu yang hidup di dalamnya pun bisa dikonsumsi seperti terjadi di beberapa negara Amerika Latin. Sebaliknya, selama sungai tetap kotor, tak hanya sapu-sapu, ikan-ikan lain yang bertahan di sungai tercemar pun belum tentu aman dikonsumsi.





