Kepala BGN Beri Penjelasan soal MBG Butuh 19 Ribu Ekor Sapi Per Hari

detik.com
7 jam lalu
Cover Berita
Jakarta -

Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana, mengklarifikasi perihal pernyataannya terkait kebutuhan 19.000 ekor sapi per hari dalam program makan bergizi gratis (MBG). Dadan mengatakan angka tersebut hanya pengandaian bukan kondisi rill harian.

"Ini hanya pengandaian. Jadi, satu SPPG, kalau dia masak daging sapi maka dia butuh satu ekor. Kalau misalnya SPPG hari ini mau masak daging sapi. Kalau seluruh SPPG kita perintahkan nanti tanggal sekian kita mau masak sapi, itu tinggal dijumlahkan berapa jumlah SPPG kalikan satu ekor sapi," kata Dadan dalam keterangannya dilansir situs resmi BGN, Kamis (23/4/2026).

Baca juga: BGN Suspend 20 SPPG di Banten, Paling Banyak Lebak dan Pandeglang

Dadan menyebut perhitungan itu berdasarkan asumsi jika seluruh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) secara serentak memasak menu berbahan daging sapi. Kata Dadan, kebutuhan daging sapi di satu SPPG bisa mencapai sekitar 350 hingga 382 kilogram dalam satu kali proses memasak.

"Menunya itu ada telur, ada ayam, ada sapi, ada ikan. Misalnya, kalau ini masak daging sapi, maka butuh 350 kilogram sekali masaknya berarti satu ekor sapi. Ini lah pentingnya makan bergizi agar tangkapan rasionya bagus. Jadi, satu kali masak daging sapi butuh 382 (kg), itu artinya satu ekor sapi, dagingnya saja," papar Dadan.

Kendati demikian, kata Dadan, BGN tidak pernah menerapkan kebijakan menu seragam secara nasional. Hal ini, katanya, dilakukan untuk menghindari lonjakan kebutuhan bahan pangan yang dapat berdampak pada harga di pasar.

Dadan juga mengungkit menu yang disajikan dalam MBG saat peringatan ulang tahun Presiden Prabowo Subianto pada 17 Oktober lalu. Saat itu, menu yang disajikan berupa nasi goreng dan telur untuk sekitar 36 juta penerima manfaat.

"Hari itu butuh 36 juta butir telur atau sekitar 2.200 ton. Dampaknya harga telur sempat naik Rp3.000," ungkapnya.

Atas hal itu, ujar Dadan, BGN memilih fleksibel dalam penyusunan menu MBG, dengan menyesuaikan potensi sumber daya lokal dan preferensi masyarakat di masing-masing daerah.

"Karena kita ingin memberdayakan potensi sumber daya lokal dan juga kesukaan masyarakat lokal. Supaya juga tekanan terhadap konsumsinya tidak terlalu tinggi. Jadi kalau kita perintahkan menu nasional, pasti tekanannya tinggi, pasti harga naik," ujarnya.

Baca juga: BGN Tutup Dapur MBG Sebabkan 49 Siswa MTs Keracunan di Cilegon




(whn/yld)

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Kasus Rumah Ditembok di Tangsel: Bayar Rp 840 Juta, Dianggap Sewa, Kini Terjebak di Dalam
• 8 jam lalukompas.com
thumb
Investigasi Serangan ke Pasukan UNIFIL Tetap Berlanjut
• 10 jam lalurctiplus.com
thumb
Tangis Bahagia Jemaah Haji Kloter 3 di Asrama Haji Pondok Gede Jelang Terbang ke Tanah Suci | JMP
• 6 jam lalukompas.tv
thumb
Makin Panas, Iran Sita Kapal Terkait Israel di Selat Hormuz
• 12 jam laluokezone.com
thumb
Jauh Panggang dari Api, Damai AS dan Iran Kapan Terjadi
• 19 jam laludetik.com
Berhasil disimpan.