Renungan Hening di Jalan Ekonomi Kita

katadata.co.id
1 jam lalu
Cover Berita

Ada banyak hal yang patut dikagumi dari kisah ekonomi Indonesia belakangan ini. Seorang presiden yang menepati janji kampanye. Program makan bergizi yang berjalan mekanis seperti jarum jam, menjangkau jutaan anak. Bank sentral yang siap menjaga nilai tukar rupiah. Dan menteri keuangan yang berbicara penuh percaya diri di panggung global, meyakinkan mitra internasional bahwa semuanya baik-baik saja.

Namun, kekaguman dan analisis adalah dua hal yang berbeda. Di balik permukaan berbagai pencapaian ini, seorang pengamat yang prihatin mungkin melihat pola yang patut direnungkan secara jernih.

Perhatikan rupiah. Nilainya menyentuh titik terendah sepanjang masa terhadap dolar AS, namun sikap fiskal dan moneter kita tetap ekspansif—bahkan terasa sengaja. Belanja pemerintah makin mendominasi ekonomi, menyisakan ruang lebih sempit bagi ekspansi swasta. Program makan bergizi gratis, terlepas dari manfaat sosialnya, tampak diprioritaskan hingga mengorbankan belanja penting lainnya. 

Sementara itu, Bank Indonesia mengambil peran yang kian aktif di pasar obligasi, membeli surat berharga negara dengan cara yang menurut sejumlah analis dapat mengaburkan batas antara operasi moneter dan intervensi pasar. Hasilnya, disengaja atau tidak, adalah pasar obligasi di mana harga dan imbal hasil sangat dipengaruhi oleh satu pembeli dominan—sehingga menyisakan ruang yang kecil bagi proses penemuan harga yang sesungguhnya. 

Seiring waktu, ini berisiko menciptakan jebakan likuiditas, ketika pelaku swasta mundur, dan pasar tak lagi mencerminkan penawaran serta permintaan riil. Ini bukan tuduhan kesalahan. Ini sekadar pengamatan halus bahwa ketika bank sentral menjadi pembeli terakhir secara rutin, kemampuan pasar untuk mengirimkan sinyal jujur bisa menjadi terdistorsi.

Ini bukanlah tuduhan. Ini adalah pengamatan. Dan hal ini layak dibahas secara terbuka, karena perdebatan kebijakan itu sehat dan rakyat Indonesia mencintai kebebasan mereka. Namun iklim saat ini memberi sinyal berbeda. 

Saat rupiah melemah, komentar yang muncul menekankan stabilitas. Saat defisit fiskal melebar, ia disebut sementara. Saat seorang analis asing mempertanyakan apakah defisit bisa melampaui tiga persen PDB, responsnya cepat dan personal, mempertanyakan kredibilitas alih-alih berdebat dengan angka. Pesannya, disengaja atau tidak, adalah bahwa skeptisisme tak selalu disambut baik.

Ini jadi masalah bukan karena para pejabat tidak jujur, tetapi karena pengambilan keputusan ekonomi membutuhkan informasi yang akurat. Jika setiap laporan mengatakan pasien baik-baik saja, tak ada yang akan meresepkan obat sampai demamnya tak terbantahkan. Saat itu tiba, obatnya akan lebih menyakitkan. Pasar sebenarnya sudah mulai membunyikan alarm—bukan dalam catatan riset, tetapi dalam harga harian mata uang kita dan keengganan modal swasta untuk berkomitmen.

Dan di situlah kekhawatiran yang lebih dalam berada. Sektor swasta tidak akan tertipu. Ia akan terus mencari keuntungan yang dibutuhkan. Jika tak ada keuntungan yang bisa ditemukan—jika belanja pemerintah memadati ruang peluang, jika pasar obligasi terasa artifisial, jika arah kebijakan tampak terputus dari fundamental—investor hanya akan menahan diri. Mereka akan menunggu. 

Pada saat mereka menunggu, ekonomi tak akan ambruk. Ia hanya akan mandek. Pertumbuhan melambat. Lapangan kerja sulit didapat. Dan kemajuan yang telah kita raih selama dua puluh tahun terakhir akan mulai, perlahan dan senyap, berbalik arah.

Ini bukan ramalan malapetaka. Ini adalah seruan untuk berefleksi. Kita perlu menelisik kesadaran kolektif kita dan bertanya: apakah kita benar-benar melihat dengan jernih? Ataukah kita telah merasa nyaman dengan sebuah versi realitas yang melayani tujuan politik jangka pendek, namun merusak kemakmuran jangka panjang?

Parabel tentang kaisar yang telanjang sudah tua, tetapi ajarannya abadi. Rasa malu bukanlah muncul karena anak kecil yang meneriakkan kebenaran. Ia muncul karena keheningan sebelumnya—para orang dewasa yang melihat segalanya namun tak berkata apa-apa, takut memecah sugesti.

Kita belum sampai di sana. Namun kita lebih dekat daripada yang nyaman. Rupiah telah bersuara. Sektor swasta mulai ragu-ragu. Pasar obligasi menunjukkan tanda-tanda ketegangan. Ini bukan bisikan para pesimis. Ini adalah peringatan dini dari sebuah sistem yang perlahan, dengan lembut, meminta koreksi.

Kita tak perlu menunggu teriakan anak kecil. Saat itu tiba, akan terlambat. Kemelut ekonomi akan menimpa kita, bukan sebagai kehancuran mendadak melainkan sebagai penguraian yang senyap—yang membalikkan kemajuan keras yang telah kita raih selama dua dekade. Marilah kita memiliki keberanian untuk mengajukan pertanyaan jujur sekarang, selagi masih ada waktu untuk membetulkan arah. Itu bukan pesimisme. Itulah arti sebenarnya dari tanggung jawab.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Diskusi AJI Makassar, Teknik Grounding dan Self-Care Jadi Kunci Atasi Stres Jurnalis Perempuan
• 21 jam laluharianfajar
thumb
Teknologi Jepang uji efisiensi air sawah di Pariaman, Sumatera Barat
• 9 jam laluantaranews.com
thumb
Di Sekadau, Muhammadiyah Perluas Jangkauan Pendampingan Mualaf Nasional
• 16 jam lalurepublika.co.id
thumb
Pangkogabwilhan III Nilai Masyarakat Papua Tak Mudah Terhasut Isu OPM
• 9 jam laluokezone.com
thumb
Swasembada Pangan Dipertanyakan, Pemerintah Paparkan Data Produksi hingga Stok Beras
• 2 jam lalutvonenews.com
Berhasil disimpan.