Rugi Bersih Garuda Indonesia (GIAA) Susut 39,23% jadi Rp790 Miliar Kuartal I/2026

bisnis.com
3 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA — PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk. (GIAA) mulai menunjukkan perbaikan kinerja pada kuartal I/2026 dengan penyusutan rugi bersih secara signifikan, ditopang pertumbuhan pendapatan dan efisiensi operasional.

Sepanjang tiga bulan pertama 2026, GIAA membukukan rugi bersih atau rugi tahun berjalan yang diatribusikan ke entitas induk mencapai US$46,48 juta atau setara Rp790,11 miliar (kurs jisdor Rp16.999 per dolar AS), menyusut 39,23% secara tahunan atau year on year (YoY).

Melansir laporan keuangan Garuda Indonesia, dikutip Kamis (23/4/2026), penurunan kerugian itu sejalan dengan pertumbuhan pendapatan konsolidasian 5,36% secara tahunan menjadi US$ 762,35 juta atau setara Rp12,95 triliun. Pertumbuhan ini ditopang oleh peningkatan permintaan penumpang, perbaikan yield, serta tren positif pendapatan.

Sementara beban operasi turun dari US$ 718,3 juta pada kuartal I 2025 menjadi US$ 713,2 juta. Alhasil, laba operasi segmen meningkat tajam menjadi US$ 49,13 juta, dibandingkan US$ 5,20 juta pada kuartal I/2025.

Garuda Indonesia (Persero) Tbk. - TradingView

Sebelumnya, Garuda Indonesia masih mencatatkan tekanan kinerja sepanjang tahun buku 2025 dengan membukukan rugi bersih sebesar US$319,39 juta atau setara Rp5,39 triliun.

Direktur Utama Garuda Indonesia Glenny Kairupan menjelaskan penurunan kinerja tersebut dipengaruhi oleh terbatasnya kapasitas produksi, terutama pada semester I/2025, seiring masih tingginya jumlah pesawat yang belum dapat beroperasi (unserviceable aircraft).

Baca Juga

  • Garuda Indonesia Jadi Maskapai Pilihan Milenial dan Gen Z
  • Ketepatan Waktu Maskapai Garuda Indonesia Capai 97,9%, Jadi Terbaik di Dunia
  • Garuda Indonesia (GIAA) Optimalkan Rute dan Frekuensi Hadapi Tekanan Avtur

“Tidak dapat dipungkiri penurunan kinerja Garuda Indonesia Group utamanya dipengaruhi oleh terbatasnya kapasitas produksi pada semester I/2025, di mana jumlah unserviceable aircraft masih menunggu scheduled maintenance," kata Direktur Utama Garuda Indonesia, Glenny Kairupan dalam keterangan tertulis, Rabu (18/3/2026).

Selain itu, tekanan juga berasal dari fluktuasi nilai tukar, peningkatan biaya tetap, serta tantangan rantai pasok industri aviasi global yang berdampak pada proses perawatan armada.

Meski demikian, perseroan mulai menunjukkan perbaikan pada paruh kedua 2025 seiring bertambahnya jumlah armada yang kembali beroperasi dan dukungan pendanaan dari pemegang saham.

Garuda Indonesia pun menargetkan 2026 sebagai fase titik balik kinerja (turnaround), seiring pemulihan kapasitas produksi, penguatan struktur keuangan, serta implementasi berbagai inisiatif transformasi bisnis secara berkelanjutan.

"Ke depan, dengan progres pemulihan armada dan implementasi transformasi yang konsisten, Garuda Indonesia optimis kapasitas produksi dan kinerja operasional akan membaik secara bertahap menuju fase pemulihan yang lebih solid," pungkasnya.

_____

Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Di Depan Warga Tondano, Mendikdasmen Sodorkan Bukti MBG Tidak Sedot Dana Pendidikan
• 15 jam lalujpnn.com
thumb
RI Kecam Israel Pasang Spanduk Rising Lion di Atas Reruntuhan RS Indonesia di Gaza
• 12 jam lalurctiplus.com
thumb
Ekspor 24 Ton Gula Kelapa UMKM ke Ghana Tembus Rp1,1 Miliar Lewat Kolaborasi Kementerian UMKM dan Sippo
• 10 jam lalupantau.com
thumb
PELETAKAN DAFTAR HASIL PENJUALAN ASET BOEDEL PAILIT PT. KHING STICKER JAYA ABADI dan MULYADI KURNIAWAN SOEGONDO (dalam pailit)
• 7 jam lalurepublika.co.id
thumb
Kata Arifin Putra soal Perankan Suami yang Diduga Selingkuh di Istri Paruh Waktu
• 22 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.