Direktur Penilaian Perusahaan Bursa Efek Indonesia (BEI) I Gede Nyoman Yetna menanggapi kekhawatiran pasar terkait potensi penurunan klasifikasi (downgrade) pasar saham Indonesia oleh MSCI. Kekhawatiran itu mencuat setelah penyedia indeks global tersebut menahan sejumlah kebijakan dalam peninjauan indeks terbarunya.
Nyoman mengatakan, komunikasi antara BEI dan MSCI masih berjalan intensif dan bersifat konstruktif. Dia menyebut MSCI telah mengakui berbagai reformasi transparansi pasar yang dilakukan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK), BEI, dan Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI).
“BEI selalu menjalin diskusi aktif dengan MSCI. Pembicaraan dengan MSCI berjalan konstruktif dan positif. Dalam pembicaraan terakhir fokus kepada market reform yang sudah dilakukan oleh OJK BEI dan KSEI,” ujar Nyoman dalam keterangannya, dikutip pada Kamis (23/4).
Dalam dua bulan ke depan, BEI memastikan bakal terus berkomunikasi dengan MSCI untuk menjawab berbagai kekhawatiran yang masih ada.
“Sebagaimana dalam pengumuman MSCI, saat ini MSCI sedang melakukan assessment atas market transformacy reform yang sudah dilakukan dan juga saat ini MSCI meminta feedback kepada client dan pelaku pasar atas reformasi yang dilakukan di Pasar Modal Indonesia,” jelasnya.
Selain itu, kata Nyoman, BEI juga menyiapkan langkah berupa edukasi publik dan penyediaan layanan khusus (hotdesk) untuk menampung pertanyaan dan masukan investor.
“BEI akan terus melakukan edukasi kepada public dan pelaku pasar terkait market transparancy reform dan menjawab concern dari pelaku pasar dengan menyediakan hotdesk dedicated agar dapat menjalin komunikasi yang lebih intense dan accommodative,” ungkap Nyoman.
Terkait potensi penurunan klasifikasi pasar, Nyoman enggan memberikan pernyataan langsung mengenai risiko downgrade. Namun dia menyoroti respons positif pasar sejak reformasi diumumkan.
“Sejak penyelesaian market transparency reform diumumkan di tanggal 2 April 2026, kalau kita lihat IHSG sudah menunjukkan peningkatan sebanyak 8 persen dari 7.026 poin sampai dengan kemarin ditutup 7.559 poin,” ujarnya.
Menurutnya, peningkatan IHSG mencerminkan kepercayaan investor terhadap aksi reformasi yang dilakukan regulator.
Sebelumnya, MSCI dalam pembaruan terbarunya menyatakan tetap mempertahankan sejumlah kebijakan untuk saham Indonesia pada Review Indeks Mei 2026.
Kebijakan tersebut antara lain pembekuan kenaikan Foreign Inclusion Factors (FIF) dan Number of Shares (NOS), tidak adanya penambahan saham baru ke dalam MSCI Investable Market Indexes (IMI), serta tak ada perubahan klasifikasi ukuran saham.
MSCI juga menegaskan bakal menghapus saham yang masuk dalam kategori High Shareholder Concentration (HSC) dan memanfaatkan data keterbukaan pemegang saham di atas 1 persen untuk penyesuaian estimasi free float.





