Jakarta: Bicara haji bukan hanya dalam hitungan kuota dan juga jadwal penerbangan, tapi juga dalam bahasa mitigasi, skenario, dan perlindungan jemaah. Presiden secara terbuka meminta keselamatan dan keamanan jemaah dijadikan prioritas utama.
Dan Kementerian Haji menjawabnya dengan tiga hal, meningkatkan kualitas layanan, memperkuat mitigasi resiko, dan memastikan jemaah khususnya lansia dan kelompok rentan tidak berangkat sendirian, tapi benar-benar diantar oleh negara, dari rumah sampai kembali ke rumah.
Baca Juga :
Suasana Haru Sambut Kedatangan Kloter Pertama Calon Jemaah Haji di Tanah SuciArah kebijakan haji di tahun 2026 terang sekali. Haji yang ramah lansia, perempuan, dan disabilitas. Ini bukan sekedar tagline, tetapi diwujudkan dalam kuota khusus lansia 5?n penekanan haji ramah lansia di Manasik Nasional.
Dengan kata lain, sejak awal, negara memilih berpihak kepada mereka yang paling rentan, memastikan mereka jemaah tetap bisa beribadah dengan aman dan nyaman.
Komitmen itu nggak berhenti di tataran teknis, tapi datang langsung dari puncak, dari Presiden. Dalam konferensi pers di kantor Staff Presiden, Menteri Haji dan Umroh menyampaikan pesan Presiden. Keselamatan dan kenyamanan dan keamanan jemaah sebagai prioritas utama. Ini yang kemudian menjadi dasar bagi semua skenario haji 2026. Dari desain layanan, penguatan petugas, sampai mitigasi di tengah konflik Timur Tengah.
Baca Juga :
Menhaj: Petugas Haji Harus Kedepankan Semangat MelayaniKalau kita lihat ke lapangan, kita paham kenapa keberpihakan itu penting. Wajah jemaah haji Indonesia hari ini adalah wajah orang tua yang menunggu antrian belasan hingga puluhan tahun. Dari sekitar 203.000 jemaah reguler Indonesia tahun ini, lebih dari 177.000 dikategorikan berusia tinggi atau beresiko tinggi, lansia atau memiliki penyakit penyerta. Angka ini bukan sekedar statistik.
Di baliknya ada jemaah yang gak fasih bahasa asing, tidak terbiasa berpergian jauh, dan tidak akrab dengan aplikasi digital. Sehingga tantangan haji Indonesia tahun ini bukan lagi sekedar soal kuota dan keberangkatan, tetapi bagaimana mayoritas jemaah yang rentan ini bisa dijaga tetap aman, sehat, dan mampu menuntaskan ibadah dengan baik. Karena itu penyelenggaraan haji 2026 menuntut layanan yang lebih protektif, personal, dan lebih disiplin dalam mitigasi resiko.
Negara hadir dari bandara asal
Nah, karena itu, sejak dari bandara keberangkatan, negara mencoba mengurangi beban jemaah, terutama lansia, melalui layanan Fast Track atau Mekahrut yang membuat proses imigrasi Saudi sudah selesai di Indonesia, sehingga mereka tidak lagi harus antri panjang saat tiba di Jeddah atau Madinah. Diembarkasi jalur cepat, kursi roda, jarul ladai, dan ruang tunggu prioritas disiapkan khusus untuk jemaah, lansia, dan kelompok rentan.
Di atas semua itu, petugas mendampingi dan menjelaskan setiap prosedur dengan cara yang sederhana dan mudah dipahami, agar jemaah yang membutuhkan bantuan lebih intensif tetap merasa tenang dan tidak berjalan sendirian.
Dengan profil jemaah yang mayoritas lansia dan memiliki penyakit kronis, pemerintah enggak hanya menyiapkan layanan kesehatan di Tanah Suci, tapi juga mengimbau jemaah, membawa tas obat pribadi dari rumah. Di dalamnya, harus ada obat rutin untuk sekitar 40 hari. Obat tekanan darah misalnya diabetes, jantung, atau asam, yang sesuai dengan penyakit masing-masing, disimpan dalam kemasan asli dan dilengkapi resep atau surat dokter.
Di samping itu, juga ada tas obat pribadi, juga diisi obat dasar seperti obat demam, nyeri, diare, dan oralid, flu, dan batuk ringan. Obat mah, obat alergi, serta obat atau krim untuk masalah kulit. Bagi lansia, sejumlah panduan juga menyarankan membawa alat pemantauan sederhana seperti glukometer, tensimeter, kemudian juga portable, ya tensimeter yang portable, dan juga karmometer agar kondisi kesehatan bisa diawasi sejak awal.
Tas kecil ini menjadi bekal pertolongan pertama sebelum jemaah bertemu tenaga medis di tengah padatnya rangkaian ibadah. Nah, begitu mendarat di tenaga suci, tantangan bergeser dari antre menjadi arus. Dalam lima hari, jutaan jemaah harus menuntaskan tawaf, syai, hukuf di Arafah, mabit di Musdalifah, dan lempar jumroh di Minah.
Skema pergerakan dari teknis ke perlindungan
Dengan waktu yang nyaris bersamaan, tanpa pengaturan yang rapi, pergerakan ini bisa berubah dari rangkaian ibadah menjadi banjir manusia. Di titik inilah, peran negara dibutuhkan untuk membaca resiko lebih awal dan menata pergerakan jemaah sebaik mungkin. Nah, untuk mencegah hal itu terjadi, Indonesia dan otoritas Saudi memakai rem halus bernama murur dan tanazul.
Murur ini mengatur agar sebagian rombongan hanya melintas di titik-titik tertentu tanpa berhenti lama, sehingga kebaratan tidak terkonsentrasi di satu titik. Mengatur agar sebagian jemaah cukup melintas di Musdalifah tanpa berhenti. Kemudian yang kedua adalah tanazul.
PPIH, garda depan di Tanah Suci
Mengatur gelombang jemaah dari Minah ke Mekah, kloter demi kloter, dan di balik istilah teknis ini, ada pilihan sadar bahwa negara berupaya mengelola setiap resiko dengan lebih terukur, agar ibadah jemaah tetap berlangsung seaman dan setenang mungkin. Pada akhirnya, semua kebijakan itu dilakukan oleh petugas haji, petugas penyelenggara ibadah haji atau PPIH di lapangan. Ada semua desain layanan itu dijalankan oleh lebih dari petugas yang disebar di berbagai sektor.
Tugas mereka jelas memprioritaskan layanan bagi lebih dari 177.000 jemaah beresiko tinggi, terutama lansia dan kelompok rentan. Mereka lain memastikan skema murur dan tanazul berjalan sambil memantau pergerakan jemaah rentan dari titik ke titik. Dan di atas semuanya, ada satu garis merah yang harus dijaga.
Digitalisasi: Kemudahan yang hari dijembatani
Pelayanan kepada jemaah harus adil, manusiawi, dan bebas dari penyelahgunaan womenang. Di sisi lain layanan haji kini juga makin digitalisasi kemudahan yang harus dijembatani. Salah satunya melalui aplikasi Haji Pintar dan Nusuk.
Jemaah dapat mengakses jadwal, rute transportasi, lokasi pemundokan, layanan ibadah, hingga informasi kesehatan langsung dari gawai mereka. Sistem ini diperkuat oleh kartu identitas yang ber-QR Code dan gelang haji yang wajib dipakai agar identitas serta data penting jemaah bisa dikenali dengan cepat. Namun, bagi jemaah lanjut usia yang belum terbiasa dengan aplikasi, peran tugas dan pendamping klotar tetap menjadi penopang utama layanan di lapangan.
Mengantar, bukan hanya melepas
Musim haji 2026 mengajarkan kita bahwa tugas negara tidak berhenti pada mengirim sebanyak mungkin jemaah ke Tanah Suci. Tugas itu baru tuntas ketika jemaah bisa bergerak dengan aman, beribadah dengan tenang, dan kembali ke rumah dengan selamat.
Negara yang benar-benar hadir bukan hanya yang melepas warganya menuju Mekah, tetapi yang ikut memikirkan setiap langkah kaki mereka dari Bandara Keberangkatan, di tengah Padang Arafah, sampai kembali menjejak di ruang tamu rumah masing-masing.
Sumber: Redaksi Metro TV




