Di Makassar, Sulawesi Selatan, kemarau seperti datang lebih cepat. Air bersih mulai sulit didapatkan, bahkan sebelum El Nino “Godzilla” sepenuhnya datang.
Di sebuah gang sempit di Makassar, Ny Rabiah (50), terpaksa membilas cucian dalam ember kecil berisi air yang mulai keruh. Tumpukan pakaian di depannya jauh lebih banyak daripada air yang bisa ia gunakan sore itu.
“Mau bagaimana lagi. Sejak akhir Maret lalu, air PDAM sudah mulai tidak mengalir,” kata Rabiah, warga Kelurahan Patingalloang Baru, Kecamatan Ujung Tanah.
Selama ini, air negara menjadi satu-satunya harapan. Di Patingalloang Baru, tidak ada gunanya membuat sumur bos. Airnya tanah sudah kuning dan berbau. Akibatnya, saat air PDAM tidak menyala, tidak ada pilihan selain mengecer air dalam jeriken.
“Semua air untuk keperluan hidup harus kami beli. Semua harus diirit-irit bila tidak ingin menghabiskan banyak uang,” kata dia.
Rabiah membutuhkan sekitar 25 jeriken per hari, tergantung sedang ada berapa orang di rumahnya, untuk minum, memasak, hingga urusan MCK. Untuk 1 jerikan berukuran 20 liter, dia membelinya Rp 1.000.
Akan tetapi, kadang air sebanyak itu tetap tidak cukup, terutama bila ada kerabat datang berkunjung. Bila sudah begitu, ia membawa pakaian kotor ke rumah kerabatnya di Bollangi Kecamatan Pattalassang, Kabupaten Gowa.
“Jaraknya dari sini 30 kilometer. Dua jam perjalanan pulang pergi. Baju kotor saya bawa dalam karung,” katanya.
Yuddin (55), warga Tallo, Makassar, mengatakan, harga Rp 1.000 per jeriken sepintas terlihat murah. Namun, bila dilakukan setiap hari dan menghitung ongkos yang diperlukan untuk membeli air, nominal besar bakal terpampang di depan mata.
Untuk membeli 30 jerikan per hari, Yuddin yang bekerja sebagai pedagang kecil ini harus mengeluarkan Rp 30.000 atau Rp 900.000 per bulan. Ditambah ongkos beli air Rp 15.000 per hari, maka dalam sebulan dia harus mengeluarkan nyaris Rp 1,5 juta hanya untuk air.
Saya beli 30 jeriken setiap hari dan sekali angkut pakai motor, tiga jeriken. Artinya harus 10 kali bolak-balik. Belum lagi diangkat dan diturunkan dari motor,” kata Yuddin yang bisa membeli air di Jalan Barukang di Kecamatan Tallo.
Warga Jalan Barukang boleh dibilang beruntung. Lokasi sebagian rumah dekat dengan pipa besar PDAM. Sepanjang tahun air mengalir. Warga tidak kekurangan air.
Sebagian warga memanfaatkan kemudahan itu dengan bisnis jual air. Salah satunya dilakukan Sahidah (55), yang menjual air sejak 2019.
“Biasanya tagihan saya sekitar Rp 2 juta setiap bulan. Tak untung banyak dari menjual air. Cukup bisa bayar tagihan air dan tambah-tambah bayar listrik,” kata Sahidah.
Meski begitu, Sahidah tidak keberatan. Dia beralasan, tidak ngotot mencari untung besar. Dia berjualan lebih karena iba pada warga yang kesulitan air bersih. Sebelum tinggal di Barukang, ia mengklaim pernah tinggal di daerah sulit air.
Solidaritas Sahidah, tampaknya bakal semakin dibutuhkan warga tahun ini. Sekarang, kemarau diklaim warga datang lebih awal. Biasanya air bersih mulai tidak mengalir memasuki Juni atau Agustus. Namun, saat ini, air sudah mulai tidak ngocor sejak akhir Maret.
Selain itu, BMKG memprediksi kemarau bakal berlangsung lebih lama. Fenomena El Nino “Godzilla” dituding menyebabkannya.
El Nino "Godzilla" adalah sebutan untuk fenomena ekstrem atau sangat kuat yang disebut melanda Indonesia mulai April 2026. Dinamai "Godzilla", seperti mitos monster, karena kekuatannya yang masif dan dampak destruktifnya.
Fenomena ini menyebabkan suhu laut di Samudra Pasifik naik sangat tinggi, memicu kemarau panjang, kekeringan, dan risiko kebakaran hutan yang serius di Indonesia.
Sebelumnya pada 2023, El Nino juga membuat Makassar mengalami darurat air bersih dan kebakaran. Saat itu hingga November, terjadi sedikitnya 359 kejadian kebakaran.
Pembangkit listrik tenaga air milik PLN di sejumlah daerah di Sulawesi Selatan juga mengalami penurunan debit air. Akibatnya terjadi pemadaman bergilir yang masif.
Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin meminta BPBD Dinas Pekerjaan Umum, Dinas Pemadam Kebakaran, Dinas Kesehatan, Dinas Sosial, hingga seluruh camat se-Kota Makassar siaga. Langkah antisipasi juga disiapkan, seperti menyiapkan posko untuk air bersih dan penanganan kebakaran yang ditunjang 60 armada.
Kepala Pelaksana BPBD Makassar, Fadli Tahar, menjelaskan saat ini BPBD Makassar telah memetakan sedikitnya enam kecamatan yang diprediksi mengalami dampak paling signifikan, yakni Kecamatan Tallo, Panakkukang, Tamalanrea, Biringkanaya, Manggala, dan Ujung Tanah.
"Krisis air menjadi dampak paling awal dan paling terasa. Bahkan di musim hujan saja, beberapa wilayah seperti Tallo sudah mengalami kekurangan air bersih," katanya.
Sementara itu Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kota Makassar Fadli Wellang, memastikan telah menyiapkan langkah antisipatif dengan mengaktifkan tujuh posko siaga yang tersebar di berbagai titik strategis. “Fokus utama adalah potensi kebakaran dan kekeringan," kata dia.
Tujuh posko tersebut terdiri dari satu posko induk di Jalan Ratulangi serta enam posko pendukung yang berada di kawasan Akarena, Ujung Tanah, Kawasan Industri Makassar, Tamalanrea, Todopuli, dan Manggala.
“Kami juga akan mendistribusikan airpada warga bersama PDAM Makassar. Titik, volume, dan jadwalnya akan kami atur sesuai kebutuhan,” kata dia.
Segala rencana mitigasi dirancang menghadapi “amukan Godzilla”. Namun, ketika itu dirapatkan, Rabiah sudah merasakan dampaknya. Tumpukan cucian hingga air bilasan yang masih keruh menjadi buktinya.





