Ketua Satgas Imunisasi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Hartono Gunardi, mengingatkan bahaya penyakit campak pada anak. Ia menegaskan campak bukan sekadar penyakit ringan.
“Penyakit campak itu bukan sekadar merah—demam dengan bercak merah biasa, tapi bisa menyebabkan komplikasi macam-macam,” kata Hartono di Kantor Kemenkes, Jakarta, Kamis (23/4).
Ia menjelaskan salah satu komplikasi serius adalah radang paru-paru yang bisa berujung fatal pada anak.
“Antara lain 1 dari 20 anak yang menderita campak akan menderita radang paru-paru. Radang paru-paru ini merupakan penyebab kesakitan maupun kematian yang terbanyak pada anak balita,” ujarnya.
Selain itu, campak juga berisiko menyebabkan radang otak hingga kejang dan penurunan kesadaran.
“Di samping itu campak ini bisa mengakibatkan radang otak, anaknya kejang-kejang, tidak sadar, dan kalaupun sembuh—mohon maaf sebagian tentu tidak bisa tertolong—bila sembuh dia seringkali mempunyai gejala sisa,” tuturnya.
Hartono menegaskan imunisasi merupakan cara paling aman untuk mencegah penyakit menular sekaligus melindungi lingkungan sekitar.
“Jadi imunisasi merupakan salah satu upaya yang paling aman untuk mencegah penyakit infeksi yang dapat dicegah imunisasi. Bukan hanya melindungi dirinya tapi juga melindungi keluarga lain,” kata dia.
Sementara itu, Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) Dante Saksono Harbuwono menegaskan pentingnya imunisasi di tengah masih rendahnya cakupan vaksinasi anak di Indonesia. Ia menyebut imunisasi merupakan investasi kesehatan jangka panjang yang murah tetapi efektif mencegah penyakit.
“Jadi imunisasi ini adalah kegiatan vaksinasi, investasinya murah tapi bisa mencegah penyakit yang akan timbul di masa depan yang lebih berat,” kata Dante.
Dante mengungkapkan saat ini masih ada lebih dari satu juta anak yang belum mendapatkan imunisasi. Padahal, akses layanan vaksinasi dinilai sudah semakin mudah hingga ke tingkat Posyandu.
“Jadi sebenarnya tidak ada halangan akses lagi masyarakat untuk imunisasi. Tapi memang masih ada satu juta lebih anak-anak yang tidak diimunisasi,” ujarnya.
Menurut dia, salah satu penyebabnya adalah masih adanya misinformasi di masyarakat yang menganggap imunisasi berbahaya. Ia menegaskan seluruh vaksin telah melalui uji klinis sebelum digunakan.
“Nah teman-teman tolong dong, teman-teman media ini untuk meluruskan hal-hal tersebut. Bahwa semua imunisasi yang diberikan di tempat kita sudah melalui serangkaian uji klinis yang melihat efektivitas, efikasi, dan efek samping,” tuturnya.
Dante juga membantah berbagai hoaks terkait efek samping vaksin, termasuk yang dikaitkan dengan vaksin COVID-19.
“Yang jelas bahwa vaksinasi itu tidak punya efek samping karena sudah ada studi jangka panjang,” ucapnya.





