Masa Depan AI Ditentukan Manusia, Bukan Teknologinya

kompas.id
4 jam lalu
Cover Berita

Perkembangan akal imitasi atau AI yang semakin pesat, bagai pisau bermata dua bagi masa depan manusia. Satu sisi, AI membantu kerja hingga keseharian manusia, tetapi di sisi lain teknologi ini melampaui batas-batas kemanusiaan.

Dalam bidang kesehatan, misalnya, AI mampu mempercepat pengembangan vaksin Covid-19 hanya dalam waktu satu tahun atau jauh lebih cepat dibandingkan proses konvensional yang bisa memakan waktu hingga delapan tahun. AI juga membuka peluang besar dalam diagnostik medis dan telekonsultasi, terutama bagi negara kepulauan seperti Indonesia.

Namun, di balik manfaat tersebut, ada tantangan serius terkait kekuasaan dan ketimpangan global. Asisten Direktur Jenderal Sosial dan Ilmu Humaniora UNESCO, Gabriela Ramos mengungkapkan bahwa sebagian besar inovasi AI masih terkonsentrasi di segelintir negara dan perusahaan. Dominasi ini dapat memengaruhi perspektif budaya dan nilai yang tertanam dalam teknologi.

"Untuk negara berkembang, masalahnya adalah kita hanya akan mengambil teknologi seperti yang mereka miliki, yang bias dengan konteks dan nilai lokal, kultur dan bahasa Indonesia mungkin tidak ada di dalamnya," kata Gabriela dalam diskusi bertajuk CSIS Digital Tech Lecture Series yang digelar oleh Center for Strategic and International Studies (CSIS), di Jakarta, Rabu, (22/4/2026).

Selain Gabriela, diskusi ini turut dihadiri Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Stella Christie sebagai pembicara.

Baca JugaAI Bisa Memprediksi Seseorang yang Berisiko Kanker Pankreas

Salah satu fenomena yang menjadi sorotan adalah belakangan manusia mulai memperlakukan AI selayaknya sesama manusia, seperti menjadikannya sebagai terapis, penasihat, bahkan sahabat. Di balik fenomena ini ada risiko penyalahgunaan data, manipulasi emosi, hingga ancaman terhadap demokrasi.

Mengajarkan anak-anak bagaimana menggunakan AI bukanlah hal yang paling penting.

Dampak sosial juga menjadi perhatian utama, terutama terkait pekerjaan dan pendidikan. Meski AI diprediksi menciptakan lebih banyak lapangan kerja, proses transisi dinilai tidak mudah. Banyak pekerja harus beradaptasi dengan keterampilan baru di tengah perubahan yang sangat cepat.

Sebagai jalan keluar, Gabriela mendorong pendekatan berbasis nilai dengan menempatkan hak asasi manusia, keadilan, dan kesejahteraan sebagai fondasi utama penggunaan AI. Tanggung jawab dan akuntabilitas dalam setiap dampak yang dihasilkan AI menjadi hal mutlak.

Baca JugaAI Menguji Esensi Jurnalisme

Dengan begitu, kecanggihan perkembangan teknologi AI ini tetap harus berada di bawah kendali manusia. Masa depan AI akan sangat ditentukan oleh bagaimana manusia memilih untuk mengarahkannya.

“Masa depan AI adalah pilihan manusia. Ia tidak predeterminasi. Kita memiliki pikiran dan alat. Jadi saya yakin kita bisa mengubahnya menjadi lebih baik,” ucap Gabriela.

Manusia tetap unggul

Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Stella Christie pun menambahkan, bahwa hingga saat kini AI masih bergantung pada data dalam jumlah besar. Sementara itu, manusia mampu belajar secara efisien hanya dari sedikit pengalaman.

Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan manusia untuk menyaring dan mengelola data yang sangat kecil adalah keunggulan yang tidak boleh dihilangkan. Keunggulan manusia inilah yang harus dijaga dan satu-satunya cara menjaganya adalah melalui sistem pendidikan.

Baca JugaAI Tumbuh Pesat di Indonesia, tapi Kesenjangan Adopsi Masih Menganga

Meski demikian, Stella mengingatkan bahwa manfaat AI tidak akan datang secara instan, sedangkan dampak negatifnya bisa dirasakan lebih cepat. Karena itu, intervensi dan pengelolaan harus dilakukan sejak dini.

“Kejahatan atau risiko AI itu terlihat sekarang, tetapi kebaikannya tidak datang sekarang, melainkan jangka panjang. Dan jika kita menunggu terlalu lama, mungkin sudah terlambat. Itulah mengapa intervensi harus datang sekarang, dan kita harus benar-benar memahami serta menguasai AI," ucap Stella.

Dalam konteks Indonesia, ia menilai tantangan terbesar bukan sekadar adopsi teknologi, melainkan bagaimana memanfaatkannya secara strategis. Ia menekankan pentingnya fokus pada pengembangan talenta dan menentukan prioritas. Bahkan, Stella menyoroti terhadap pendekatan pendidikan yang terlalu dini mengajarkan penggunaan AI kepada siswa.

"Ini mungkin terdengar mengejutkan, tetapi mengajarkan anak-anak bagaimana menggunakan AI bukanlah hal yang paling penting. AI akan berubah dalam waktu sangat cepat. Ini adalah investasi yang salah jika kita fokus pada itu di tingkat sekolah dasar. Yang seharusnya kita lakukan adalah mengajarkan guru-guru bagaimana menggunakan AI," katanya.

Mengajarkan anak-anak bagaimana menggunakan AI bukanlah hal yang paling penting.

Baca JugaAI Dapat Membantu Pembelajaran Siswa jika Digunakan secara Tepat

Untuk itu, Stella ingin membalik cara pandang terhadap AI. Bukan sekadar mengadopsi teknologi, tetapi mengoptimalkan teknologi tersebut menjawab kebutuhan nyata bangsa. Dia menegaskan, masa depan AI di Indonesia tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologi, tetapi oleh kejelasan visi, kekuatan manusia, dan keberanian untuk menentukan arah sendiri.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Rekomendasi Popok Clodi dan Harganya
• 3 jam lalukumparan.com
thumb
Demokrat Nilai Parliamentary Threshold 4 Persen Ideal dan Tak Memberatkan
• 8 jam lalukumparan.com
thumb
Kisah Kucing dan Sugar Glider Menjadi Selebritas Baru di Media Sosial
• 5 jam lalukompas.com
thumb
Bangun Citra Positif, Kapolda Riau Dorong Personel Lebih Peka dan Adaptif
• 23 jam laludetik.com
thumb
Kembali Longsor, Perjalanan Kereta Cianjur-Sukabumi Dibatalkan Semua
• 9 jam lalurepublika.co.id
Berhasil disimpan.