VIVA – Kepala Staf Angkatan Laut Italia Laksamana Giuseppe Berutti Bergotto mengatakan Italia telah mempersiapkan empat kapalnya untuk kemungkinan pengerahan dalam rangka misi pembersihan ranjau di Selat Hormuz.
"Rencana yang diusulkan Kepala Staf Umum Angkatan Bersenjata, untuk berjaga-jaga, mencakup pembentukan suatu grup yang terdiri dari dua kapal penyapu ranjau, unit pengawal, dan unit pendukung logistik, yang akan memungkinkan kami memperpanjang periode tugas," kata Berutti Bergotto kepada saluran Rai1 Italia, seperti dilansir dari Antara, Kamis, 23 April 2026.
- Reuters
"Totalnya akan ada empat kapal," ucap dia, menambahkan.
Partisipasi Italia dalam rencana misi tersebut disiapkan dalam kerangka koalisi internasional, ujar Kepala Staf AL Italia itu.
Ia menambahkan bahwa sejumlah negara lain, termasuk Prancis, Inggris, Belanda, dan Belgia, juga akan mengerahkan kapal penyapu ranjau mereka ke Selat Hormuz.
Pada 28 Februari, AS dan Israel melancarkan serangan terhadap sejumlah target di Iran, termasuk di Teheran, yang menyebabkan kerusakan dan korban sipil.
Iran kemudian membalas dengan menyerang wilayah Israel serta fasilitas militer AS di Timur Tengah sebagai bentuk pertahanan diri.
Eskalasi tersebut menyebabkan terhentinya pelayaran di Selat Hormuz yang menjadi rute kunci bagi pasokan minyak dan gas alam dari negara-negara Teluk Persia ke pasar global.
Situasi tersebut mengakibatkan harga minyak di banyak negara melonjak.
Sebelumnya, Angkatan Laut Amerika Serikat menggunakan robot untuk membersihkan Selat Hormuz dari ranjau guna memulihkan pelayaran di jalur air tersebut bagi kapal-kapal komersial, demikian dilaporkan The Wall Street Journal pada Minggu 19 April 2026.
Pada akhir Maret lalu, CBS News, yang mengutip pejabat AS, melaporkan ada sekitar selusin ranjau bawah laut yang diduga telah ditanam oleh Iran di seluruh Selat Hormuz.
- ANTARA/Anadolu
Pejabat terkait AS menuduh bahwa Iran mengerahkan ranjau laut Maham 3 dan Maham 7 buatan Iran, yang menggunakan sensor magnetik dan akustik untuk mendeteksi kapal-kapal di dekatnya tanpa kontak.
Militer AS menggunakan drone udara dan laut yang dilengkapi dengan sonar untuk mendeteksi ranjau yang mungkin berada di dasar selat, kata laporan itu. Angkatan laut AS juga menggunakan kombinasi sistem berawak dan tanpa awak, kata seorang pejabat pertahanan AS kepada surat kabar tersebut.





