Perang Amerika-Iran Kembali Panas, Rupiah Ditutup Loyo ke Rp17.286 per Dolar AS

bisnis.com
3 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA – Nilai tukar rupiah ditutup melemah 0,61% atau 105 poin ke Rp17.286 per dolar AS pada perdagangan Kamis (23/4/2026). Di sisi lain, indeks dolar AS melemah 0,06% ke 98,65.

Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi mengatakan pelemahan rupiah lebih dalam dari perkiraan awal. Bahkan, rupiah sempat berada di posisi Rp17.300 per dolar AS dalam intraday perdagangan hari ini.

"Kemungkinan besar di akhir April 2026, atau pekan depan tembus di Rp17.400 per dolar AS. Level Rp17.400 ini sebenarnya ekspektasi akhir 2026, tapi kenyataannya di bulan April ini sudah ada di level itu," kata Ibrahim kepada awak media, Kamis (23/4/2026).

Ibrahim menjelaskan rupiah tertekan oleh kondisi geopolitik global, di mana upaya damai Amerika Serikat (AS) dengan Iran menemui jalan buntu. Pekan ini mulanya AS dan Iran akan bertemu dan dimediasi oleh Pakistan, namun rencana tersebut gagal lantaran Iran tak datang.

Alasannya adalah karena Iran menganggap AS mengkhianati kesepakatan gencatan senjata dengan menangkap kapal tanker milik Iran di kawasan Selat Hormuz. Permintaan Doland Trump juga dinilai tak menguntungkan Iran, yaitu meminta menyetop pengayaan uranium dan menyerahkannya ke AS serta membebaskan tarif jalur Selat Hormuz.

"Iran siap melakukan perang dalam jangka panjang dan sudah tidak percaya lagi terhadap Amerika," ujarnya.

Baca Juga

  • Stabilitas Jadi Prioritas, Bank Indonesia Siap Tempuh Upaya Lanjutan Demi Rupiah
  • Rupiah Lanjut Melemah, BI Tingkatkan Intervensi, Airlangga: Kita Monitor
  • Rupiah Melemah, Simak Kurs Dolar AS di BCA, BRI, Mandiri, dan BNI Hari Ini (23/4)

Bagai jatuh tertimpa tangga, kondisi fiskal domestik juga dalam posisi sulit menahan pelemahan rupiah. Perang global membuat harga minyak Brent bertengger di US$103 per barel dan minyak WTI di US$98 per barel. Padahal, dalam APBN 2026 harga minyak dunia ditaksir di level US$70 dan batas atas yang bisa ditolerir sebesar US$92 per barel.

Kondisi tersebut membuat pemerintah merogoh kocek lebih dalam sebagai negara net importir minyak. Dalam APBN 2026, pemerintah menetapkan rupiah ada di level Rp16.500 per dolar AS. Mahalnya harga minyak global berisiko terhadap pelebaran defisit APBN.

"IMF sudah mengatakan agar Indonesia tidak terlalu banyak mensubsidi barang-barang, sehingga ini akan membuat rupiah kembali mengalami pelemahan," tandasnya.

INDONESIAN RUPIAH / U.S. DOLLAR - TradingView

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
MSCI Bekukan Saham RI, BEI: IHSG Malah Naik 8%
• 22 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Kasus Korupsi Ketua Ombudsman RI, Kejagung Periksa 15 Saksi
• 7 jam laluokezone.com
thumb
RI Kecam Israel Pasang Spanduk "Rising Lion" di RS Indonesia di Gaza
• 22 jam lalukumparan.com
thumb
Wapres Gibran Tinjau Ekonomi Maritim Papua Barat
• 10 jam lalutvrinews.com
thumb
Pantas Amran Bilang RI Aman Saat El Nino, Stok Beras Cukup 15 Bulan
• 3 jam lalucnbcindonesia.com
Berhasil disimpan.